Minggu, 17 Februari 2019

Hoaks dan Rekam Jejak Anda

[foto ilustrasi/net]
Kamis, 11 Okt 2018 | 17:05 WIB - Suara Pembaca

                                            Oleh: Indah Noviariesta

             Penulis Pegiat Gerakan Membangun Nurani Bangsa, alumni Untirta Banten

“Orang-orang musyik itu mengira sedang mengadakan pembangunan, tanpa menyadari bahwa prilakunya menimbulkan kerusakan di mana-mana.” (Al-Baqarah: 11-12)

Hidup manusia terus berubah, karena perubahan adalah keniscayaan sejarah dan hukum alam (sunatullah).Tapi di sisi lain, berapa banyak orang yang kehilangan imannya, berburuk sangka (su’udzon) kepada Tuhan disebabkan maraknya perubahan di sekitar kita. Inilah yang menjadi tema utama bagi saya untuk mengguratkan pena, menulis opini perihal pentingnya memahami ilmu tentang transformasi Banten, gejala-gejala yang terjadi, hingga kesiapan mental dan spiritual dalam menyikapi perubahan yang ada.

Memang kepekaan seorang penulis semakin terasa ketika dihadapkan pada suatu tragedi atau prahara, yang dalam istilah Jawa disebut “goro-goro”. Karena adanya goro-goro, seorang penulis mampu menyelesaikan novel hanya dalam hitungan hari saja. Bisa juga penyair menyelesaikan kumpulan puisinya hanya dalam waktu satu malam saja. Rentang waktu yang lama maupun sekejap, tergantung pada suasana hati seseorang yang merasakannya. Waktu satu malam atau satu minggu dalam jeruji besi, bagi seorang koruptor – sekelas Setya Novanto – barangkali seperti karet yang memanjang karena dibentangkan. Padahal, bila karet itu dibiarkan tergeletak di meja, ukurannya hanya beberapa sentimeter saja.

Barangkali seperti itulah suasana hati Ratna Sarumpaet dalam beberapa hari ini. Waktu 24 jam di dalam Rutan yang dihuninya, boleh jadi membentang sepanjang jalan kenangan. Kehidupan ini terasa sempit dan pengap, terutama bagi orang yang sedang dilanda kegalauan dan kegelisahan.

Para penebar hoaks

Sangat mudah mendeteksi orang-orang jahil yang suka bikin onar, sibuk menebar hoaks selama beberapa tahun terakhir ini. Kata-kata kuncinya mudah dilacak, bahkan media apa yang digunakannya gampang ditelusuri. Dalam catatan big data, ada beberapa oknum yang memfasilitasi penebar hoaks di Banten ini, memanfaatkan jasa mereka, untuk menjelek-jelekkan salah satu kandidat presiden RI. Saya hanya tersenyum menyaksikan itu, tinggal menunggu waktu saja.

Suatu kali saya mengetik nama seseorang yang terlampau bising dan berisik dalam menebar hoaks. Padahal orang itu senang disebut “tokoh masyarakat”. Data-datanya saya hubungkan dengan digital footprint yang tercatat di perusahaan asuransi, FIF, laporan kepolisian, perbankan, hingga keluar-masuk uang yang ada di beberapa rekeningnya. Ternyata motifnya cukup jelas, kenapa orang itu begitu berisik selama beberapa tahun ini. Ada beberapa data palsu yang membicarakan orang itu, bahkan ada yang menyusup memakai namanya melalui beberapa account, tapi toh mana yang asli dan mana yang palsu terlacak juga pada akhirnya. Bahkan seberapa jauh dia berurusan dengan kredit macet, mudah sekali terdeteksi.

Yang penting adalah motif utama di balik penciptaan kabar burung atau berita hoaks tersebut. Apakah bermaksud untuk menebar kebencian dan ketakutan, ataukah justru sebaliknya, berbaris bersama orang-orang bijak yang punya jiwa sosialis tinggi untuk turut-serta mencerdaskan dan mendewasakan rakyat Banten. Bagi yang kedua ini, mereka punya keyakinan bahwa kebaikan yang disemai dan ditebarkan, pasti akan berbuah kebaikan pula di kemudian hari.

Untuk warga Banten yang hidup apa adanya, tidak punya niat-niat buruk untuk menyudutkan siapapun, berpegang pada agama yang benar, maka bersiap-siaplah menghadapi kemenangan di era milenial yang menakjubkan ini. Tetapi, bagi mereka yang senang basa-basi, kepura-puraan, bersandiwara dengan kebiasaan memakai topeng-topeng, bersiap-siaplah menghadapi risiko dan akibatnya. Anda tidak bisa menyalahkan siapapun, juga tak perlu menyalah-nyalahkan zaman, karena Anda telah memilih jalan hidup Anda sendiri.

Rekam Jejak Orang Banten

Mengenai problem Ratna Sarumpaet, jika memang di belakangnya ada peran Prabowo, Fadli Zon dan Prof. Dr. Amien Rais, maka sekenario yang dibuat mereka dangkal sekali. Persis dengan skenario pemerintah Orde Baru yang mudah ditebak oleh nalar dan akal sehat manusia zaman now. Atau mirip dengan kasus pengajuan kredit oleh seorang tentara yang ditolak oleh CEO Bank asing, karena memang rekam jejak semua nasabahnya (credit score)mudah sekali dilacak.

Karena itu, bagi sebagian warga Banten yang suka membikin onar dan goro-goro, jika kelakuan Anda menimbulkan keresahan yang tak bisa ditoleransi lagi, maka berhati-hatilah. Hanya soal waktu saja. Rekam jejak Anda sudah termaktub, bukan saja di Lauhul Mahfudz, tetapi Allah sudah memberikan anugerah ilmu-Nya, di mana setiap digital footprint akan masuk ke dalam score Anda. Bukan hanya lewat CCTV, tetapi juga data keuangan, GPS, websites, hingga soal kesehatan dan makanan apa yang Anda konsumsi.

Saya tak habis pikir, mengapa seorang public figure (Ratna Sarumpaet) – sebagai timses Prabowo-Sandi – bisa melakukan sesuatu di luar nalar dan akal sehat manusia? Bukankah jalanan yang dilalui, rumah sakit yang dikunjungi, juga klinik dr. Hanum Rais (anaknya Amien Rais), apalagi bandara untuk perjalanan ke luar negeri, semuanya itu sudah dilengkapi kamera digital, hingga rekam jejaknya sangat jelas bila ia melakukan kebohongan publik?

Terkait dengan ini, saya mendukung pernyataan Gubernur Wahidin Halim yang beritikad melakukan pembenahan di berbagai bidang. Secara gentlemen ia menulis di harian umum Banten, bahwa dirinya akan menjadi figur teladan di jalan kebaikan dan kebenaran. Ia mengakui dengan jujur, “Tidak mau menipu dan membohongi rakyat Banten, dengan mengatakan ‘seolah-olah baik’ dalam suatu sistem yang bobrok dan keropos.”

Saat ini, memang tidak ada ruang, waktu, dan kesempatan untuk para politisi, birokrat dan penguasa Banten yang masih klamar-klemer, petantang-petenteng, teriak dan koar-koar sambil catut sana-sini. Terlebih yang selama ini sibuk memperkaya diri dengan mengorupsi uang rakyat. Anda yang paling garang dan temperamental sekalipun, dengan mudah dilacak melalui digital footprint yang rekam jejaknya sangat mudah dihadapkan ke tengah publik.

Silakan Anda memakai jubah kesolehan dan kealiman, silakan saja Anda memakai berbagai bentuk asesoris topeng, atau bersembunyi di balik batu koral sekalipun. Tetapi ketika digital footprint disajikan ke publik, wajah asli Anda akan mudah tersingkap, sehebat apapun Anda pintar menyembunyikan muka dan perilaku Anda. Saat ini, Anda akan kuat dan percaya-diri, hanya jika Anda bersikap jujur dan terbuka. Tapi jika Anda bersikeras mengenakan topeng di wajah Anda, maka Anda akan terkesan ripuh dan kesulitan untuk bergerak ke manapun.

Belakangan muncul pertanyaan, bagaimana pihak polisi begitu cepat mengendus tindak kriminal dan para penebar hoaks di ranah Banten ini? Siapa yang mesti dipersalahkan? Zaman-kah yang bersalah? Atau kiamat yang sudah di ambang pintu? Ternyata, problem utamanya karena ketidaksabaran dan kecerobohan sebagian masyarakat kita sendiri. Banyak di antara mereka yang terjerumus ke lembah ilusi dan pembenaran untuk membesarkan dirinya dan kelompoknya. Tapi di sisi lain, mereka juga tak segan-segan untuk memprovokasi orang, mencaci-maki, dan menjelek-jelekkan pihak yang tak disukainya.

Ilusi warisan Orde Baru

Membaca beragam artikel mengenai hoaks, mengingatkan saya pada gambar manusia-manusia bertopeng yang diilustrasikan oleh para sastrawan. Mereka cukup peka membaca kelihaian penguasa Orde Baru yang telah mengawali kekuasaannya dengan menebar hoaks terbesar di republik ini. Kalaupun ada elit politik Orde Baru yang menyatakan dirinya tak terlibat dalam penyebaran hoaks dan fitnah, setidaknya ia telah membiarkan fitnah itu menyebar dan dipercaya oleh rakyat negeri ini. Terkait dengan itu, Gus Dur selaku tokoh agama dan mantan pemimpin bangsa, sudah menyatakan permintaan maaf kepada keluarga korban, baik dari kalangan PKI maupun korban yang tertuduh sebagai PKI.

Menurut Gus Dur, ketika fitnah itu dibiarkan menyebar dan bergulir di tengah masyarakat, pemerintah Orde Baru tak pernah punya itikad untuk meluruskan berita itu dengan jujur dan apa adanya. Tapi justru mereka berinisiatif dan mensponsori penyebaran hoaks tersebut.

Penulis novel Pikiran Orang Indonesia, ketika bertandang di kediaman mendiang Pramoedya Ananta Toer di daerah Bojong Gede, Bogor (2001) kemudian mengabarkan tentang pemerintah Orde Baru yang berdiri di belakang penyebaran hoaks mengenai wanita-wanita Gerwani, dengan tegas Pramoedya menyatakan:

“Badan saya merinding bukan karena cerita yang dibuat-buat penguasa Orde Baru, tapi karena saya tak pernah menduga ada orang Indonesia yang berambisi merebut kekuasaan, kemudian menciptakan suatu kebohongan yang begitu kejinya.”

Pada akhirnya, tak ada jalan lain bagi masyarakat Banten selain kita wajib kembali kepada nilai-nilai luhur ajaran agama. Perhatikan dengan cermat ayat di atas, yang esensinya bahwa anugerah teknologi yang hakikatnya bersumber dari ilmu Allah, tidak boleh disalahgunakan (kufur nikmat). Tapi harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menebar benih-benih kebaikan, toleransi, dan solidaritas kemanusiaan. (*)

Bagikan:

LAINNYA

Agama dan Kemajuan Peradaban
Selasa, 29 Jan 2019 | 17:38 WIB
Agama dan Kemajuan Peradaban
Ruang Publik dan Kampanye Politik
Selasa, 22 Jan 2019 | 15:12 WIB
Ruang Publik dan Kampanye Politik
Umroh Santri Al-Bayan
Senin, 21 Jan 2019 | 13:11 WIB
Umroh Santri Al-Bayan
Kisah Kematian Sang Koruptor
Jumat, 18 Jan 2019 | 22:30 WIB
Kisah Kematian Sang Koruptor

KOMENTAR

Hoaks dan Rekam Jejak Anda

PEMERINTAHAN

512 dibaca
Ketua dan Pengurus PPDI Kecamatan Jawilan Dilantik
400 dibaca
Tahun Ini, Dana Desa Pemprov Banten Tembus Rp61,9 Miliar
301 dibaca
Dihadapan Kades se-Lebak, Andika Beberkan Prioritas Penggunaan Dana Desa

POLITIK

340 dibaca
KPU Kabupaten Serang Target Satu Relawan Demokrasi 1000 Pemilih
246 dibaca
Warga Belum Paham Berpartisipasi pada Pemilu 2019
4239 dibaca
Gubernur Banten Wahidin Halim Dilaporkan ke Bawaslu

HUKUM & KRIMINAL

104 dibaca
Buron Curanmor Pingsan Saat Persembunyiannya Digerebag
84 dibaca
Diringkus, Dua dari Enam Bandit Jalanan Ditembak
502 dibaca
BNN Gagalkan Penyelundupan Narkotika di Pelabuhan Bojonegara

PERISTIWA

297 dibaca
Jelang Pemilu, Pejabat Polres Serang Gencar Kunjungi Ponpes dan Ulama
319 dibaca
Suhendar Ditemukan Tak Bernyawa di Kamar Kontrakan

EKONOMI & BISNIS

285 dibaca
Produksi Pangan Kabupaten Serang Surplus dan Aman
277 dibaca
Pencairan Bansos, Dinsos Banten Libatkan Dua Lembaga Perbankan
Top