Kamis, 18 Oktober 2018

Ingin Bersama Rasulullah di Surga? Ini Caranya

[Foto Ilustrasi]
Kamis, 11 Okt 2018 | 18:59 WIB - Mozaik Islami

Rabiah bin Kaab al-Aslami radhiyallahuanhu, berkata, "Aku pernah bermalam bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, lalu aku menyiapkan air wudhu dan keperluan beliau. Lalu beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda kepadaku, "Mintalah sesuatu!" Maka sayapun menjawab, "Aku meminta kepadamu agar memberi petunjuk kepadaku tentang sebab-sebab agar aku bisa menemanimu di Surga". Beliau menjawab, "Ada lagi selain itu?". "Itu saja cukup ya Rasulullah", jawabku. Maka Rasulullah bersabda, "Jika demikian, bantulah aku atas dirimu (untuk mewujudkan permintaanmu) dengan memperbanyak sujud (dalam salat)". (HR. Muslim, No. 489).

Penjelasan dan beberapa faedah yang bisa dipetik

1. Syaikh Bin Baz rahimahullah ketika menjelaskan, "Maknanya adalah Aku meminta kepadamu agar memberi petunjuk kepadaku tentang sebab-sebab agar aku bisa menemanimu di Surga." (http://www.binbaz.org.sa/mat/10229).

Syaikh Muhammad Shaleh Al-Munajjid hafizhahullah mengatakan, "Dan makna adalah meminta kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk mendoakannya dengan itu (agar bisa menemani Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di Surga)".

Karena memang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak memiliki kemampuan memasukkan orang ke dalam Surga dan hanya Allah-lah yang mampu memasukkan seseorang ke dalam Surga. Bahkan Allah Taala telah memerintahkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk mengatakan bahwa beliau tidak memiliki manfaat untuk diri beliau sendiri dan tidak bisa menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah.

"Katakanlah Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah" (Al-Araaf: 188).

2. An-Nawawi rahimahullah, "Di dalamnya terdapat motivasi untuk memperbanyak sujud dan mendorongnya. Dan yang dimaksud dengan sujud di sini adalah sujud dalam salat". (Syarah Shahih Muslim: 4/206).

Dalam sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berlaku kaidah tentang pemberian pahala bagi pelaku sebuah amal soleh, "Barangsiapa yang menambah amalan, maka Allah akan menambah kebaikan baginya (pahala), dan barang siapa yang kurang dalam beramal, maka akan kurang pula pahalanya sesuai dengan amalannya (yang kurang)".

Maksudnya bahwa amal salih dan pahala itu berbanding lurus, semakin banyak atau tinggi kualitas amalan itu, maka semakin besar pahalanya, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, semakin Anda menjaga baik salat-salat Anda yang wajib dan memperbanyak salat-salat sunnah, maka semakin besar kesempatan Anda untuk menemani Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di Surga dan semakin lama dan besar bentuk "menemani beliau" shallallahu alaihi wa sallam tersebut.

Jadi pengaruh sujud dalam meraih pahala menemani Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di Surga di sini tergantung kuantitas dan kualitasnya.

Yang menunjukkan kuantitas, contohnya: "Maka sesungguhnya tidaklah engkau sujud kepada Allah dengan satu sujud saja, melainkan Allah akan mengangkat dengan sebabnya satu derajat dan menggugurkan darimu satu kesalahan, dengan sebabnya (pula)". (HR. Muslim no. 488).

Syaikh Abdul Karim Al-Khudoir hafizhahullah (Anggota Hai`ah Kibarul Ulama KSA) berkata, "Ini menunjukkan bahwa salat sunnah mutlak yang dilakukan seseorang pada saat malam ataupun siang tidaklah ada batasan rakaatnya. (Jadi sekali lagi), tidaklah ada batasan rakaatnya. Jika demikian, bantulah aku atas dirimu (untuk mewujudkan permintaanmu) dengan memperbanyak sujud, maka semakin banyak sujudnya (dan rakaatnya), semakin besar pula peluang dikabulkan (harapan bisa menemani Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di Surga)".

Adapun yang menunjukkan kualitas adalah seperti yang tercermin dalam perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah:

"Jika salahsatu sujud lebih utama kualitasnya dari yang lainnya, maka derajat yang terangkat dengan sebabnya lebih tinggi dan dosa yang digugurkan dengan sebabnya lebih besar (pula). Sebagaimana sujud yang lebih besar kekhusyuannya dan kehadiran hatinya nilainya lebih utama dari selainnya Maka, demikian pula dengan sujud (seseorang) yang panjang, yang nampak ketaatannya kepada Rabb nya lebih utama daripada sujud yang pendek".

Berarti kesimpulannya adalah ditinjau dari sisi kualitas sujud, semakin panjang dan khusyu sebuah sujud, menyebabkan semakin tinggi tingkatan menemani Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di Surga.

3. Makna "menemani Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di Surga"

Seseorang menemani Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di Surga, tidak mengharuskan makna bahwa ia mendapatkan kedudukan di Surga yang sama persis dengan kedudukan yang dipersiapkan untuk Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Sebab, beliau mendapatkan kedudukan di Surga yang khusus, yang kedudukan tersebut tidak untuk yang selainnya.

Yang dimaksud dengan menemani Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di Surga adalah bersama dengan beliau, dekat dengannya, melihatnya atau bertemu dengannya dan tidak berpisah dengannya.

Syaikh Muhammad Shaleh Al-Munajjid hafizhahullah berkata, "Karena menemani (Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di Surga) itu sendiri bertingkat-tingkat, maka di antara manusia ada yang mendapatkan kenikmatan berupa menemani beliau alaihish shalatu was salam dengan sempurna, dan dekat dengan beliau di Surga, Ada pula di antara mereka yang mendapatkan kenikmatan berupa berjumpa atau melihat beliau, (semua itu) sesuai dengan amal-amal salehnya" (Islamqa.info/ar/182700 ).

Ibnu Allan Asy-Syafii rahimahullah berkata, "(Maka sayapun menjawab, Aku meminta kepadamu agar memberi petunjuk kepadaku tentang sebab-sebab agar aku bisa menemanimu di Surga") maksudnya adalah agar aku bisa bersamamu, dekat denganmu, merasakan kenikmatan memandangmu dan berdekatan denganmu hingga aku tidak berpisah darimu.

Dengan demikian, di sini tidak ada kesulitan memahami bahwa kedudukan Al-Wasilah itu merupakan kedudukan khusus untuk beliau, para Nabi yang lainnya tidak mendapatkannya, sehingga tidak ada satu pun nabi yang diutus yang bisa menyamai beliau di dalam kedudukannya tersebut, apalagi selain para nabi. Karena yang dimaksud (dengan 'menemani' di sini) yaitu meraih satu tingkatan dari tingkatan-tingkatan kesempurnaan kedudukan 'dekat dengan beliau', maka diungkapkanlah hal ini dengan istilah 'menemani'. (Dalilul Falihin: 1/392). [Ustaz Said Abu Ukasyah/lnilah]

Redaktur: Arif Soleh
Bagikan:

LAINNYA

Silahkan Pilih, Ingin Pujian atau Celaan?
Rabu, 17 Okt 2018 | 03:40 WIB
Silahkan Pilih, Ingin Pujian atau Celaan?
Marah Pertanda Tunduknya Kita kepada Setan
Senin, 15 Okt 2018 | 23:58 WIB
Marah Pertanda Tunduknya Kita kepada Setan
Membalas Keburukan dengan Kebaikan
Senin, 15 Okt 2018 | 23:41 WIB
Membalas Keburukan dengan Kebaikan

KOMENTAR

Ingin Bersama Rasulullah di Surga? Ini Caranya

PEMERINTAHAN

210 dibaca
ASN Pemprov Banten jangan Main-main dalam Absen
269 dibaca
HUT Ke-492, Pemkab Serang Diminta Perkuat Ekonomi Desa
246 dibaca
Dilantik, Pj Walikota Serang Diminta Perbaiki Jalan

POLITIK

128 dibaca
Pemilu 2019, Andika Ajak Masyarakat Cek Data Diri Sebagai Pemilih
415 dibaca
Ratusan Buruh Cikoja Deklarasi Pemilu Damai 2019
322 dibaca
Serempak di 29 Kecamatan, KPU Kabupaten Serang Lakukan GMHP

HUKUM & KRIMINAL

287 dibaca
6 Oknum Anggota Ormas Pengeroyok Polisi Terancam 7 Tahun Penjara
310 dibaca
Pengguna dan Pengedar Narkotika, Tiga Warga Cilegon Diringkus
215 dibaca
Alfamart Dibobol Maling, Uang Rp60 Juta Raib

PERISTIWA

155 dibaca
Polres Serang Kota Sita 3500 Lebih Botol Miras
184 dibaca
Tim PFA Dompet Dhuafa Pulihkan Anak-anak Pasca Gempa-Tsunami Sulteng
218 dibaca
Warga Petir Ditemukan Tewas Gantung Diri

EKONOMI & BISNIS

166 dibaca
MoU dengan DP3AKKB, Bank Banten Dukung Pemberdayaan Perempuan
181 dibaca
Andika Launching Toko Online Industri Rumahan Sijelita
Top