Senin, 18 Oktober 2021

Cerpen Muakhor Zakaria: Hemat Pangkal Kaya   

Ilustrasi/Net
Selasa, 05 Okt 2021 | 10:46 WIB - Suara Pembaca

Berkali-kali Irgi minta dibelikan boneka Upin dan Ipin, tetapi Mardi ayahnya, tak mau membelikannya. Ibunya mengatakan boleh-boleh saja, tetapi menurut sang Ayah, “Kenapa juga harus selalu menuruti kemauan anak? Orang tua kok selalu kalah sama anak kecil?”

Mardi bilang anaknya itu tidak bisa menghargai uang, karenanya harus belajar dan dilatih sedari kecil. Anak-anak harus mengerti apa artinya hidup bersahaja di masa pandemi Covid-19 ini. Kalau sampai dibelikan boneka Upin dan Ipin, ia akan selalu hidup boros, berkata kasar, dan ngelunjak pada orang tuanya sendiri. Tidak menutup kemungkinan kalau dewasa ia akan menjadi tukang palak di tempat-tempat parkir di depan supermarket itu. Hal itu dikarenakan dulunya terbiasa mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan cara mudah.

Dengan kesimpulan itu, alih-alih membelikan anaknya boneka Upin dan Ipin, Mardi cuma membelikan sebuah celengan berbentuk ayam jago, dan selorohnya, “Nah, dengan ini kamu akan tumbuh dewasa menjadi anak baik dan saleh, tak mungkin menjadi anak urakan seperti preman. Bapak ingin kamu memiliki jiwa yang halus, santun, serta penyayang terhadap setiap makhluk Tuhan.”

Meskipun Irgi tak menyukai celengan ayam tersebut, ia juga sering jajan di warung Bi Siti di sebelah rumah, lalu memasukkan bungkus makanannya ke dalam celengan. Lama-kelamaan kebiasaannya itu menjadi menyenangkan baginya. Tiapkali minta jajan, ia tak pernah mengisi celengan tersebut dengan uang kembalian, tetapi memilih jajanan yang berbungkus kardus atau kertas, lalu memasukkannya melalui lubang pada tubuh ayam jago tersebut.

Setelah itu, ia tunjukkan celengan tersebut kepada Mardi ayahnya, sambil mengocok-ngocoknya dengan penuh semangat. Dan ia suka sekali pada bunyi-bunyian dari dalam perut ayam jago itu.

“Jadi, nanti kalau ayam jago itu sudah penuh dan tidak bergemirincing lagi, barulah Ayah akan belikan boneka Upin dan Upin.”

“Serius, Yah?” tanya Irgi.

“Serius.”

“Benar, Yah?”

“Ya, Ayah janji,” katanya meyakinkan.

Irgi pun mengangkat tangannya untuk saling tos, menandakan janji telah disepakati bersama.

Sebenarnya, si ayam jago itu agak lucu dan imut, dan diberinya nama “Dora”. Jenggernya panjang ke atas, mulutnya melancip ke depan. Matanya juga memancar tajam, seakan menunjukkan pandangan hewan yang sedang tersenyum. Dia akan selalu tersenyum saat dimasukkan kardus bungkus snack atau permen setiap hari, dan ia akan tetap tersenyum meskipun sang tuan tidak memasukkan apapun ke dalam lubangnya.

Dora tidak seperti mainan Irgi lainnya yang biasanya menyala berkerlap-kerlip, disertai baterai atau perpegas. Ia lebih kalem dan tenang. Irgi kadang mengawasinya kalau-kalau ada kucing masuk lalu menyenggolnya dari atas meja. “Kau harus hati-hati, Dora, karena kau tak bisa turun dan naik sendiri. Kau harus dipegang erat-erat supaya tidak jatuh.”

Lama kelamaan, Irgi seperti tergila-gila pada Dora. Karena rasa sayangnya pada binatang itu, ia makin sering minta uang jajan pada ibunya, lalu memasukkan bungkus makanan yang dibelinya secara diam-diam. “Aku sayang kamu, Dora, aku akan selalu menyayangimu biarpun nanti kamu jadi preman atau tukang palak, yang penting kamu jangan sampai loncat dari atas meja, ya?”

Seminggu kemudian, sang ayah menyantuh tubuh Dora lalu mengocok-ngocoknya dengan rasa gembira. “Awas, Yah, nanti dia sakit perut,” canda Irgi sambil tertawa keras.

Beberapa hari kemudian, kocokan itu tidak lagi bergemerincing, hingga sang Ayah berkata girang, “Itu artinya apa, Nak? Berarti besok kamu akan dapat boneka Upin dan Ipin…”

“Hore… Irgi berhasil… sekarang Irgi berhasil….”

Ia merebut Dora dari genggaman ayahnya, dan memeluknya erat-erat. Tak lama kemudian, muncullah si Ibu dari balik pintu sambil membawa martil. “Ayo, kita pukul sama-sama Doranya,” kata si Ibu senang. Martil itu diserahkannya pada sang Ayah.

“Jangan, Yah! Menurut Irgi sebaiknya jangan dipukul, kasihan,” cegah Irgi kalem.

“Kenapa?” tanya si Ibu heran.

“Tolong, jangan pukul Dora. Meskipun dia ayam jago, tapi dia ayam yang jinak. Tolong, selamatkan dia, jangan dipukul….”

“Ini buat kamu sendiri, Nak,” kata si Ayah, dan ia meletakkan martil tersebut di tangan Irgi. “Ayo, pecahkan sekarang juga, nanti besok pagi kamu langsung dapat boneka Upin dan Ipin.”

Dora menatap sambil tersenyum, tetapi dalam pandangan Irgi itu adalah senyum yang menyedihkan, karena ia akan dipaksa untuk mengakhiri hidupnya. Tetapi, akankah Irgi tega menghajar kepala Dora dengan martil?

“Pokoknya Irgi tidak tega, Yah. Kalau Ayah atau Mama tega menghajar binatang mungil ini dengan martil, silakan saja,” dan Irgi pun mengembalikan martil itu ke tangan ayahnya.

Si Ibu merasa terenyuh dan meneteskan air matanya. Ia merasa bangga dengan kelembutan hati sang anak, yang bahkan untuk memukul sebuah boneka ayam pun ia tak sanggup untuk menyakitinya.

Ah, kamu belum ngerti, Nak,” kata sang Ayah seraya mengayunkan martil tersebut ke perut celengan.

“Jangan, Yah!” kata si Ibu menahan pukulannya.

“Biarkan saja, Mah, kalau Ayah tega melakukannya, silakan saja!” teriak Irgi dengan nada sedih bercampur marah.

“Pokoknya jangan, Pah, cukup, biarkan Dora di atas meja,” desak si Ibu.

Ketika mereka meninggalkan ruangan, Irgi memeluk Dora erat-erat. Sesaat kemudian ia menatap mata Dora sambil berujar, “Tenanglah, Dora, kamu jangan menangis. Aku akan berjuang keras untuk menyelamatkan nyawamu….”

Malam harinya, Irgi menunggu ayahnya selesai menonton televisi di ruang tengah sampai ia masuk kamar dan tidur. Kemudian, diam-diam ia menyelinap keluar rumah bersama Dora. Ia berjalan sangat jauh sampai tiba di pesawahan luas yang penuh ilalang. “Ayam jago suka sekali bermain di sekitar pesawahan, dan pintar mencari makan sendiri di sekitar ini.”

Irgi meletakkan Dora di bawah ilalang, kemudian mengelus-elus kepalanya dan mengucapkan selamat tinggal. Dia hanya menatap tuannya dengan sedih. Seakan tahu bahwa besok pagi ia akan mendapat teman baru, dan tidak akan berjumpa dengannya untuk selama-lamanya. (*)

Penulis: Cerpenis generasi milenial, dosen perguruan tinggi La Tansa, Rangkasbitung, Banten Selatan

Bagikan:

LAINNYA

Cerpen Ramli Lahaping: Rantai Bumerang
Senin, 18 Okt 2021 | 10:49 WIB
Cerpen Ramli Lahaping: Rantai Bumerang
Stigma Negatif yang Meresahkan
Kamis, 09 Sept 2021 | 14:11 WIB
Stigma Negatif yang Meresahkan
Dalam Kesulitan Pasti Ada Kemudahan
Selasa, 10 Agt 2021 | 11:21 WIB
Dalam Kesulitan Pasti Ada Kemudahan
Pandemi dan Peringatan Tuhan
Senin, 02 Agt 2021 | 14:05 WIB
Pandemi dan Peringatan Tuhan

KOMENTAR

Cerpen Muakhor Zakaria: Hemat Pangkal Kaya   

INILAH SERANG

205 dibaca
Resmob Polres Serang Tangkap Dua Pengecer Judi Togel
147 dibaca
Penilaian KI Banten Kabupaten Serang Berpotensi Paling Informatif
180 dibaca
Pengedar Pil Koplo Ditangkap Satresnarkoba Polres Serang Saat Menonton Tv

HUKUM & KRIMINAL

205 dibaca
Resmob Polres Serang Tangkap Dua Pengecer Judi Togel
180 dibaca
Pengedar Pil Koplo Ditangkap Satresnarkoba Polres Serang Saat Menonton Tv
223 dibaca
Dikenakan Pasal Berlapis, Polda Banten Lakukan Penahanan Terhadap Brigadir NP

POLITIK

133 dibaca
Jelang Pilkades Serentak, Kapolres Serang Kunjungi Ketua MUI
178 dibaca
Pilkades Serentak di Kabupaten Serang Digelar 31 Oktober 2021
594 dibaca
Polres Serang Kirim 150 Personil Bantu Pengamanan Pilkades Serentak di Kabupaten Tangerang

PENDIDIKAN

185 dibaca
Wagub Andika Ingin Perencanaan Pembangunan Berbasis Teknologi Tepat Guna
240 dibaca
Baznas Pandeglang Gulirkan Ratusan Juta untuk Program Studi Mahasiswa
Top