Jumat, 18 Januari 2019

Hukum Keseimbangan

[foto ilustrasi/net]
Jumat, 28 Des 2018 | 11:05 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Fauziyah Nurul dan Divani Aisyahara

Penulis Alumni ponpes Daar el-Qolam dan pegiat organisasi Gema Nusa Banten

Hanya beberapa minggu sebelum kejadian tsunami di sepanjang Selat Sunda, kami pernah menyumbangkan artikel ini untuk seluruh harian umum dan online Banten. Sekarang kami kirim ulang, terutama bagi harian-harian yang – disebabkan banyaknya tawaran iklan dan sponsor dari partai, caleg, atau instansi pemerintah – belum sempat menayangkannya, atau masih tertunda di dokumen redaksi. Lalu, apa yang menyebabkan kejadian tragis yang memakan korban ratusan anak-anak bangsa di sekitar perairan Selat Sunda beberapa hari lalu?

Sesungguhnya, alam semesta dengan segenap energi makrokosmosnya selalu bekerja mencari keseimbangan. Energi makro alam semesta selalu berhubungan dengan energi yang ada di setiap diri manusia yang sering disebut mikrokosmos. Proses ini tidak terlihat dengan kasatmata, sehingga faktor ketidakpekaan intuisi – karena kurang melatih olah rasa – banyak orang yang cenderung mengabaikannya.

Apabila terjadi kegoncangan atau ketidakteraturan sistem, baik secara mikro maupun makro, tak lepas akibat ulah perbuatan tangan-tangan manusia. Misalnya di suatu daerah terjadi banjir, longsor, tsunami, atau bahkan tertangkapnya penguasa karena kasus suap dan korupsi, hal tersebut mesti terjadi karena masyarakat setempat – juga penguasa sebagai cermin masyarakat – telah melakukan utang yang amat serius kepada alam semesta.

Pengertian “utang” yang kami maksudkan bukan harfiah, tetapi lebih bermakna kias dan simbolik. Secara filosofis, utang tersebut dapat diartikan sebagai tindakan yang tidak (kurang) bertanggungjawab dalam memperlakukan alam semesta. Hingga pada waktunya nanti, alam semesta akan menagihnya kepada pihak yang telah bertindak sewenang-wenang, atau kepada pihak lain yang ada hubungan dengannya, baik anak, orang tua, istri, suami, saudara-kerabat, bahkan saudara sebangsa dan setanah air.

Tindakan merusak alam yang mengganggu harmoni dan keseimbangan, secara religius dapat diartikan sebagai perbuatan dosa yang merugikan diri sendiri dan pihak lain. Secara ekstrim, banyak orang menyebutnya dengan istilah “karma”, yakni suatu kejadian yang akan menimpa seseorang akibat dari perbuatan yang telah ia lakukan di masalalu, atau akibat utangnya kepada alam. Sehingga alam semesta sebagai pihak berpiutang, akan menagih utang energi tersebut dalam bentuk nasib buruk yang dialami pihak pengutang.

Secara tradisional (juga religius), orang tua kita seringkali mengeluarkan komentar sederhana bila suatu musibah menimpa seseorang: “Iku mah sing badan dewek, kayane ora elok sedekah.” (Musibah itu muncul karena ulah dirinya, boleh jadi karena tidak pernah sedekah). Pandangan tersebut jangan sampai diartikan, bahwa musibah yang diderita orang lain, lantas membuat orang Banten masabodoh dan berpangku-tangan, karena hal tersebut akan membuat diri kita berutang juga pada alam semesta.

Hak yang Diambil

Kepada para biorkrat, pejabat dan para penguasa Banten, supaya mereka peka dalam mengambil hikmah dan pelajaran dari yang sudah-sudah. Kami ingin jelaskan pengertian utang kepada alam ini dalam arti yang lebih eksplisit dan konkrit. Misalnya, seorang pejabat mengambil barang milik kantor, atau enak-enakan makan baso, sate atau durian bersama anak-istri, sementara pembantu dan sopir dibiarkan belum sarapan sejak pagi. Bisa juga majikan terlambat atau menunda gaji dan honor untuk karyawan dan pembantunya. Secara kasatmata tidak mengambil hak orang lain, tapi mereka sebenarnya telah mengorupsi banyak hal, terutama waktu dan kesempatan.

Pada momen tertentu, seorang koruptor, penipu dan pemakan uang rakyat, sepintas kelihatan sukses dan berprestasi dalam bidang tertentu. Ya, hanya sepintas saja, seakan tidak merasa berdosa senyam-senyum di depan kamera media, baik cetak maupun elektronik. Meskipun orang yang punya ketajaman intuisi dapat mudah menebak gestur dan karakteristiknya yang rigid dan nelangsa.

Sang koruptor dan penipu tadi – disadari atau tidak – sebenarnya sedang memiliki utang yang besar kepada alam semesta. Hanya soal waktu saja, pada saatnya nanti energi alam akan mengambil kembali hak miliknya, dalam bentuk terbongkarnya aib dan kesalahan, datangnya musibah, atau kejadian mengenaskan yang tak terbayangkan, hingga ia tak pernah menikmati uang hasil korupsinya.

Dalam buku “What’s the Future and Why It’s Up to Us” karya Tim O’Reilly (2017), utang yang berlebihan kepada alam semesta, dapat menumpulkan daya nalar dan akal sehat manusia, hingga melemahkan kekuatan pikiran (mind power). Ada benarnya pemikiran tersebut, supaya pembaca diberi shock terapy agar tidak melakukan kesalahan yang lebih besar lagi di kemudian hari. Dari perspektif lain, ajaran Islam memberikan garis-garis besar agar manusia berusaha melakukan perubahan (tobat) atas kesalahan yang telah diperbuatnya di masalalu, kemudian melangkah ke masadepan dengan penuh optimistis.

Apakah dampak-dampak negatif yang dialami seorang individu, akibat kekhilafan dan menumpuknya utang kepada alam semesta, akan mengantarkannya kepada kesadaran dan introspeksi-diri hingga menjadi lebih baik, ataukah justru semakin menjerumuskannya kepada nilai utang yang lebih tinggi, yang dampaknya nanti lebih mencelakakan lagi?

Terkait dengan ini, kami ingin mengutip karya sastra dari epos Mahabharata, yang bicara tentang moral dan etika pemimpin sejak abad ke-9 Masehi, berbunyi: “Jika seorang pemimpin merampas hak rakyat dengan mengandalkan kekuasaannya, hidupnya akan diliputi rasa waswas dan penuh kegelisahan. Sehingga pada waktunya nanti, bukan saja apa yang dicurinya itu kembali diambil, tetapi harta miliknya dan perilakunya sendiri akan ikut terampas dengan sendirinya.”

Pelajaran dari epos Mahabharata ini sangat vital dijadikan petuah dan nasihat bagi para pejabat dan politisi kita, baik yang sudah duduk dalam tampuk kekuasaan maupun yang berancang-ancang ingin menjadi anggota legislatif. Berhati-hatilah, jika Anda akan coba-coba mengulangi sejarah yang sudah dialami para pendahulu, maka hidup Anda sehari-hari akan senantiasa diselubungi rasa takut dan waswas kalau-kalau perilaku yang korup itu akan terungkap. Jika sudah terperosok, hanya kenistaan dan kehinaan yang akan didapat.

Bukan cuma harta hasil korupsi, tapi juga akan ikut-serta harta milik Anda, serta perilaku Anda – yang mungkin ada yang baik – niscaya akan ikut terampas dengan sendirinya. Apakah Anda rela harta milik Anda ikut terampas, juga amal kebaikan Anda menjadi sirna, lenyap, dan tak diperhitungkan lagi? Ya, seperti itulah yang dialami para pendahulu kaum politisi kita, yang terbukti telah melakukan pelanggaran dan kesewenangan terhadap hukum alam, hingga terganggunya tata keseimbangan makrokosmos di Banten ini.

Para Penebar Hoaks

Sama halnya dengan masyarakat yang pernah ikut-serta dalam menyebarkan kabar burung atau berita bohong (hoaks). Pernahkah mereka berpikir bahwa dengan menyampaikan berita yang tidak valid – sadar atau tidak sadar – akan bermutasi terus-menerus, dari satu individu ke individu lain, bahkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pernahkah mereka berpikir bahwa apa-apa yang telah disampaikan, baik melalui ucapan, tulisan, maupun teladan perbuatan yang dipertontonkan kepada anak, murid, dan masyarakat umum, telah terekam ke dalam lauhul mahfudz, yakni catatan amal perbuatan manusia di alam semesta yang ternyata memiliki super komputer yang maha dahsyat kecanggihan memorinya.

Tetapi, bukankah Allah Maha Rahman Rahim, lalu apa yang harus kita perbuat untuk menutupi utang-utang kita pada alam semesta yang sebegitu menumpuknya?

Baiklah, kami akan jelaskan lebih mendetil perihal solusi yang ditawarkan Islam, agar senantiasa kita beritikad keras supaya tidak menambah utang-utang itu. Ya, berhentilah berutang kembali, lalu pada saat bersamaan kita harus membayarnya dengan melakukan kebaikan-kebaikan, sebelum alam semesta mengambil dan merenggut apa-apa yang sudah kita miliki, baik anak, istri, harta-kekayaan, kedudukan, bahwa nyawa kita sendiri.

Tidak ada utang manusia pada alam semesta yang tak terbayar, seperti juga tidak ada dosa besar yang tak terampuni jika manusia bertobat dengan sesungguhnya (taubatan nashuha). Lakukan kebaikan pada sesama dan pada alam semesta. Perbuatan baik terhadap sesama tidak selalu harus berbentuk materi. Banyak sekali bentuk kebaikan yang perlu kita lakukan, misalnya membantu orang yang dalam kesulitan. Bahkan mendoakan orang lain agar berbuat baik dan menyadari kekhilafannya, juga termasuk amal mulia yang dapat menjadi sarana pembayaran utang kita kepada alam semesta.

Pancarkan kebaikan dan kasih sayang kepada setiap orang, tak peduli apakah kebaikan kita akan dibalas ataukah tidak. Justru dengan memberi kebaikan kepada orang yang tak mampu membalas kebaikannya kepada kita, akan memancarkan energi positif, yang suatu saat akan dikembalikan oleh energi makrokosmos dalam bentuk kebaikan yang berlipatganda dari alam semesta.

Tetapi sebaliknya, jika kebaikan yang kita berikan dengan maksud riya, pamer, dan pencitraan melulu, maka nilai kebaikan itu tidak memancar ke alam semesta. Pancarkan energi positif dengan melakukan banyak kebaikan, dan sebarkan kasih sayang terhadap manusia dan lingkungan sekitar kita. Jika yang kita sebarkan adalah kebohongan (hoaks), kebencian dan ketakutan, maka kita telah ikut andil dalam perusakan mikro dan makrososmos yang mengganggu tata keseimbangan alam.

Cermin Masyarakat Banten

Dalam konteks ini, kami ingin bicara terus-terang kepada Pak Gubernur Wahidin, Andhika Hazrumy dan seluruh jajaran mitra kerjanya, bahwa tidak ada pemimpin besar manapun yang tercatat dalam sejarah peradaban manusia, kecuali jika mereka memberi teladan kepada rakyatnya untuk hidup bersahaja, serta ikhlas mensinergikan pikiran, perkataan dan perbuatannya. Nabi Muhammad dan para sahabatnya telah mampu membuktikan itu.

Meminjam istilah dari buku Perasaan Orang Banten, sebenarnya sesederhana itulah energi keseimbangan alam bekerja. Jika kita ingin ditolong oleh Allah, sudahkah kita menolong makhluk-makhluk-Nya? Jika kita ingin dihormati orang, sudahkah kita mampu menghormati orang lain – rakyat kita – dengan tulus? Jika kita ingin dipentingkan oleh orang, sudahkah kita sanggup menahan ego dan kepentingan diri, untuk mendahulukan kepentingan orang lain?

Jika kita ingin sukses dan meraih sesuatu yang kita cita-citakan, sudahkah kita membuka pintu-pintu maaf, serta membantu orang lain agar meraih apa yang mereka inginkan? Sudahkah kita sebagai warga Banten, berikhtiar ke arah sana…(*)

Bagikan:

LAINNYA

Perihal Caleg Karbitan
Rabu, 16 Jan 2019 | 17:33 WIB
Perihal Caleg Karbitan
Mengembangkan Akhlak Publik Melalui Demokrasi
Minggu, 13 Jan 2019 | 14:37 WIB
Mengembangkan Akhlak Publik Melalui Demokrasi
Gaya Politik Para Pujangga
Jumat, 28 Des 2018 | 10:43 WIB
Gaya Politik Para Pujangga
Keraton Kaibon Refleksi Hari Ibu di Masa Kini
Sabtu, 22 Des 2018 | 23:51 WIB
Keraton Kaibon Refleksi Hari Ibu di Masa Kini

KOMENTAR

Hukum Keseimbangan

PEMERINTAHAN

87 dibaca
Andika Sebut Kepercayaan Publik pada Pemprov Banten Meningkat
223 dibaca
Lantik 223 Pejabat, Bupati Serang Sebut Agar Kinerja Lebih Baik
181 dibaca
Pertama di Indonesia, Inspektorat Kabupaten Serang Integrasikan Dua ISO

POLITIK

3953 dibaca
Gubernur Banten Wahidin Halim Dilaporkan ke Bawaslu
847 dibaca
Dukung Prabowo-Sandi, Caleg PBB di Banten Bentuk Pass Lantang
153 dibaca
Debat Capres Bisa untuk Curi Perhatian Rakyat

HUKUM & KRIMINAL

219 dibaca
Mayat Wanita di Cipocok Jaya Ternyata Dibunuh
107 dibaca
Polisi Ringkus Pelaku Curanmor, Penadah dan Pengoplos
333 dibaca
Diduga Otak Pengeroyokan Santri, MH Terancam Dijemput Paksa

PERISTIWA

129 dibaca
Peran Media Penting dalam Sosialisasi Millennial Road Safety Festival
140 dibaca
Gubernur Berikan Bantuan Seragam Sekolah untuk Korban Tsunami

EKONOMI & BISNIS

105 dibaca
Sri Mulyani Jamin Usaha Kecil Digital Bebas Pajak
197 dibaca
Pulihkan Anyer, Pemprov Banten Tinjau Pelarangan Rapat di Hotel
Top