Selasa, 30 November 2021

Cerpen Habib Maksudi: Ketinggalan Dompet

Ilustrasi Net
Senin, 01 Nov 2021 | 08:57 WIB - Suara Pembaca

Penulis (Cerpenis dan esais, pengamat sastra Indonesia mutakhir)

Terburu-buru ingin menjenguk seorang teman sesama Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di klinik Jalan Fatimiya di Kota Jedah. Ia mengalami kecelakaan tunggal karena taksinya terselip dan menabrak trotoar jalan. Kabarnya, ia hanya mengalami luka ringan di sekitar lengannya, dan pihak perusahaan akan menanggung semua kerugian yang diakibatkan faktor ketidaksengajaan itu.

Yang menjadi masalah adalah kemacetan yang cukup panjang di sekitar Jalan Fatimiya, karena adanya razia. Seperti dugaan saya, di ujung jalan sana banyak mobil-mobil polisi di pinggir jalan memeriksa SIM dan STNK. Setelah saya majukan kendaraan beberapa puluh meter, saya pun membuka jendela dan menyerahkan STNK yang tersimpan di boks mobil. Tetapi, ketika saya harus menunjukkan SIM dan identitas sebagai TKI, saya baru menyadari bahwa dompet saya tidak sempat dibawa, dan ketinggalan di kotak meja di dalam flat.

Seketika saya panik dan kalang kabut tak keruan. “Maaf, dompet saya ketinggalan, Pak.”

Ia menatap muka saya dengan cemberut, seakan membaca adanya rasa takut di mata saya.

“Iqama, iqama!” teriaknya dengan mata melotot. Dia bicara banyak dalam bahasa Arab, yang sebagiannya saya paham bahwa ia menginginkan saya menunjukkan bukti-bukti sebagai tenaga kerja asing yang legal dan sah secara hukum.

Karena saya adalah tenaga kerja Indonesia yang tinggal di Arab Saudi, tentulah para polisi itu ingin bukti yang selengkap-lengkapnya, apalagi soal identitas SIM yang harus selalu tersedia, terlebih lagi bagi seorang yang bekerja dua tahun sebagai sopir taksi di negeri itu.

Ia menyuruh saya parkir agak menyamping di pinggir jalan, lalu memerintahkan saya keluar dari mobil. Melihat keengganan sikap saya, seorang polisi membentak keras agar saya cepat keluar, dan tak boleh komentar apapun.

Saya keluarkan ponsel untuk menelpon Hamid, teman TKI yang tinggal satu flat dengan saya. Tetapi entah kenapa, saya hubungi beberapa kali tetapi tidak ada nada sambung sama sekali. Akhirnya, saya mengirim SMS (pesan teks) dan mengetik beberapa kata bahwa saya sedang ditahan polisi. Seorang polisi bergegas merengkuh tangan saya, lalu menyuruh saya masuk van yang diparkir di pinggir jalan. Di dalam kendaraan itu, sudah ada tiga orang warga asing (migran) yang tidak memiliki surat identitas maupun visa yang validitasnya sah secara hukum. Di antara mereka adalah warga Afghanistan, India dan seorang wanita dari Thailand.

Mereka nampaknya merasa tegang dan ketakutan, tetapi kemudian salah seorang angkat bicara, “Bisa-bisa kita semua kena deportasi, nih.”

Saya mengamit lengan seorang polisi yang berdiri di samping pintu van, bahwa identitas saya sebagai TKI sudah lengkap, tetapi ketinggalan di dalam flat. Ia pura-pura tak mendengar ucapan saya, malah meludah sinis ke lantai. Ia mengucapkan beberapa patah kata dengan suara keras. Karena rasa takut, saya pun undur diri dan kembali ke tempat duduk.

Seorang wanita Thailand yang cantik dan duduk di sebelah saya menoleh, dan katanya tenang, “Sekarang sudah mendekati hari Minggu. Biasanya kita mendekam dulu di kantor polisi sampai Sabtu sore, setelah itu kita diperbolehkan pulang.”

Saya menghela napas seraya memprotes, “Saya orang Indonesia, dan surat-surat saya lengkap tapi ketinggalan di flat.”

Bagaimanapun Anda harus membuktikan itu. Kalau tidak, Anda harus menginap dulu selama beberapa hari di tahanan.”

Seorang lelaki dari India, berusia sekitar 40-an justru menangis sesenggukan, “Aduh, bagaimana nasib saya ini? Sudah berbulan-bulan saya kerja di sini, dan kabur dari majikan saya. Kalau sampai dideportasi, siapa yang kasih makan keluarga saya di India….”

Si wanita Thailand berkata dengan tatapan berkaca-kaca, “Kalau Anda bersikeras tinggal di sini, Anda harus bisa berkompromi dengan mereka.”

Lelaki India itu tersentak saat menangkap maksud perkataan si wanita Thailand. Ia mengumpat ketus dalam bahasa India, seolah memaki-maki wanita itu sebagai pelacur yang tak tahu malu. Si wanita berpaling tak acuh, kemudian berkata membela diri, “Masalahnya kita harus realistis. Saya sendiri punya adik tiga, dan Ibu saya sudah tua. Tentu saja tidak kecil biaya untuk mereka.”

***

Wanita Thailand itu nampaknya sudah berpengalaman. Dia mengatakan, biasanya proses penahanan tidak berlangsung lama. Kejadian ini bukan kali pertama ia alami. Jika polisi yang bertugas minggu itu tidak korup, biasanya diseling oleh petugas lainnya yang berbeda karakternya. Jika hari pertama berlalu tanpa ada petugas yang menerima rayuannya agar membebaskan, maka beberapa hari berikutnya akan ada petugas lain yang lebih “toleran” terhadap para pekerja migran. Mereka paham, negara ini membutuhkan tenaga kerja asing, dan ini salah satu kebijakan yang bersifat paradoksal.

“Saya sering menyewa tempat khusus secara sembunyi-sembunyi, baik itu di hotel, apartemen atau di dalam mobil polisi,” ucapnya mesum, “Anda tahu nggak, berapa banyak nomor polisi di Jedah ini yang ada di ponsel saya?”

Sebelum ditanya-tanya lebih lanjut, kami dipindahkan dari van ke sel yang sempit dan pengap. Saya berpikir, lebih baik berurusan dengan polisi gadungan seperti seseorang yang telah mencatut limabelas dolar dari dompet beberapa bulan lalu.Setelah saya kehilangan limabelas dolar, maka urusan sudah selesai, ketimbang harus repot berurusan dengan birokrasi kepolisian secara formal, yang pada akhirnya toh ditahan juga.

Saya sudah menghabiskan tiga hari di balik jeruji sel kantor polisi. Tapi waktu tiga hari itu serasa berminggu-minggu lamanya. Di samping tempatnya yang pengap, ditambah dengan bau badan yang apek dari beberapa teman sel yang kebanyakan dari keturunan Arab. Hawa panas di bulan Juli yang membuat badan berkeringat, disertai rasa gelisah dan cemas mengingat belum ada kepastrian, kapan saya akan dibebaskan.

Terdengar suara-suara perempuan yang tidak jauh dari tempat sel saya. Sel perempuan itu nampaknya berada di salah satu ujung koridor. Saya mendengar ada suara perempuan berbahasa Malaysia yang meratap minta dikeluarkan. Ia mengatakan bahwa anaknya ada empat orang di Malaysia. Mereka semua, dia yang kasih makan. Kalau dia sampai didepotasi, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberi makan. Perempuan Malaysia terus saja mengeluh, kadang dalam bahasa Inggris dan kadang dalam bahasa Melayu. “Mereka semua akan mati kelaparan kalau saya dideportasi. Tolonglah saya… tolonglah, Pak Polisi....”

Malam hari, satu persatu tahanan di sel mulai tertidur. Ratapan perempuan Malaysia itu semakin kencang. Dari balik jeruji, saya melihat seorang polisi bertongkat hitam bergegas menuju sel perempuan ituSaya meringkuk ketakutan di tempat duduk, sambil membayangkan kejadian yang mungkin menimpa perempuan Malaysia itu. Polisi itu menyerukan sesuatu yang tidak terdengar jelas. Jantung saya berdegup kencang. Perempuan itu balas berteriak. Benturan keras memotong percakapan itu. Para tahanan terjaga. Polisi itu tengah memukuli jeruji sel dengan tongkatnya. Setelah itu, suasana menjadi hening. Orang-orang tidur kembali, namun saya tak bisa memejamkan mata hingga datangnya waktu subuh.

Sedikitnya, tiap sepuluh menit ada saja tahanan yang bangun. Mereka memanggil sipir dan minta izin ke kamar mandi. Entahlah, bagaimana caranya mereka bisa tidur, sementara udara terasa pengap dan gerah, dan suara perempuan Malaysia terus saya meratap dari waktu ke waktu.

Saya merapatkan kedua lutut dan menyandarkan punggung di dinding. Semakin lama, semakin didera perasaan gundah dan frustasi, seakan tidak ada harapan sama sekali untuk segera bisa keluar dari tahanan. Ketika saya mengirim SMS (pesan teks) pada Hamid, saya tidak membayangkan akan menetap begitu lama di dalam sel tahanan ini. Apa yang terjadi? Kenapa Hamid, teman sesama TKI itu seakan tak peduli pada nasib saya?

***

Keesokan harinya menjelang subuh, saya mendengar suara langkah kaki di koridor. Langkahnya mantap. Saya memandang ke arah jeruji besi dan melihat seorang polisi melintasi sel tanpa menoleh dan terus menyusuri koridor. Suara langkah kakinya terhenti. Saya mendengar gemerincing kunci dan bisik-bisik lirih. Ada yang membuka pintu logam itu. Si wanita Thailand tampaknya sudah tertidur namun kini terbangun. Ia bicara dengan suara berbisik dengan polisi itu.

Tak lama kemudian, ada suara pintu ditutup. Terdengar suara langkah kaki lebih dari satu orang. Saya masih memandang ke arah jeruji. Orang-orang masih mendengkurSi polisi melangkah tegak, sementara wanita Thailand yang cantik itu mengekorinya dengan penuh percaya diri. Wanita itu menoleh sepintas ke arah sel kami. Alisnya terangkat dan senyumnya yang menawan mengingatkan saya pada ucapannya yang dikatakan di dalam van itu. Saya terus terjaga hingga pagi seraya memikirkan wanita itu. Entahlah, di hotel atau apartemen mana mereka menyewa tempat, sampai kemudian ia menghirup udara kebebasan.

Kadang saya berpikir, bagaimana harus menceritakan kejadian semacam ini kepada Komnas HAM, KontraS, atau lembaga apapun yang berkaitan dengan pembelaan terhadap hak-hak asasi manusia? Perlukah saya ceritakan pengalaman hidup saya kepada mereka, atau mampukah mereka berbuat sesuatu sehubungan dengan kesaksian yang saya alami sendiri di dalam sel tahanan itu?

Pada Senin pagi, saya dipanggil menghadap meja polisi, kemudian seorang polisi meminta kunci flat saya. Saya berdiri lesu di hadapan polisi itu, lalu ia keluar kantor sambil membawa kunci itu. Setengah jam kemudian, ia nongol kembali sambil merengkuh lengan saya menuju ruang depan kantor kepolisian. Di situ saya melihat Hamid teman saya, yang membawakan surat-surat saya sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bertugas di wilayah Kota Jedah. Seorang polisi lain menghampiri saya seraya menyerahkan ponsel sambil tersenyum. Ia berkata singkat dengan ramah, “Lain kali dompetnya jangan ketinggalan lagi, ya?”

Saya pun segera keluar dari kantor kepolisian, sambal berteriak, “Bangkooong!” *

Bagikan:

LAINNYA

Kucing Itu Menyatukan Kembali 
Rabu, 24 Nov 2021 | 11:35 WIB
Kucing Itu Menyatukan Kembali 
Budaya Literasi dalam Islam
Senin, 22 Nov 2021 | 14:14 WIB
Budaya Literasi dalam Islam
Cerpen Chudori Sukra: Penyerbuan di Kebun Solear
Rabu, 27 Okt 2021 | 11:36 WIB
Cerpen Chudori Sukra: Penyerbuan di Kebun Solear
Cerpen Supadilah Iskandar: Bakti Sosial
Minggu, 24 Okt 2021 | 16:57 WIB
Cerpen Supadilah Iskandar: Bakti Sosial

KOMENTAR

Cerpen Habib Maksudi: Ketinggalan Dompet

INILAH SERANG

92 dibaca
Kerjasama Produsen Sepatu, Bupati Serang Gelorakan ‘UMKM Bisa’
107 dibaca
Hari Korpri ke-50 Tahun, Sekda Kabupaten Serang Ingatkan ASN Tiga Hal
205 dibaca
Resmob Polres Serang Ringkus Pentolan Perampas Motor

HUKUM & KRIMINAL

205 dibaca
Resmob Polres Serang Ringkus Pentolan Perampas Motor
232 dibaca
Lanjutkan Pembongkaran THM, Pemkab Serang Terjunkan 500 Personil Satpol PP
273 dibaca
Duh, Gadis ABG Disetubuhi Orangtua Angkatnya hingga Melahirkan

POLITIK

421 dibaca
Target Golkar di 2024, Andika Tugaskan AMPI Banten Rangkul Milenial
679 dibaca
144 Kades Dilantik, Sekda Entus: Berhentikan Perangkat Desa Kades Bakal Disanksi
615 dibaca
144 Kades Terpilih Dilantik, Bupati Serang Larang Kades Ganti Perangkat Desa

PENDIDIKAN

148 dibaca
Pemkab Ajak Paguyuban Anak Serang Gencar Lakukan Literasi Digital
229 dibaca
Hari Guru Nasional ke-76 Tahun, Wabup Serang harap Kuantiti dan Kualitas Ditingkatkan
Top