Selasa, 30 November 2021

Cerpen Supadilah Iskandar: Bakti Sosial

Ilustrasi Bakti Sosial. Sumber : https://www.ssi.sg
Minggu, 24 Okt 2021 | 16:57 WIB - Suara Pembaca

Cerpenis dan esais, pengamat sastra mutakhir Indonesia. Kini mengajar sastra di pedalaman Banten Selatan.

Jumat pagi ada acara bersih-bersih nasional. Pak Andika Hamidi, seorang Sekretaris Bupati Serang (biasa dipanggil Pak Sekab), menghampiri atasannya sambil membawa beberapa berkas yang harus ditandatangani. “Ini daftar peserta kita, Bu,” kata Pak Sekab.

“Peserta apa lagi itu?” tanya Ibu Bupati.

“Untuk acara bersih-bersih nasional besok. Semua pejabat teras dan tokoh masyarakat akan turut-serta membersihkan jalanan di sekitar alun-alun.”

Pak Sekab kelihatan kalem dan alim. Sebagai pegawai eselon atas, dandanannya lebih menyerupai bapak bangsa Soekarno ketimbang mantan penguasa Orde Baru Soeharto. Kelihatan dari caranya mengenakan kopiah dan kemeja yang rapi, gagah dan kinclong. Rambutnya tersisir rapi, licin berkat minyak rambut bermerek yang dibelikan istrinya. Meskipun wajahnya agak kusam dan dahinya berkerut, tetapi kopiah hitam dirasa cukup untuk menutupi kekusutan wajahnya.

Ibu Bupati membaca daftar peserta dalam waktu yang cukup lama, kemudian tanyanya, “Kenapa wartawan tidak dimasukkan dalam daftar?”

Pak Sekab berpikir-pikir sejenak. “Oh, iya, berarti para wartawan juga ikut bersih-bersih ya, Bu?”

“Iya dong, kan namanya juga bersih-bersih nasional, berarti semua pihak perlu dilibatkan. Iya, kan?”

Sang Bupati lebih terdengar puas ketimbang rasa kesal. Pak Sekab berpikir, bahwa atasannya itu mampu memikirkan semua unsur tanpa kecuali, dan inilah kepemimpinan sejati sedang memainkan peran penting di republik ini.

Pak Sekab teringat ketika suatu kali Bupati mengomel habis-habisan, karena hidangan terlambat disajikan dalam jamuan makan malam untuk menghormati kunjungan Walikota Tangsel beberapa waktu lalu. Padahal dia sama-sama pemimpin perempuan juga, bahkan masih saudara sepupu juga.

“Tambahkan empat lembaga dari unsur wartawan, dan pastikan bahwa mereka adalah koran terdepan di kabupaten ini, baik luring maupun daring.”

“Maksud Ibu?”

“Sekarang ini sudah zaman milenial, kok belum ngerti istilah daring dan luring.”

“Iya Bu, akan saya catat,” katanya mengangguk.

Sang Sekab mencatat tiga istilah yang nanti bakal dicari maknanya di kamus Google, yakni “luring”, “daring”, dan “milenial”.

“Catat semua daftarnya biar lengkap,” tegas Bupati, “nanti semua daftar itu akan berguna kalau ada acara semacam ini lagi, mengerti?”

“Mengerti, Bu. Tapi ngomong-ngomong, acara ini akan dimulai jam sembilan pagi, apakah Ibu bakal hadir?” tanyanya kemudian.

“Ya, kita lihat saja nanti,” ia berdehem sejenak, dan lanjutnya, “bagaimanapun saya kan harus memberi contoh kepada yang lainnya.”

“Baik kalau begitu, Bu. Jadi mobil Lexus akan menjemput Ibu jam delapan pagi. Nanti rombongan kami akan mengikuti Ibu dari belakang.”

Ibu Bupati menimbang-nimbang sejenak, kemudian katanya, “Jemput saya jam setengah sembilan saja. Kalau jam delapan masih terlalu pagi, oke?”

“Siap, Bu.”

***

Jumat pagi itu, pukul 08.30, rombongan bupati melaju ke alun-alun kota. Segenap karyawan, ibu rumah-tangga, pelajar, guru, ustaz, tentara dan para pensiunan ke luar rumah untuk menyapu sepanjang jalan, dan udara begitu tebal oleh debu-debu yang beterbangan. Pak Sekab bergegas menutup kaca jendela mobil, hingga yang tercium hanya aroma pengharum yang tertempel di atas dasbor.

Di alun-alun bagian barat, rombongan itu menepi di samping barisan mobil-mobil mewah yang dikendarai eselon atas. Di depan mereka sekelompok pejabat tinggi dan orang penting telah berkumpul untuk menunggu kedatangan sang Bupati. Seseorang telah mengatur para polisi berseragam untuk berdiri dan berjaga-jaga di setiap sudut.

Pak Sekab melangkah keluar dari Lexus dan membukakan pintu lebar-lebar bagi sang Bupati. Para pejabat dalam kerumunan yang tengah menunggu, melangkah maju dengan wajah tersenyum sumringah pada sang Bupati. Semua orang tentu mengenalnya, dan berharap menjadi orang pertama yang menyalami tangan Bupati.

“Assalamualaikum, Bu… assalamualaikum….”

“Wa’alaikum salam,” balas Ibu Bupati.

Sang Bupati menjawab salam berkali-kali seraya menyalami tangan-tangan mereka satu persatu.

Dua orang stafnya mendekat, diikuti dua polisi mengenakan kaos hitam turut mendorong gerobak yang berisi sapu lidi dan sapu-sapu ijuk. Seorang stafnya mengambil sapu lidi paling bagus berukuran agak besar dihiasi gagang bambu yang dilingkari kain bermotif batik. Ia menyerahkannya pada sang Bupati sambil menunduk hormat bagaikan seorang santri yang mencium tangan sang kiai. Ketika peserta lain yang terdiri dari para tokoh masyarakat telah mendapatkan sapunya masing-masing, seorang petugas berseragam dengan mengenakan topi merah membawa rombongan ke tengah alun-alun. Dan tentu saja, secara alamiah sang Bupati akan berjalan paling depan.

Masyarakat sekitar menyaksikan prosesi agung orang-orang yang menyandang sapu bagaikan para penyihir dalam flm Harry Potter. Dengan iringan para aparat dan petugas yang diselingi jepretan kamera para wartawan, masyarakat serta-merta ingin mendekat. Betapa luar biasa (pikir mereka), Ibu Bupati yang sering disaksikan melalui koran dan layar televisi lokal itu akan menyapu halaman alun-alun kota, bersama staf-stafnya.

Subhanallah, cek, cek, cek,” kata seorang ibu jamaah pengajian berdecak kagum.

“Wiih hebat tenan, Ibu Bupati mau nyapu jalanan,” ujar seorang pedagang sayur.

“Begitu dong… itu namanya guru kencing berdiri, murid kencing bereretan, hehehe…,” celetuk seorang seniman jalanan.

“Pokoknya, mantab!” teriak seorang pedagang Warteg.

“Mantap, Pak, bukan mantab!” kritik seorang kritikus sastra dari Rumah Dunia.

Sekitar sembilan puluh empat orang terkemuka dan terpandang itu pun mulai menyapu. Kerumunan orang-orang yang melihat, dihalau aparat agar menjauh dan jangan melewati garis pembatas.

“Coba, lihat yang pake kaos kuning, celana hijau dan kerudung biru, tuh,” kata salah seorang dari mereka.

“Maksudnya, bendera partai?” tanya temannya.

“Bukan, maksud saya, orang yang nyapu di tengah alun-alun itu?”

“Ooh itu, emang kenapa?”

“Berani sumpah, orang itu adalah Ibu Bupati…”

“Ah, yang bener?”

“Bener, serius, sumpah… demi Allah….”

“Hussh, jangan teriak-teriak!” bentak seorang aparat.

Alun-alun itu sangat luas sehingga mereka pun kebingungan, mau menyapu di sebelah mana. Pelataran yang dilapisi konblok sudah bersih, di tengah rerumputan lapangan juga nyaris tidak ada sampah. Tapi mereka terlihat sibuk mondar-mandir di sekeliling lapangan, entah menyapu apa. Sampah yang kelihatan mencolok hanya beberapa puntung rokok dan bungkus permen bekas anak-anak sepulang sekolah. Nampak beberapa staf bupati berkejar-kejaran untuk berebut bungkus permen, lalu memasukkannya ke tong sampah. Kamera wartawan mengambil gambar mereka saat berebut mengambil bungkus permen, bagaikan anak-anak kampung yang berlarian mengejar-ngejar belalang dan capung.

Para fotografer berancang-ancang ingin mengambil gambar Bupati, tetapi sayang tidak ada sampah di sekitar itu. Pak Sekab ingin sekali menyulut rokok dan membuang puntungnya di depan Bupati, tapi khawatir sang bupati punya penafsiran lain. Tak berapa lama, sebagian merunduk dan menekuk sebelah lutut untuk mencari gambar yang bagus dari sudut menyamping. Bagaikan segumpal awan putih di tengah badai, sang Bupati terus-menerus disinari oleh lampu kilat kamera. Lalu seorang lelaki bertopi yang membawa kamera video menghampiri Pak Sekab.

“Saya dari wartawan media daring,” ujar lelaki itu. “Bisa nggak Pak Andika minta mereka berbaris dalam satu barisan, supaya gambar mereka kena semuanya?”

Pak Sekab melompat minta pendapat Ibu Bupati, yang kontan menyetujui usulan itu. Orang-orang penting itu membentuk satu barisan panjang, dan mulai berpose menggerak-gerakkan sapu mereka, tak peduli ada kotoran atau tidak di ujung sapu-sapu itu. Seorang kameramen TV lokal maju dan membetulkan posisi kameranya. Ia pun ingin mengambil gambar yang bagus, kemudian berlari ke arah Bupati, “Bu, saya minta barisan ini menghadap ke arah timur, supaya jangan memunggungi matahari.”

“Baiklah,” kata Ibu Bupati dengan penuh sigap bergegas memimpin barisan. Tak lama kemudian, mereka pun kembali menyapu. Dengan senang hati para kameramen itu berlari ke muka barisan, membidikkan kamera mereka ke arah Bupati. “Baik, oke siap?” kata salah seorang mulai merekam adegan, “Sekarang ayunkan sapu bersama-sama. Sambil tersenyum dan jangan ada yang mengerutkan kening… oke, Ibu Bupati tolong angkat dagunya, senyum… tahan senyumnya, Bu… bagus… ya!”

Kamera pun menjepret, setelah itu dilihat-lihat sepintas kemudian dimatikan. Para wartawan itu menjabat tangan Bupati, mengucapkan terimaksih yang sebesar-besarnya, karena sang Bupati telah berkenan membantu para reporter yang merupakan bagian dari rakyat yang tak kalah jelata dan marjinal juga.

***

“Saya kira ini adalah hari yang istimewa,” ujar beberapa petugas berseragam yang mengenakan topi merah.

“Bagus, alhamdulillah,” ujar Bupati, “wah, kami sudah merepotkan Bapak-bapak nih?” tambah Bupati basa-basi.

Beberapa wartawan lokal datang memburu Ibu Bupati. “Ada pesan yang ingin disampaikan, Bu, khususnya buat masyarakat Serang ini?”

Bupati berpikir-pikir dalam waktu yang cukup lama. “Ah, saya kira nggak ada pesan khusus. Pokoknya semua warga kabupaten Serang harus senantiasa menjaga kebersihan dan kesehatan, karena bagaimanapun kebersihan itu sebagian daripada iman. Setuju?”

“Setujuuu!” sambut para staf-stafnya.

Rombongan wartawan itu menuliskan kata-kata berharga yang diucapkan dari bibir Bupati Serang, seolah kata-kata itu adalah gagasan brilian yang menyembul dari otak kepalanya.

Dua orang petugas menyeret gerobak ke tengah-tengah mereka, kemudian satu persatu mengembalikan sapu-sapu mereka. Pak Sekab mengambil sapu dari tangan Bupati dan menaruhnya di gerobak.

“Ayo, Ibu pamit duluan ya? Sukses buat semuanya,” ujar Bupati seraya menyalami mereka satu persatu, kemudian masuk ke mobil Lexus-nya. Yang lain-lain menunggu hingga mobil Bupati menjauh dan hilang dari pandangan mata.

Mobil mewah itu diparkir di depan rumah Ibu Bupati. Seorang pembantu, Mbak Rini sudah mempersiapkan air mandi hangat, handuk bersih berikut sabun dan shampo kesukaan Bupati. Ketika masuk ke rumah, ia melihat seisi rumah berantakan karena ulah anak bungsunya yang sedang mengerjakan PR keterampilan di sekolahnya. Di sana sini bekas kertas-kertas digunting, dari asturo, karton, origami, hingga berbagai warna-warni spidol dan crayon. Sesaat Bupat masuk ke kamar mandi, membersihkan badan, kemudian keluar dan menyesap teh manis di atas meja.

Seorang anak bungsunya berlari-lari ke arahnya sambil berteriak-teriak, “Mah, tadi Dede lihat Mama di layar TV?”

“Oya? Acara apa?”

“Nggak tahu, sepertinya Mama sedang di alun-alun menjadi juri lomba…”

“Lomba apaan?” tanya Bupati kaget.

“Dede lihat Mama sedang menunjuk permen, lalu orang-orang berebutan mengambil permen itu.”

Bupati menghempaskan badannya di kursi sofa dengan tatapan menerawang. Dengan perasaan dongkol, ia pun menatap lantai yang dipenuhi kertas-kertas di sana-sini, seraya berteriak memanggil seorang pembantunya.

“Mbak Rini! Mbak Rini…!”

“Iya, ada apa, Bu?” kata si pembantu mendekat.

“Ini rumah kok kayak kapal pecah aja? Coba sapu sampah-sampah di lantai itu! Cepat!”

***

Bagikan:

LAINNYA

Kucing Itu Menyatukan Kembali 
Rabu, 24 Nov 2021 | 11:35 WIB
Kucing Itu Menyatukan Kembali 
Budaya Literasi dalam Islam
Senin, 22 Nov 2021 | 14:14 WIB
Budaya Literasi dalam Islam
Cerpen Habib Maksudi: Ketinggalan Dompet
Senin, 01 Nov 2021 | 08:57 WIB
Cerpen Habib Maksudi: Ketinggalan Dompet
Cerpen Chudori Sukra: Penyerbuan di Kebun Solear
Rabu, 27 Okt 2021 | 11:36 WIB
Cerpen Chudori Sukra: Penyerbuan di Kebun Solear

KOMENTAR

Cerpen Supadilah Iskandar: Bakti Sosial

INILAH SERANG

91 dibaca
Kerjasama Produsen Sepatu, Bupati Serang Gelorakan ‘UMKM Bisa’
106 dibaca
Hari Korpri ke-50 Tahun, Sekda Kabupaten Serang Ingatkan ASN Tiga Hal
204 dibaca
Resmob Polres Serang Ringkus Pentolan Perampas Motor

HUKUM & KRIMINAL

204 dibaca
Resmob Polres Serang Ringkus Pentolan Perampas Motor
232 dibaca
Lanjutkan Pembongkaran THM, Pemkab Serang Terjunkan 500 Personil Satpol PP
271 dibaca
Duh, Gadis ABG Disetubuhi Orangtua Angkatnya hingga Melahirkan

POLITIK

421 dibaca
Target Golkar di 2024, Andika Tugaskan AMPI Banten Rangkul Milenial
679 dibaca
144 Kades Dilantik, Sekda Entus: Berhentikan Perangkat Desa Kades Bakal Disanksi
613 dibaca
144 Kades Terpilih Dilantik, Bupati Serang Larang Kades Ganti Perangkat Desa

PENDIDIKAN

148 dibaca
Pemkab Ajak Paguyuban Anak Serang Gencar Lakukan Literasi Digital
229 dibaca
Hari Guru Nasional ke-76 Tahun, Wabup Serang harap Kuantiti dan Kualitas Ditingkatkan
Top