Sabtu, 25 Mei 2019

Indonesia dalam Keadaan Gawat dan Darurat Apakah Benar?

Tiba Yuda Laksana
Kamis, 16 Mei 2019 | 21:54 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Tiba Yuda Laksana

Baru saja pelaksanaan pesta demokrasi telah dilaksanakan sebulan yang lalu, tepatnya pada tanggal 17 April 2019, sampai sekarang telah memasuki bulan suci Ramadhan dan masih terasa suasananya. Setelah dilaksanakannya Pemilu tersebut bangsa ini diguncang oleh beberapa Isu, karena ada beberapa pihak yang tidak puas akan hasil Pemilu tersebut.

Ketidak puasan itu terjadi karena ada hal ganjil yang terjadi dalam Pemilu tersebut, mulai dari banyaknya patugas KPPS yang meninggal Dunia hingga indikasi kecurangan pemilu. Korban (petugas KPPS) yang meninggal dunia sampai sekarang diketahui telah mencapai 500 Orang lebih dan 4.000 Orang lebih mengalami sakit.

Sebuah demokrasi yang harus dibayar dengan mahal oleh nyawa orang-orang yang menjadi petugas KPPS. Dan sanhgat disayangkan dari begitu banyak korban masih ada permasalahan lain yang mengindikasikan kecurangan pemilu pada tahun 2019 ini, koordinator relawan Informasi Teknologi (IT) BPN 02 Mustofa Nahrawardaya membawa lebih dari 73 ribu lembar temuan kesalahan dari input sistem hitung (situng) milik Komisi Pemilihan Umum (KPU).

“Sebanyak 73.715 kesalahan input data Situng atau sebesar 15,4 persen dari total 477.021 TPS yang telah di input. Data kesalahan ini kami capture dan bukti dibawa, diserahkan ke Bawaslu,” ujar Mustofa seperti dilansir oleh www.jurnalsocialsecurity.com

Sebuah angka kecurangan yang sangat menakjubkan, dari dampak keselahan yang dilakukan oleh penyelenggara pemilihan umum (red KPU) telah menimbulkan kurangnya kepercayaan publik. Sehingga memberikan rekasi kepada masyarakat untuk melakukan sebuah pergerakan untuk menegakan keadilan. Akhir-akhir ini yang sering kita dengar dengan istilah People Power.

Kemudian pertanyaan selanjutnya adalah tentang dimana urgensi bangsa Indonesia yang katanya berada dalam keadaan gawat dan darurat?

Jelas sekali bahwa kejadian tersebut akan menimbulkan reaksi kepada masyarakat yang tidak puas dengan hasil Pemilu tersebut, rakyat memiliki haknya untuk menegakan sebuah keadilan demi untuk melindungi bangsanya dari ketidak adilan. Dengan pergerakan rakyat ini lah Indonesia akan mengalami ancaman, karena disatu pihak masih ada juga yang mempertahankan dan menilai bahwa hasil pemilu tersebut sudah berjalan dengan adil sesuai dengan harapan.

Adanya kedua belah pihak ini akan menimbulkan gesekan bahkan konflik besar yang selanjutnya bermuara pada perpecahan bangsa Indonesia itu sendiri, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sebagai pengawas harus lah memiliki peranan penting dalam hal ini sebagai penengah dengan kajiannya sendiri sesuai dengan mandat yang diberikan, karena jika rakyat telah melakukan sebuah pergerakan ini artinya bahwa Bawaslu sendiri tidak lah mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Dan jangan sampai badan yang memiliki tugas sabagai pengawas malah ikut diawasi oleh masyarakat.

Sebuah Prediksi

Selanjutnya saya melihat dari jadwal yang telah ditentukan oleh KPU untuk mengumumkan hasil pemilihan umum tersebut akan mengalami kemunduran jadwal, paling tidak walau pun tepat dan sesuai dengan perencanaan hal ini akan memakan waktu panjang karena adanya proses gugatan serta penyelesaiannya. Apalagi Mahkamah Konstitusi (MK) kita hanya berjumlah 9 orang dan harus menyelesaikan sebuah gugatan pemilu yang jumlah kesalahannya 73 ribu dari 477.021 TPS.

Pekerjaan yang sangat melelahkan bagi MK untuk memutuskan apakah harus dilakukan pemilihan ulang secara keseluruhan ataukah hanya dilaksanakan dibeberapa titik yang menjadi gugatan, atau bahkan memenangkan tim penggugat. Tentu akan memakan waktu yang begitu panjang dan didalam adanya perpecahan di Internal Bangsa Indonesia itu sendiri, ketika ini terjadi maka bisa kah saya katakan sebagai keadaan darurat?

Semoga dari kita semua masing-masing menyadari bahwa negara Indonesia harus tetap dijaga dengan persatuan dan kesatuan, solusinya ada pada penyelenggara Pemilu baik KPU atau pun Bawaslu sebagai pengawas. Semoga dalam diri saya, kami, dan kita semua mendapatkan sabuah hidayah serta petunjuk dari tuhan yang maha Esa. Sehingga masing-masing menyadari tentang mahalnya sebuah keadilan. Dan semoga apa yang penulis tuangkan dalam judul tersebut tidak lah menjadi sebuah kenyataan. Aminnn

Penulis : Tiba Yuda Laksana/Ketua Umum HMI Cabang Tangerang

Bagikan:

LAINNYA

Kekuasaan dan Terapi Kejiwaan
Senin, 20 Mei 2019 | 15:53 WIB
Kekuasaan dan Terapi Kejiwaan
Politik dan Pemberhalaan Agama
Senin, 20 Mei 2019 | 15:10 WIB
Politik dan Pemberhalaan Agama
Paradigma Baru tentang Hakikat Kesuksesan
Minggu, 12 Mei 2019 | 17:34 WIB
Paradigma Baru tentang Hakikat Kesuksesan
Meruqyah Orang Banten
Selasa, 30 Apr 2019 | 19:57 WIB
Meruqyah Orang Banten

KOMENTAR

Indonesia dalam Keadaan Gawat dan Darurat Apakah Benar?

PEMERINTAHAN

1334 dibaca
Inspektorat Data Ulang Fisik Randis di Distan Banten
421 dibaca
KASN Rekomendasi Sanksi 3 Pejabat Banten Dukung Calon DPD RI 
204 dibaca
Jamsosratu Dinilai Berhasil, Dinsos NTB Belajar ke Dinsos Banten

POLITIK

884 dibaca
Anak Gubernur Gagal ke Senayan, HMI Kawal Pelanggaran ASN Banten
3002 dibaca
Andiara Raih Suara Terbanyak Calon DPD Dapil Banten, Anak Gubernur Gagal
1550 dibaca
Tuding HMI Demo Gubernur Ditunggangi, Ketum KAHMI Banten Dinilai Fitnah

HUKUM & KRIMINAL

152 dibaca
Dua Spesialis Pencuri Rumsong Dibekuk Resmob
434 dibaca
Melawan, 2 Bandit Ganjal Kartu ATM Ditembak
1131 dibaca
Digerebeg, 4 Pengepul, Pengecer dan Pemasang Judi Togel Lebaran Dipenjara

PERISTIWA

655 dibaca
PGK dan GP2B Desak Pecat Kadindikbud Engkos dan Faturrahman
249 dibaca
Diduga Gelapkan Dana BAT, Puluhan Karyawan Demo Kantor Alfamart Serang
2992 dibaca
Demo di Rumdis Gubernur, HMI Ingatkan KAHMI Jangan Bungkam Kami

EKONOMI & BISNIS

208 dibaca
Ramadhan, Pemprov Banten Gelar Bazar Sembako Murah
1911 dibaca
Ini Dia Tips Memilih Baju Muslim Wanita Sesuai Syariat yang Harus Anda Ketahui
Top