Jumat, 14 Desember 2018

Efek dari Tulisan yang Memikat

(foto ilustrasi)
Senin, 16 Apr 2018 | 11:01 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Muhamad Pauji

“Tulisan yang baik dapat mengubah cara pandang kita dalam memahami dunia dan kehidupan.” Kata-kata tersebut pernah diungkap oleh Steven Pinker, seorang pakar psikolinguistik dari Universitas Harvard, Amerika Serikat. Lebih lanjut, Pinker menegaskan bahwa tulisan yang baik tidak hanya menyampaikan ide dan gagasan, tapi juga mendengungkannya dalam suara dan artikulasi yang kuat.

Sulit untuk dicari bentuk-bentuk latihan atau tips-tips mengenai cara penulisan, hingga seseorang layak disebut penulis yang baik. Bagaimana ia menghubungkan metafora dan dialog-dialog dalam harmoni dan kesenyawaan yang memikat pikiran pembaca. Penulis yang baik sanggup melakukannya sendirian, bagaimana ia harus menyunting karyanya, meralat kesalahan tulis yang menyangkut tatabahasa, penempatan semantik yang pas, referansi, serta meralat kerancuan istilah yang belum dapat dipahami pembaca. Ia pun harus menguasai tradisi setempat secara sosiologis dan antropologis, khususnya bila menyangkut karya sastra yang berhubungan dengan kehidupan daerah tertentu. Belum lagi kesalahan kerangka logika dan inkonsistensi pemikiran.

Masalahnya memang tidak ada pelatihan dasar untuk menjadi penulis yang baik. Tidak mengherankan jika beberapa penulis senior yang mendirikan Rumah Dunia atau Taman Bacaan Masyarakat (di Banten) merasa pusing tujuh keliling memikirkan bibit-bibit penulis baru. Padahal sudah meluluskan ribuan kader-kader yang menyandang sertifikat kelulusan setelah mengikuti berbagai pelatihan menulis.

Kalau sekadar menjadi penulis tentu saja banyak, tapi masalahnya bagaimana merangkai susunan kata dan kalimat yang sanggup memberikan kejutan dan katarsis, hingga pembaca betul-betul terpikat dan tergugah. Sampai kemudian, ketika sekali saja ia pernah membaca karya seseorang (misalnya Nurul Fauziyah), sampai kapanpun para pembaca terus mencecar dan menunggu-nunggu karya terbarunya, dicari dan dikejar-kejar di kolom opini dan wacana manapun dari setiap harian umum di ranah Banten ini.

Konon, mereka yang tulisannya buruk dan asal-asalan, tidak akan pernah peduli bagaimana bahasa bekerja, serta tidak mampu menangkap esensi bagaimana kekuatan diksi dapat menembus energi dalam relung-relung jiwa manusia. Mereka tidak peduli terhadap gaya bahasa, juga tidak peka untuk menangkap sinyal perubahan, hingga pemakaian kata-kata – di tengah masyarakat – semakin lama semakin efektif dalam penggunaan, serta terhempasnya pemakaian-pemakaian semantik yang mubazir, panjang dan berbelit-belit.

Masih menurut testimoni Pinker, sesungguhnya penulis yang baik tidak lahir karena mereka sekadar menulis tiap hari, atau mengikuti bertubi-tubi pelatihan yang diadakan oleh lembaga-lembaga kepenulisan manapun. Ia dengan sadar melatih diri, menelusuri bacaan-bacaan berbobot dan berkelas dunia. Bukan sekadar karya sastra ecek-ecek yang sibuk dalam utak-atik kata yang dapat dinikmati oleh dirinya sendiri. Dapat menciptakan pengaruh hanya untuk dirinya sendiri, tanpa pembahasan atau pembedahan publik, baik melalui media massa maupun online. Karena memang dari kodratnya, penulis yang tidak punya kepekaan terhadap bunyi dan irama, ia pun tak mampu menyampaikan gagasannya secara nyeni dan penuh gaya, laiknya kemahiran dan kejeniusan seorang maestro.

Penulis yang baik, di samping mampu menorehkan gayanya serta menangkap unsur psikolinguistik, ia juga fasih menjelaskan bagaimana kekuatan diksi bekerja serta menempatkan diri dalam imajinasi pembaca dengan baik, hingga mengubah cara pandang mereka terhadap dunia. Sedangkan tulisan yang buruk, akan sulit membangkitkan kualitas budaya dan peradaban manusia Banten dan Indonesia. Oleh karena ketidakpekaan penulisnya, biasanya ia tidak menyadari kalau tulisan itu buruk dan tidak membawa pengaruh apa-apa terhadap transformasi dan perubahan.

Tetapi penulis yang baik mampu mengumpulkan puing-puing reruntuhan – meskipun hanya secuil – namun begitu berharga dan wajib diselamatkan sebagai khazanah pembangunan akal sehat peradaban bangsa. Karya yang baik selalu membantu para pembacanya agar senantiasa optimistis dalam memandang realitas kehidupan. Dan saya meyakini bahwa tulisan yang baik tentu memiliki energi dan kekuatan untuk meringankan penderitaan hidup manusia.

Di samping mengandung unsur magnetik yang menghipnotis pembaca, ia pun berfungsi sebagai obat yang menghilangkan rasa derita dalam kalbu sang pembaca. Ketika seorang pembaca mengalami trance dari suatu karya sastra atau wacana publik yang dibacanya, nampak terlihat kelopak matanya membesar, dan bola matanya jernih berkaca-kaca. Dengan menyimak tulisan yang baik, setiap pembaca akan merasa berada dalam kondisi psikis yang nyaman, serta mampu memetik hikmah dan pelajaran berharga sehubungan dengan problem yang dialami oleh diri mereka sendiri.

Tulisan yang menarik, baik sastra maupun esai, akan memberi kita gambaran yang bisa didekati dengan indera. Ia memberi kita pengalaman nyata tentang sebuah dunia, hingga membuat pembaca ditantang untuk berkaca diri, terutama dengan tokoh cerita atau unsur intrinsik yang tertuang di dalamnya. Dengan demikian, orang bisa mengingat substansi dari kejadian yang dituliskan, dalam waktu yang cukup lama. Seperti halnya kita masih mengenal berbagai-macam legenda yang dituturkan para orang tua, yang memberi kita pelajaran tentang nilai-nilai kebaikan.

Pada prinsipnya, tulisan yang baik dapat membuat pembacanya merasa rileks. Dan pada saat kita merasa rileks, ia bisa menyusup masuk ke dunia bawah sadar, serta memberi kita banyak hikmah dan pelajaran yang amat berharga. (*)

Penulis Aktivis Gerakan Membangun Nurani Bangsa

Redaktur: Arif Soleh
Bagikan:

LAINNYA

Berbagi, Siapa Takut?
Selasa, 11 Des 2018 | 19:14 WIB
Berbagi, Siapa Takut?
Akal Sehat dan Kekuatan Sastra
Selasa, 11 Des 2018 | 16:57 WIB
Akal Sehat dan Kekuatan Sastra
Maaf bagi Seniman Banten
Rabu, 05 Des 2018 | 19:07 WIB
Maaf bagi Seniman Banten
Belajar Membaca 'Wong Liyan'
Senin, 03 Des 2018 | 22:10 WIB
Belajar Membaca 'Wong Liyan'

KOMENTAR

Efek dari Tulisan yang Memikat

BERITA TERKAIT

PEMERINTAHAN

202 dibaca
Gubernur Banten Terima DIPA TA 2019 dari Presiden
2777 dibaca
Gaji Guru Naik Meningkatkan Kualitas Pendidikan dan Menekan Angka Pengangguran
317 dibaca
Walikota dan Wakil Walikota Serang Periode 2018-2023 Dilantik

POLITIK

310 dibaca
Eeng Kosasih Pimpin KNPI Kabupaten Serang, Ini Program Unggulannya
154 dibaca
Pemilu 2019, Pemprov Banten Target Partisipasi Pemilih 80 Persen
219 dibaca
Bahas Pemilu 2019 Damai di Banten

HUKUM & KRIMINAL

128 dibaca
Sabu 2,5 Kg dan 51 Pil Ekstasi Siap Edar di Tangsel Diamankan
256 dibaca
Meresahkan, Tiga Warga Lebak Tersangka Curanmor Diringkus
332 dibaca
Di Pandeglang, Seorang Anak Bacok Ibu Tirinya Hingga Meninggal

PERISTIWA

251 dibaca
Naik Tipe, Polda Banten Diminta Tingkatkan Kamtibmas
280 dibaca
Kapolri Resmikan Kenaikan Tipologi Polda Banten dari Tipe B ke Tipe A

EKONOMI & BISNIS

157 dibaca
Investasi di Banten Harus Meningkatkan Perekonomian dan Kesejahteraan Rakyat 
210 dibaca
Pemprov Banten Lepas Seluruh Saham di Bank BJB
Top