Jumat, 07 Mei 2021

Cerpen Chudori Sukra: Tersanjung

Jumat, 30 Apr 2021 | 14:51 WIB - Suara Pembaca

Jam sepuluh malam. Dengan tertawa girang dan tampang semrawut, Maya Hamidah memasuki rumahnya di Desa Karang Asem, Kota Cilegon. Ia menilik ke dalam setiap kamar dari depan, tengah dan belakang. Kedua orangtuanya baru saja hendak tidur. Adik perempuannya sudah berbaring di ranjang, setelah serius membaca halaman-halaman terakhir sebuah novel. Adik-adik lainnya yang masih kecil sudah terlelap tidur sejak jam sembilan tadi.

“Maya, dari mana aja kamu seharian? Kok tampangmu kucel amat?” tanya ibunya waswas.

“Aduh, Bu, Maya nggak tahu bagaimana harus menceritakannya. Maya benar-benar kaget… takjub… luar biasa…!”

“Luar biasa bagaimana?” tanya ibunya remeh.

Tawa Maya kemudian meledak keras. Ia menghempaskan tubuhnya ke atas sofa, diliputi perasaan senang dan girang yang amat sangat.

“Luar biasa sekali! Ibu dan Ayah tidak akan percaya!”

“Tidak percaya bagaimana?”

Adik perempuannya yang sedang membaca novel, langsung bangkit dari ranjang dan menghampiri Maya. Tubuhnya berbalut selimut. Adik-adik lainnya pun ikut terbangun.

“Ada apa sih? Rame amat?” kata seorang dari mereka. “Kak Maya kok kelihatan lecek amat, ada apa sih?”

“Saya seneng banget hari ini, gembira banget… sekarang semua orang se-Indonesia sudah mengenal Maya. Sayalah Maya Hamidah… inilah orangnya, hahaha…” ia merentangkan kedua tangannya dengan bangga.

Mereka terdiam dan saling menatap satu sama lain, kemudian Maya melanjutkan, “Jadi begini ceritanya. Kemarin sepulang dari kampus, saya mau menuju kost salah seorang teman. Saya melihat iring-iringan mobil dan sepeda motor yang pengendaranya berpakaian putih-putih. Kabarnya mereka akan ikut-serta menyambut kehadiran Ustad Rojak Shihab di Bandara Soekarno Hatta sepulang dari Arab Saudi. Kalian semua tahu kan, Rojak Shihab?”

“Ya,” semuanya mengangguk.

“Tadinya cuma Ustad itu yang terkenal se-Indonesia, tapi sekarang saya juga sudah terkenal… semua orang se-Indonesia… dari Sabang sampai Merauke…!”

Ia memeluk ibunya erat-erat, kemudian ayah dan adik-adiknya. Sehingga mereka semua gelagapan tak keruan. Sambil berjalan berlenggak-lenggok mengelilingi sofa, ia pun duduk kembali di tempat semula.

“Emangnya ada kejadian apa? Coba ceritakan saja ke adik-adikmu tuh,” kata ibunya  agak kesal.

“Iya ceritain dong Kak, ada apa sih?”

“Iih kalian kuno amat sih, dasar udik, kuper! Tidak pernah baca koran ya, sampai-sampai nggak tahu kakaknya sudah terkenal se-Indonesia. Coba kalian buka internet, baca medsos atau media daring. Beritanya justru lebih cepat dari koran-koran. Di situ juga banyak yang menampilkan foto Kakak. Asal kalian tahu aja, di medsos, begitu suatu peristiwa muncul, kejadiannya langsung diberitakan ke khalayak umum, tertulis hitam di atas putih! Ya ampun, Kakak senang banget! Hari ini wajah Kakak muncul di mana-mana…”

“Di mana?” tanya seorang adiknya terheran-heran.

Sang Ayah berubah pucat. Si Ibu menatap suaminya dengan bingung. Kedua adik-adik Maya yang masih balita, ikut terbangun lantas berlari keluar kamar dan menghampiri sang Ibu. Mereka masih mengenakan pakaian tidur.

Maya mengeluarkan potongan koran dan selembar kertas A4 hasil print dari kantong bajunya, lalu menyerahkan potongan koran pada sang ayah. Sementara hasil print, dengan berita yang sama diserahkan kepada ibunya. Ia mengetuk-ngetuk jarinya di atas sebuah foto yang disertai artikel di bawahnya.

“Baca yang keras, Yah!”

Sang Ayah mengambil kacamata dari meja, lalu memakainya.

“Ayo, baca!”

Si Ibu menatap suaminya dengan bingung. Sang Ayah berdehem beberapa kali, dan mulai membaca:

“Pada tanggal 11 Maret, serombongan jamaah dari majelis zikir di Kota Serang turut-serta menghadiri kedatangan Ustad Rojak Shihab…”

“Nah, benar kan kata saya tadi… terus baca, Yah!”

“…menuju Bandara Soekarno-Hatta, provinsi Banten. Diperkirakan Ustad Rojak mulai turun dari pesawat pada pukul 11.30 siang, tetapi sejak pukul 10.30 ia sudah berada di bandara, hingga para penjemputnya terburu-buru menuju bandara…”

“Nah, saya sedang berada di depan kampus Unturta waktu itu, menyaksikan rombongan kendaraan berkonvoi menuju arah Jakarta. Jadi, para wartawan itu sudah menemukan detilnya… teruskan, Yah!”

“…karena mengendarai kendaraan seperti orang mabuk, seorang mahasiswi semester pertama bernama Maya Hamidah, tertabrak sebuah sepeda motor hingga terpental ke samping trotoar. Para petugas satpol PP dengan sigap membopong mahasiswi itu menuju kantor polisi. Ia baru sadar setelah muncul tim dokter dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Serang, memeriksa kepala korban yang terbentur trotoar…”

Ayahnya membaca bagian ini dengan suara pelan. Ia terdiam sesaat sambil menatap kepala anaknya, kemudian kata sang anak, “Nggak apa-apa, saya cuma pingsan sebentar… ayo teruskan sisanya, Yah…”

“…mahasiswi itu mengalami luka ringan di kepala dan segera mendapat bantuan medis. Sedangkan pengendara motor yang menabraknya diamankan pihak kepolisian. Dia adalah salah satu dari anggota jamaah yang dipimpin oleh Ustad Rojak Shihab.”

“Lihat gambar foto di bawahnya,” kata Maya girang, “yang ini saya, bersebelahan dengan Ustad Rojak Sihab yang terkenal itu.”

“Lalu, bagaimana lukamu, Nak?” si Ibu merasa khawatir.

“Mereka hanya membasahi bagian belakang kepala dengan air es. Nah, sudah selesai kan? Jadi, bagaimana tanggapan kalian tentang berita ini?”

Semua diam terbengong-bengong.

“Eh, semua orang se-Indonesia pasti sudah membaca berita ini… belum lagi yang membaca melalui internet atau medsos… sini, mana korannya!”

Maya merebut lembaran koran itu dari tangan ayahnya, kemudian melipatnya dan memasukkannya ke dalam saku.

“Saya harus segera pergi menunjukkan koran ini ke rumah Bi Marfuah, Bi Siti, Nyi Hindun, kemudian mendatangi warung Pak Salim, Pak Majid, terus mendatangi kantornya Bang Jali, Haji Mahmud dan lainnya… pokoknya semuanya harus tahu… daaah….”

Maya merapikan jaket kampus yang dikenakannya, kemudian melangkah keluar rumah dengan raut wajah dan sorot mata bersinar-sinar. ***

 *Penulis adalah pengasuh pondok pesantren Riyadlul Fikar, Serang, Banten. Menjadi anggota Mufakat Budaya Indonesia (MBI) perwakilan provinsi Banten, juga menulis esai dan kritik sastra di berbagai media massa lokal dan nasional, seperti Kompas, Republika, Koran Tempo, Jurnal Toddoppuli, Radar Banten, Satelit News, Tangsel Pos dan lain-lain.

Bagikan:

LAINNYA

Cerpen Muhamad Pauji: Operasi Sang Presiden
Jumat, 30 Apr 2021 | 14:44 WIB
Cerpen Muhamad Pauji: Operasi Sang Presiden
Cerpen Chudori Sukra: Belum Tentu Lebih Baik (2)
Selasa, 20 Apr 2021 | 15:17 WIB
Cerpen Chudori Sukra: Belum Tentu Lebih Baik (2)
Cerpen Chudori Sukra: Belum Tentu Lebih Baik (1)
Senin, 19 Apr 2021 | 10:08 WIB
Cerpen Chudori Sukra: Belum Tentu Lebih Baik (1)

KOMENTAR

Cerpen Chudori Sukra: Tersanjung
hut cilegon pa aef

INILAH SERANG

38 dibaca
Lagi, Polres Serang Ringkus Pengguna dan Pengedar Sabu

HUKUM & KRIMINAL

38 dibaca
Lagi, Polres Serang Ringkus Pengguna dan Pengedar Sabu

POLITIK

254 dibaca
Dinilai Sudah Tak Sehat, Pengurus Bapera Tangsel Membubarkan Diri

PENDIDIKAN

255 dibaca
Pemkab Serang Mulai Pembelajaran Tatap Muka Dimasa Pandemi
Top