Minggu, 15 Desember 2019

Gaya Politik Para Pujangga

[foto ilustrasi/net]
Jumat, 28 Des 2018 | 10:43 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Pujiah Lestari

Penulis Peneliti historical memories untuk wilayah Banten dan sekitarnya

“Setiap orang dibekali bakat dan keahlian yang berbeda dengan yang lain. Kalau ada yang senang mengumbar hoaks, mengadu-domba, dan membangun ketakutan massa, barangkali di situlah letak keahliannya.”

Pewartaan sastra yang baik, biasanya sanggup mengebor kesadaran pembaca, hingga sanggup membuka kedok-kedok yang dengan rapi disimpan dan dirahasiakan rezim dari waktu ke waktu. Bila kita membuka memori kelam semasa tahun-tahun 1997-1998, misalnya pembredelan beberapa majalah, termasuk majalah mingguan Jakarta-Jakarta, yang pernah menampilkan laporan hasil investigasi tentang kerusuhan massal di Santa Cruze, Timor-Timur. Kita bisa memahami bahwa edisi berikutnya kemudian digagalkan oleh rezim Orde Baru sampai-sampai pemrednya sendiri (Seno Gumira Adjidarma), menjatuhkan pilihan untuk menulis karya-karya sastra.

Ketika jurnalisme dibungkam maka sastra harus berani tampil ke permukaan. Pada waktunya, karya sastra harus berani bicara politik demi tegaknya kebenaran dan keadilan. Ketika fakta dimanipulasi bahkan ditutup dengan tinta hitam, politik hati nurani yang menyuarakan nilai-nilai kebenaran, harus sanggup tampil ke permukaan. Pada momentum inilah, kualitas karya sastra yang baik dapat menyatu bersama udara, bahkan menyibak kabut hingga menembus ketinggian langit.

Seorang penceramah agama mungkin saja berdakwah secara radikal bahkan ekstrim, tetapi nilai-nilai kebaikan dalam karya sastra harus disampaikan secara lentur dan bijak demi kualitas dan keabadian karya sastra itu sendiri. Dari sini kita akan coba mengupas gaya dakwah melalui karya sastra yang tujuan utamanya membikin manusia lebih manusiawi dan beradab.

Novel Pikiran Orang Indonesia mengajarkan kita bahwa kemuliaan dan keberkahan hidup tak bisa diukur oleh materi sebanyak apapun. Generasi milenial harus merdeka dan terbebas dari kepamrihan kaum politisi yang sibuk dalam pencitraan, hoaks, dan kebohongan publik. Tetapi, bukankah karya sastra adalah karangan manusia yang identik dengan pencitraan juga? Ya, seandainya pun pencitraan itu hendak diciptakan, apakah ia bersifat mendidik dan mendewasakan umat, ataukah justru mengerdilkan dan membodohi mereka? Di sinilah titik persoalannya.

Tentu saja bukan sekelas para netizen yang menyebarluaskan informasi tanpa data-data yang valid dan akurat. Dunia sastra seumumnya dianggap “subversif” oleh para penguasa korup, justru karena akurasi data dan fakta yang menggetarkan jiwa mereka. Bila kita berkaca pada karya Dostoyevsky, sejak sejak abad ke-19 lalu, karya-karyanya melanglang buana dengan fasih menuturkan reruntuhan jiwa dari watak dan karakteristik para politisi yang semakin kehilangan pegangan hidup. Ia terampil membedah perikehidupan para penguasa berjiwa hedonis yang haus akan syahwat kekuasaan dan popularitas. Suatu problem yang sangat relevan bila dihubungkan dengan persoalan kebantenan dan keindonesiaan yang sedang mengarah pada arus yang sama.

Karya-karya Dostoyevsky nyaris tak pernah mengajak pembacanya untuk tertawa. Beda dengan Solzhenitsyn yang masih mengajak kita tersenyum. Dalam novel “Kesengsaraan di Petersburg” disingkap habis-habisan sifat dan watak manusia yang merambah dari tingkat desa, perkotaan hingga mencari peruntungan politik dan bisnis di metropolitan. Masyarakat dengan jenis kebudayaan yang belum siap menghadapi arus perubahan zaman, suatu deformasi jiwa yang membuat pribadi-pribadi para tokohnya menderita kehausan penyakit yang patologis.

Yang tidak kalah menarik, seperti halnya karya-karya Alexievich (Belarusia) Dostoyevsky meneropong dengan gayanya sendiri ulah dan kelakuan kaum politisi yang gila akan syahwat kekuasaan, sambil merekam orang-orang birokrat yang rakus dan serakah. Tidak tanggung-tanggung disingkap pula suatu psike-individual yang mengakibatkan terbelahnya ideologi, paham keagamaan, serta jurang yang menganga antara generasi anak dan orang tua. Retaknya lembaga keluarga, masyarakat dan negara, hingga melahirkan suatu generasi baru yang mengidap paranoid hingga skozifrenia. Suatu kronik keputusasaan dalam pengertian yang realistis, otentik, bukan semata-mata melodrama teatrikal semata.

Di sisi lain, para komprador penguasa yang menjelma menjadi hewan-hewan buas dan brutal, garuda dan buaya kapitalis, para penumpuk harta yang keranjingan bersekongkol untuk melanjutkan rezim status quo yang bersifat otoriter bahkan tiranik. Beda dengan karya-karya Pramoedya Ananta Toer, Dostoyevsky menuturkan kisah-kisahnya bukan sebentuk manifes protes politik. Ia menampilkan apa adanya tentang karakter dan watak politisi korup, merasa kehausan patologis, gila pencitraan dan popularitas, bahkan merasa dirinya hidup dalam amukan zaman kejam dan penderitaan di tengah badai salju di trunda-trunda Siberia. Karena itu, para politisi memilih jalan hidup dengan kesimpulan dangkal yang kelak akan menjerat dirinya sendiri, “Kalau aku tidak ikut-ikutan gila di zaman edan ini, nanti aku malah tidak kebagian!”

Tentu saja karya Dostoyevsky, Sozhenitsyn maupun Pramoedya, jelas berbeda dengan Sartre, Camus, Brecht, Samuel Becket, maupun aliran eksistensialisme yang merambah negeri Prancis dan Eropa sejak abad lalu. Pada periode itu, ketika kalangan akademisi membahas penemuan Karl Marx dalam tataran intelektual, justru Dostoyevsky sudah fasih memaparkannya dalam bentuk karya sastra. Suatu karya besar yang melampaui zamannya, menyibak kabut dan memberikan pencerahan dakwah yang elegan. Menyadarkan para sastrawan dan ilmuwan Eropa, bahkan menggugat para penguasa dan politisi, mengapa sejarah umat manusia masih saja tergenangi oleh permasalahan para tuan dan budak, eksploitasi manusia-manusia lapisan bawah, oleh beberapa gelintir manusia di lapisan atas?

Gugatan paling mendasar pada karya Dostoyevsky, nyaris sehaluan dengan wacana dan opini Alexievich yang ditulis dalam bentuk esai yang meledak-ledak, mengajak masyarakat dan kalangan penguasa agar berkaca-diri. Jangan cuma sibuk memproyeksikan fungsi Tuhan untuk kepentingan politis belaka, seolah-olah “tambal sulam” dari lubang kesulitan yang tak pernah dibereskan oleh para penganut agama (homo religious),sambil mengharap-harap mukjizat datang untuk menyelesaikan kekalutan dan kerepotan yang sebenarnya bersumber karena ulahnya sendiri.

Citra Tuhan yang ditafsir kemudian disusupkan ke dalam benak masyarakat, sudah waktunya harus dibersihkan dari proyeksi dan politisasi kaum elite borjuasi yang mengutamakan kepentingan diri sendiri, ketimbang berkarya membuktikan kemaslahatan dirinya di tengah peradaban umat. Citra Tuhan yang masih diselimuti unsur-unsur politik kotor, ideologi dan kritik-kritik palsu, propaganda kepahlawanan kosong, dicampuri urusan duit dan vested interest yang sama sekali tak ada urusannya dengan esensi keimanan, cinta kasih, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Kualitas sastra seperti itu – nampak pula pada novel Pikiran Orang Indonesia – terang-terangan membawa misi dakwah dan syiar di jalan kebaikan, kebenaran, dan keindahan yang universal. Dengan sesadar-sadarnya, penulis novel tersebut memang mengakui adanya sasaran yang hendak dicapai. Bukan semata-mata kebebasan ekspresi yang menggaungkan kepentingan seni hanya untuk seni. Tetapi, memang betul-betul berpolitik, dan juga diakui oleh penulisnya. Memadukan harmoni antara fakta dan fiksi demi memperjuangkan nilai-nilai kebenaran. Dengan totalitasnya berkarya, dan dengan kekayaan linguistiknya, seakan-akan Tuhan sedang mewartakan wahyunya melalui pikiran dari tangan-tangan terampil para sastrawan.

Karya-karya semacam itu, mengajak kita agar turut-serta berjuang membangun peradaban umat, bahkan memperkuat benteng-benteng pertahanan terhadap gempuran hoaks dan kebohongan publik yang memanfaatkan ketidakadilan sebagai motor penggeraknya. Selain itu, sastra yang baik juga memperkuat benteng keimanan, dari gempuran badai-badai modernitas yang mengepung keseharian hidup kita, dari ketegangan-ketegangan menghadapi hari esok yang tak menentu. Dengan karya sastra yang baik, kita diajak merawat asa dengan penuh optimistis, serta berani menolak pandangan politisi manapun yang gemar menebar ketakutan dan kebencian, yang dengan ambisius membangun imajinasi bangsa pada khayalan sesat tentang kepunahan Indonesia. ***

Bagikan:

LAINNYA

Kuliah Jalanan
Kamis, 21 Nov 2019 | 10:27 WIB
Kuliah Jalanan
Pesantren di Era Medsos
Kamis, 07 Nov 2019 | 16:39 WIB
Pesantren di Era Medsos
Usia Produktif Jangan Konsumtif
Minggu, 27 Okt 2019 | 20:43 WIB
Usia Produktif Jangan Konsumtif
Perintis Pesantren Modern di Banten
Kamis, 24 Okt 2019 | 20:23 WIB
Perintis Pesantren Modern di Banten

KOMENTAR

Gaya Politik Para Pujangga

PEMERINTAHAN

169 dibaca
Tiga Kali, Pemkab Serang Raih Penghargaan Peduli HAM
384 dibaca
Soal Aset, Bupati Serang Tegaskan Gubernur Tidak Perlu Mediasi

POLITIK

186 dibaca
Hadiri Launching Pilbup Serang 2020, Pandji Pastikan ASN Netral
201 dibaca
KPU Launching Pilbup dan Wabup Serang 2020

HUKUM & KRIMINAL

95 dibaca
Simpan Sabu di Celana, Karyawan Swasta Diamankan Polisi
1091 dibaca
Duh, Gadis Warga Pontang Diperkosa di Areal Persawahan

PERISTIWA

305 dibaca
Bantah Tuduhan, Mantan Bupati Serang Ancam Polisikan Pendemo
204 dibaca
FPKS Duga Kasus Dua BUMD Libatkan Mantan Bupati Serang

EKONOMI & BISNIS

198 dibaca
Pemkab Serang Pamerkan Gerabah Bumijaya di Bandara Soetta
315 dibaca
Pasca Kebakaran, Pedagang Pasar Baros Diberi Bantuan Rp549 Juta
Top