Selasa, 20 Agustus 2019

Hai Muslimah! Hiasilah Dirimu dengan Rasa Malu

[Foto: ilustrasi]
Jumat, 26 Apr 2019 | 12:02 WIB - Mozaik Islami

HAMPIR di seluruh dunia sepakat bahwa wanita selalu menjadi ikon tunggal kecantikan dengan akumulatif apresiasinya terhadap wajah serta tubuh yang indah. Apresiasi ini mungkin tidak salah, karena secara fitrah wanita hadir dengan sosok yang lembut dan indah. Dari sosok seperti inilah maka sepantasnya muslimah menghiasi dirinya dengan rasa malu. Mengapa harus Malu?

Rasa malu adalah sifat yang mulia. Rasa malu, seluruhnya adalah kebaikan. Rasulullah SAW merupakan profil yang menjadi panutan dan tauladan dalam perihal rasa malu. Bahkan sampai disebutkan bahwa beliau lebih pemalu dari gadis pingitan yang berada dalam kamarnya. Rasa malu adalah akhlak yang mulia, akhlak yang dimiliki oleh orang-orang yang baik. Setiap orang yang memiliki rasa malu niscaya akan tercegah dari perkara-perkara yang buruk dan jelek yang dimurka oleh Allah Subhanahu wa Taala dan Rasul-Nya serta dibenci oleh manusia.

Rasa malu itu sendiri terbagi dua (berdasarkan cara terbentuknya, red), yaitu :

Ada rasa malu yang menjadi sifat pembawaan atau tabiat yang merupakan karunia dan pemberian dari Allah Subhanahu wa Taala. Ini diistilahkan dengan rasa malu yang tidak diupayakan. Bisa jadi ada sebagian orang yang meninggalkan perkara-perkara yang buruk dan jelek bukan karena dia paham dan komitmen kepada agamanya.

Akan tetapi lebih disebabkan rasa malu untuk melakukannya. Sehingga dia meninggalkannya bukan karena dorongan agama tapi disebabkan faktor rasa malu yang memang Allah ciptakan pada dirinya. Tabiat ini merupakan karunia Allah Subhanahu wa Taala yang dilimpahkan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah maha memiliki keutamaan yang besar.

Pada zaman ini kita masih banyak melihat para muslimah yang masih menghadirkan rasa malu untuk tidak berbuat maksiat, mengumbar aurat, suara atau gerak tubuhnya di depan khalayak yang tak pantas melihat dan mendengarnya. Muslimah seperti inilah yang Allah hadirikan didalam dirinya rasa malu sebagai Rahmat dari-Nya.

Rasa malu yang kedua adalah rasa malu yang bisa diupayakan (dibentuk dengan usaha khusus, red). Maksudnya adalah rasa malu yang lahir karena seseorang selalu merasa selalu diawasi oleh Allah Subhanahu wa Taala. Hal itu bisa tewujud karena mengenal dzat Allah melalui nama-nama dan sifat-sifat Nya yang Maha Mulia dan Agung. Dia malu kalau Allah melihatnya berbuat keburukan dan kejelekan. Maka dia berupaya menghindari perkara-perkara yang buruk dan jelek disebabkan rasa malu kepada Allah Subhanahu wa Taala, walaupun secara tabiat dan watak, dia bisa dan mungkin biasa melakukan keburukan dan kejelekan tersebut. Ini namanya rasa malu yang diupayakan dan yang dimaksud oleh sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam:

"Rasa malu itu adalah salah satu cabang dari keimanan." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Muslimah yang berilmu akan menghiasi dirinya dengan malu kapan dan dimanapun ia berada, dengan Ilmu yang ia mampu mengolah hatinya agar tidak terperosok dalam syubhat-syubhat serta godaan-godaan yang dapat menghilangkan dirinya dengan rasa malu, lisannya senatiasa terjada dengan tutur kata berkualitas serta Dzikrullah dan Malu tetap menghiasinya. Serta tingkahnya yang menunjukkan ketakwaannya kepada Rabbnya. Rasulullah shalallahu alaihi wasalam sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar radhiyallahu anhuma- pernah melewati seseorang dari kalangan anshar yang tengah menasihati saudaranya mengenai rasa malu. Maka Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda:

"Biarkan dia, karena sesungguhnya rasa malu itu termasuk dari keimanan." (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Rasa Malu Yang Baik

Rasa malu yang termasuk dari keimanan adalah rasa malu yang diupayakan karena merasa diawasi oleh Allah Subhanahu wa Taala. Apa pun keadaannya, seorang yang punya rasa malu secara tabiat dan kepribadian, memiliki modal dasar untuk menuju rasa malu yang diupayakan karena merasa diawasi oleh Allah Subhanahu wa Taala. Jika rasa malu itu dicabut dari seseorang, baik rasa malu secara tabiat dan kepribadian maupun rasa malu yang memang disyariatkan, maka akan lenyap berbagai kebaikan dari dirinya. Dia akan jatuh pada perbuatan-perbuatan yang buruk dan jelek, baik secara hukum syari maupun secara adat kebiasaan manusia. Hari ini kita sangat mudah menyaksikan saudari-saudari muslimah kita yang tampak enteng dengan hiasan kemaksiatan yang dilakukan tanpa adanya rasa malu sediktpun.

Rasa Malu Yang Buruk

Namun disana sesungguhnya ada rasa malu yang tercela. Rasa malu yang tercela sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Qodhi Iyadh rahimahullah dan yang selainnya- yaitu rasa malu yang menghalangi seseorang untuk menunaikan hak dan kewajiban. Seseorang merasa malu dalam menuntut ilmu sehingga dia mengalami kebodohan dalam agamanya. Seseorang merasa malu untuk beribadah kepada Allah sehingga dia tidak menunaikan kewajibannya terhadap Allah. Seseorang merasa malu untuk menunaikan hak dirinya, hak keluarganya, hak kaum muslimin. Maka semua rasa malu itu adalah rasa malu yang tercela. Karena rasa malu yang seperti ini merupakan kelemahan dan kecerobohan. (lihat Fathul Baari 3/138). Maka sebagai Muslimah yang cerdas, hendaknya kita menghindari diri dari rasa malu yang tidak menguntungkan bagi kualitas ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu Wataala.

Sedangkan yang dimaksud dalam sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

"Rasa malu itu tidak membawa kecuali kepada kebaikan." (HR. Al Bukhari dan Muslim)

yaitu rasa malu yang membawa kepada keimanan serta tidak melalaikan hak dan kewajiban. Lalu mengapa rasa malu yang menghalangi seseorang dari kebaikan disebut sebagai rasa malu? Hal itu karena rasa malu ini menyerupai rasa malu yang yang disyariatkan. Padahal hakekatnya, rasa malu yang menghalangi dari kebaikan adalah tercela di sisi Allah Subhanahu wa Taala.

Manfaat Rasa Malu

Maka muslimah yang mempunyai rasa malu akan terhalangi dari perkara-perkara yang buruk dan jelek, baik rasa malu yang berlaku secara tabiat maupun rasa malu yang lahir karena keimanan kepada Allah Subhanahu wa Taala. Jika kita mau memperhatikan kondisi dan keadaan manusia secara cermat, niscaya kita akan mendapati realita bahwa berbagai keburukan dan kejelekan terjadi, baik yang berupa kekafiran, kesyirikan, kebidahan, dan kemaksiatan, baik yang kecil maupun yang besar, dikarenakan mereka telah kekurangan bahkan kehilangan rasa malu yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Jika rasa malu dengan kedua jenisnya telah hilang dari seseorang maka tak ada lagi kebaikan yang bisa diharapkan darinya. Bahkan bisa jadi dirinya telah berubah menjadi setan yang terkutuk.

Kita memohon kepada Allah keselamatan dan keampunan dan menjadikan diri kita sebagai Muslimah yang cantik dengan rasa Malu. Wallahu alam bish-shawab.[Fauziah Ramdani/Inilah]

Bagikan:

LAINNYA

Bertakwalah, Jangan Asal Sebar Berita Fitnah!
Senin, 19 Agt 2019 | 15:22 WIB
Bertakwalah, Jangan Asal Sebar Berita Fitnah!
Barang Siapa Berselawat Kepada Rasulullah Sekali..
Minggu, 18 Agt 2019 | 20:35 WIB
Barang Siapa Berselawat Kepada Rasulullah Sekali..
Enam Larangan Dalam Hubungan Suami-Istri
Minggu, 18 Agt 2019 | 20:24 WIB
Enam Larangan Dalam Hubungan Suami-Istri

KOMENTAR

Hai Muslimah! Hiasilah Dirimu dengan Rasa Malu
katarBanten

PEMERINTAHAN

667 dibaca
TAPD Tak Boleh Pangkas Anggaran Tanpa Seizin KPU dan Bawaslu
204 dibaca
Tatu: Efisiensi Anggaran Dilakukan Sejak Menjabat Bupati Serang
katarBanten1

POLITIK

214 dibaca
Pilkades Serentak 2019 di Kabupaten Serang Digelar 3 November
218 dibaca
Pilkada Serang 2020, PKS Sebut Belum Ada Penantang Petahana

HUKUM & KRIMINAL

197 dibaca
Pelaku Curanmor di Kibin Tewas Setelah Dianiaya Warga

PERISTIWA

516 dibaca
Gunakan Water Canon Salurkan Bantuan Air Bersih di Pontang

EKONOMI & BISNIS

297 dibaca
Ini Dia Perlengkapan Perkayuan yang Wajib Dimiliki untuk Wood Working
Top