Selasa, 30 November 2021

Cerpen Chudori Sukra: Penyerbuan di Kebun Solear

Istimewa
Rabu, 27 Okt 2021 | 11:36 WIB - Suara Pembaca

Penulis Anggota Mufakat Budaya Indonesia (MBI) Banten, menulis cerpen dan esai di berbagai harian nasional, luring dan daring.

Aktivitas di pagi hari, setelah mandi dan menyantap pisang goreng, lalu mengamit koran sambil membawa secangkir kopi ke serambi rumah, memang sungguh mengasyikkan. Sambil membuka-buka halaman koran, pagi itu saya tersentak ketika membaca berita pada halaman daerah, bahwa ratusan monyet-monyet di kebun Solear telah menghilang. Pada halaman utama koran itu, masih diramaikan dengan sengketa dan konflik perdagangan antara Amerika dan Cina. Setelah itu, saya membuka-buka halaman politik nasional, internasional, surat pembaca, kesehatan, resensi buku, sastra, olahraga dan berita-berita daerah lainnya.

Informasi mengenai monyet-monyet yang lenyap seketika, ditulis besar-besar pada halaman daerah: “Ratusan Monyet Solear Menghilang”. Beberapa artikel yang menyertainya juga tertulis dengan jelas: “Keresahan Warga Banten Semakin Meningkat”, “Polisi Menyelidiki Penyebab Hilangnya Monyet-monyet”, “Ratusan Tentara Dikerahkan di Sekitar Solear”. Di bawahnya terpampang jelas gambar sejumlah aparat, lengkap dengan persenjataannya, sedang memancangkan tatapan matanya pada pohon-ponon tua yang berumur ratusan tahun di sekitar hutan Solear, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten.

Perhatian saya terus terpusat pada berita langka perihal lenyapnya ratusan monyet itu. Orang yang pertama kali melaporkan adalah warga Desa Solear, bukan juru kunci Solear, karena konon, sang juru kunci sebagai pihak yang paling bertanggungjawab atas pelestarian hutan Solear, juga ikut menghilang bersama dengan monyet-monyet itu.

Kabar yang terakhir tersiar, sekitar tanggal 3 Oktober pada hari Minggu, beberapa santri dari Pesantren Al-Bayan mengunjungi kebun Solear. Para santri itu pun berjumpa dengan murid-murid dari SD Karang Asem, Cilegon, yang sedang menggambar sketsa monyet-monyet dengan krayon. Jadi, para pelajar itu adalah saksi terakhir yang melihat monyet-monyet di sana, kemudian pulang sekitar Pk. 16.30, karena sekitar jam enam sore, pintu gerbang yang menuju ke arah kebun akan ditutup oleh si juru kunci.

Sebenarnya, para monyet dan juru kuncinya tidak menampakkan gejala-gejala aneh. Menurut kesaksian guru SD (yang tak mau disebutkan namanya), dia bersama muridnya masih melihat puluhan monyet bergelantungan di atas pohon-pohon tinggi. Beberapa menghampiri murid-murid yang melemparkan roti dan kacang untuk kemudian disantap langsung oleh mereka. Sebagian monyet itu memang sudah berumur tua, dari belasan hingga puluhan tahun. Seorang guru merasa khawatir melihat beberapa monyet yang sudah rapuh, berjalan pelan dan sempoyongan. Jangan-jangan mereka turun dari pohon kemudian berbaring di tanah dan menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Ketika pandemi Covid-19 merebak, dan tempat-tempat wisata kehilangan pengunjung, dua orang juru kunci di sana merasa kewalahan harus berbuat apa. Seorang juru kunci telah pulang ke kampung halamannya, tetapi satunya lagi – yang dikabarkan menghilang – masih bertahan di kebun Solear sejak akhir 2020 lalu. Kesulitan ekonomi di mana-mana seakan memaksa tempat wisata itu menutup pintu usahanya. Beberapa agen satwa liar berkeliling ke penjuru negeri, mencari tempat bagi hewan-hewan penghuni kebun binatang yang terancam mati karena kelaparan. Tetapi masalahnya, kebun binatang mana yang mau bersedia menampung hewan-hewan tua yang kapan saja bisa jatuh terkapar karena penyakit jantung, ginjal, paru-paru yang sudah rapuh dan keropos (meskipun mereka bukan perokok maupun pecandu alkohol).

Kejadian yang mendadak dan tiba-tiba itu, menimbulkan banyak pihak bertanya-tanya, bahkan keresahan merebak di sekitar warga Solear hingga ke tingkat aparat kabupaten Tangerang. Konon, beberapa waktu lalu, sebagian tanah kebun Solear itu telah dijual kepada pihak pengembang yang memiliki rencana untuk membangun rumah-rumah susun, dan pemerintah daerah telah mengeluarkan surat izin. Karena itu, semakin lama masalah monyet-monyet itu dibiarkan tanpa penyelesaian, semakin besar jumlah pajak sia-sia yang harus dibayar pihak pengembang.

Alternatif lain dengan memberantas dan menghabisi monyet-monyet di Solear tentulah bukan pilihan yang bijak. Bisa jadi akan terkena pasal pembunuhan hewan-hewan yang terlindungi, apalagi jika sampai diperkarakan oleh pihak Sanpala (Santri Pecinta Alam) di pesantren Al-Bayan yang cukup lantang menyuarakan pentingnya pelestarian lingkungan untuk senantiasa menjaga satwa-satwa sebagai makhluk ciptaan Allah yang harus dilindungi dan dilestarikan.

Maka, terjadilah perdebatan panjang antara pihak Pemkab dan pihak pengembang, bahwa Pemkab akan mengambil-alih hak kepemilikan atas ratusan monyet. Pihak pengembang juga bersedia untuk menyediakan kandang raksasa bagi ratusan monyet, tanpa kompensasi apapun. Di sisi lain, bekas pemilik tempat wisata itu akan bertanggungjawab atas gaji dan penghasilan si juru kunci, dan seterusnya dan sebagainya.

***

Ketika negosiasi yang dilakukan telah mencapai kesepakatan dengan keputusan pihak Pemkab akan bertanggung jawab atas nasib para monyet, tiba-tiba muncul gerakan perlawanan dari dalam jajaran partai oposisi. Mereka menyoal pihak Pemkab, mengapa harus mengambil-alih hak kepemilikan para monyet? Mereka mengajukan tuntutan tetek bengek, meski kemudian bisa disimpulkan dengan bahasa yang sederhana, agar dapat dipahami mereka yang awam dan buta politik. Bahwa, persoalan nasib ratusan monyet adalah urusan pihak pengusaha, pihak pengembang dan pemilik kebun Solear. Tentu biaya perawatan dan pengasuhan akan sangat tinggi. Lalu, bagaimana pihak Pemkab Tangerang akan bertanggungjawab soal keamanannya? Dan lagi (hal ini yang senang dipersoalkan kaum politisi), apa keuntungannya, jika pihak Pemkab memelihara ratusan monyet-monyet sepuh yang hidup dalam suatu kandang raksasa?

“Saat ini kita sedang susah dan lagi banyak urusan,” teriak salah seorang dari mereka, sambil mengernyitkan kening, “belum lagi soal penanganan bantuan sosial yang harus disalurkan merata di masa pandemi Covid-19 ini. Ditambah lagi harus sibuk ngurusin makan ratusan monyet di kandang? Lebih baik dipakai untuk membeli mobil-mobil ambulans, pemadam kebakaran, belum lagi urusan selokan-selokan yang mampet. Ini kok malah ngurusin monyet-monyet? Dasar monyet!”

Meskipun tidak dikemukakan secara terang-terangan, mereka memberi isyarat bahwa kemungkinan telah terjadi semacam kongkalingkong antara Pemkab Tangerang dan pihak pengembang. Lalu, sebagai balasannya, pihak Pemkab menyatakan kepada para wartawan luring dan daring, meski kemudian seorang wartawan maju ke depan seraya memperingatkannya agar bicara dengan menggunakan bahasa Indonesia yang mudah dipahami publik. Maka beliau pun bicara dengan panjang-lebar:

“Jadi begini. Kalau Pemkab mengizinkan pembangunan untuk rumah-rumah susun itu, pendapatan kabupaten akan terus meningkat secara drastis dan dramatis. Karena itu, biaya pemeliharaan ratusan monyet tak usah dikhawatirkan. Di sisi lain, mengingat para monyet itu sudah uzur dan tua, seperti halnya… ehm, maaf, kita tak boleh menyamakan dengan usia para jenderal yang mengabdi di masa pemerintah Soeharto…”

Pihak Pemkab terdiam sejenak, berdehem beberapa kali, lalu sambungnya lagi, “Karena monyet-monyet itu sudah sangat tua, maka kemungkinan besar porsi makannya sedikit, dan juga tidak akan membahayakan masyarakat Tangerang, Jakarta dan sekitarnya. Selain itu, maaf, ehm, setelah para monyet itu mati, maka hak penuh atas kepemilikan tanah akan disumbangkan pihak pengembang kepada pihak Pemkab…”

Pihak Pemkab tersenyum sumringah, menatap reaksi hadirin dengan tatapan berkaca-kaca, kemudian ia menegaskan dua kalimat dengan penuh kebanggaan: “Tidak menutup kemungkinan monyet akan menjadi simbol provinsi Banten, dan akan kita usulkan pada pihak Pemprov nanti. Hidup monyet! Hidup kandang monyet! Allahu Akbar!”

***

Perdebatan panjang berminggu-minggu. Akhirnya mencapai kesimpulan bahwa pihak kabupaten Tangerang akan bertanggung jawab atas pemeliharaan para monyet. Sebagai sebuah wilayah pemukiman yang telah mapan, kabupaten ini dapat dengan mudah membangga-banggakan taraf hidup masyarakatnya yang relatif makmur, dan juga pijakan ekonomi yang aman sentosa.

Mengadopsi ratusan monyet yang sudah sepuh adalah sebuah langkah mulia dan merupakan bagian dari akhlaqul-karimah (demikian penegasan Wapres kelahiran Tangerang) yang kemudian masyarakat menerimanya dengan legowo dan tulus ikhlas. Dapat diterima oleh semua pihak. Dan rakyat Banten juga lebih menyukai ratusan monyet tua, ketimbang selokan dan mobil pemadam kebakaran.

Kini, sebuah lokasi seluas beberapa ribu meter persegi ditumbuhi pohon-pohon serupa hutan kecil dibersihkan. Bangunan madrasah yang sudah lapuk dan reot, berikut mushala dipindahkan ke tempat lain. Kandang raksasa itu dikelilingi oleh pagar-pagar batako setinggi empat meter. Upacara peresmian kandang itu dihadiri dan dipukul gongnya oleh Bapak Bupati. Tadinya mau mengundang para panitia rekor MURI tapi karena khawatir ada kandang yang lebih besar dari itu, maka cukuplah para aparatur daerah bersama budayawan dan seniman kondang Gula Gung beserta staf-stafnya.

Seorang Qari pemenang lomba MTQ tingkat provinsi megawali acara peresmian, disusul dengan seniman Capcay Saifudin tampil di podium sambil membacakan puisi religius hasil gubahannya dengan suara lantang: “Lestarikan hutan dan satwa-satwa kita… monyet-monyet yang terhormat… semoga kalian panjang umur dan sehat selalu…  amin ya rabbal alamiiin….”

Setelah Bupati memberikan sambutan perihal pembangunan dan peningkatan fasilitas budaya dan pariwisata, dua orang mahasiswi yang biasa-biasa saja, tampil ke podium sambil memberikan pakan kepada dua ekor monyet yang dihadirkan juru kunci dari penangkarannya. Jika dibandingkan kedua monyet betina itu, tentu saja kedua mahasiswi itu lebih cantik, karena persoalan cantik dan tidak, itu hanya soal siapa pembandingnya. Lantaran itulah para wartawan sibuk memotret kedua mahasiswi yang terlihat menarik perhatian itu.

Acara peresmian itu disertai pula dengan gebyar dan semarak lomba menggambar monyet yang dihadiri ratusan peserta dari ratusan SD dan TK di seluruh wilayah Banten. Dua ekor monyet itu mengikuti semua formalitas acara yang tak ada artinya bagi mereka. Keduanya terus saja mengunyah pisang yang disodorkan tanpa berkedip. Lalu, ketika pisang itu habis, keduanya terbengong-bengong menyaksikan para hadirin bertepuk-tangan dan bersorak-sorai gembira.

Juru kunci penangkaran monyet itu adalah seorang lelaki tua yang kecil dan kurus. Sulit menebak usianya berapa. Konon, ia pernah menyaksikan pendudukan Jepang dan romusha di sekitar Rangkasbitung dan Pandegelang. Mungkin saja ia sudah di atas 70-an. Meskipun penampilannya tak lagi dipengaruhi oleh umur. Warna kulitnya gelap kecokelatan, rambutnya pendek dan kaku. Matanya agak sipit seperti keturunan Cina. Selain itu, sulit juga dijelaskan karena perawakan lelaki tua ini biasa-biasa saja, tak memiliki ciri-ciri yang menonjol. Kecuali jidatnya yang agak jenong, dan sepertinya mengganggu posisi kopiah hitam yang bertengger di atas kepalanya.

Pada prinsipnya, dia cukup ramah. Jika seseorang bertanya, ia akan menjawab singkat dan apa adanya. Secara umum, ia pendiam, sebagai lelaki tua yang nampaknya nelangsa dan kesepian. Agaknya, ia menyukai anak-anak yang mengunjungi kandang para monyet. Ia berusaha bersikap ramah dan tersenyum di hadapan anak-anak, tetapi sayang, anak-anak itu justru tak mau tersenyum di hadapannya.

Satu-satunya yang tulus mencintai lelaki tua itu adalah para monyet, entah betina atau jantan. Juru kunci itu menempati sebuah kamar kecil yang menempel di sekitar pintu gerbang utama. Mereka telah hidup bersama selama puluhan tahun, dan semua orang bisa merasakan kedekatan dan keakraban dari setiap matanya memandang.

Setiap hari Minggu, ribuan anak-anak sekolah dari berbagai penjuru berdatangan. Mereka menyaksikan juru kunci itu seakan bercumbu mesra dengan para monyet. Meski sulit dijelaskan secara mendetil perihal prinsip dasar komunikasi antara si juru kunci dengan si monyet. Atau bisa jadi si monyet memiliki kemampuan khusus semacam telepati mental dan bisa membaca pikiran si juru kunci. Sekali waktu seorang mahasiswa biologi pernah bertanya pada si juru kunci mengenai kemampuannya berkomunikasi dengan para monyet, tetapi ia hanya menjawab singkat: “Ya, masalahnya kami sudah hidup bersama selama puluhan tahun.”

***

Sekarang saya sedang membaca artikel hasil penyelidikan wartawan yang mengabarkan hilangnya ratusan monyet berikut si juru kunci di kebun Solear itu. Mengherankan sekali, tanpa ada peringatan apapun, tiba-tiba lenyap begitu saja. Seketika. Aneh bin ajaib.

Saya menyesap kopi dari meja, membaca ulang berita itu dari awal hingga akhir. Hal yang menambah keganjilan dari artikel tersebut adalah kebingungan wartawan yang jelas-jelas terbaca dari tulisannya. Dan kebingungan itu nampaknya berasal dari pandangannya yang abdurd tentang kehidupan ini. Saya bisa lihat bagaimana para wartawan itu berjuang menemukan cara yang cerdas dalam memaknai situasi yang misterius ini. Mereka pontang-panting  mencari-cari kata yang tepat agar menjadi sebuah artikel yang wajar, tetapi semua usahanya itu sia-sia belaka.

Misalnya begini. Artikel itu menampilkan judul “Ratusaan Monyet Melarikan Diri”, tetapi isi artikelnya tak bisa menunjukkan bukti ilmiah bagaimana monyet-monyet itu bisa dikatakan melarikan diri? Masalahnya, monyet-monyet itu telah lenyap seketika. Musnah, tanpa ada bekas, seperti menguap dan tertelan oleh udara. Cling! Kemudian, para wartawan menunjukkan konflik yang berkecamuk dalam pikirannya dengan berbagai macam dalih bahwa, “penyebab kehilangannya masih diselidiki”.

Pertama, monyet-monyet itu kabur lantaran kekurangan bahan pangan yang disediakan juru kunci, karena untuk makan juru kunci sehari-hari saja – di masa pandemi ini – nampaknya kekurangan. Hipotesis ini pada mulanya ngotot dipertahankan para wartawan, tetapi mana jejaknya? Kalaupun mereka kabur, lantas kabur ke mana, dan lewat mana? Kebun Solear itu tidak begitu luas, hanya beberapa puluh hektar, dan dikelilingi oleh perkampungan dan pemukiman penduduk. Lalu, ada juga wartawan yang mengarang-ngarang cerita, padahal dia menulis berita utama yang dibaca oleh ribuan masyarakat, khususnya Banten. Hipotesis dia mengatakan, bahwa ratusan monyet itu mati bunuh diri dengan melompat serempak di bendungan sungai yang letaknya beberapa ratus meter dari pintu gerbang kebun Solear.

Tapi, kalaupun mereka melompat ke bendungan lantaran kesulitan ekonomi (eit maaf, kekurangan pangan), tentu saja akan ditemukan bangkai ratusan atau puluhan monyet yang hanyut dalam jarak beberapa ratus meter di ujung hulu sungai sana. Lagipula, kalaupun kekurangan makanan, para monyet akan sanggup bertahan hidup seperti cicak yang kalem dan tenang nemplok di dinding tanpa sayap, sementara rejekinya adalah nyamuk yang terbang ke mana-mana dengan sayapnya. Tetapi pada waktunya, si nyamuk mendekat dan dicaplok juga oleh mulut cicak. Bukankah para binatang itu justru lebih soleh dan religius ketimbang makhluk manusia yang banyak mengeluh dan menggerutu, bahkan tidak sedikit yang mati bunuh diri dengan alasan kesulitan ekonomi?

Masalah berikutnya. Kalaupun mereka kabur, akan ketahuan dari rute pelarian. Kandang raksasa itu dikelilingi oleh pagar batako setinggi empat meter dan dibangun menjauh dari pohon-pohon tinggi. Persoalan keamanan ini sudah dibahas matang-matang oleh anggota DPRD, dan pihak Pemkab telah menetapkan sistem keamanan yang bisa dibilang cukup ketat, bahkan untuk menjaga satu ekor pun yang bakal keluar. Biaya pagar batako sepanjang ribuan meter itu ditanggung oleh pihak pengembang, dan hanya ada satu pintu masuk. Mana mungkin ratusan monyet itu bisa melarikan diri dari kandang yang seperti benteng pertahanan kumpeni Belanda itu?

Masalah berikutnya lagi, soal jejak. Ratusan meter dari pintu gerbang terdapat bendungan sungai yang terjal dan curam. Tadi sudah dibahas soal tidak adanya seekor pun almarhum monyet yang ditemukan di ujung hulu sungai. Selanjutnya, soal jejak kaki-kaki monyet yang mungkin saja ada di sekeliling pagar yang tanahnya becek karena musim hujan. Karena bagaimanapun, mereka pasti menyeberangi salah satu sudut dari pagar-pagar batako. Tetapi anehnya, tidak juga ditemukan satu pun jejak kaki monyet pada tanah-tanah basah itu?

Dengan segala kebingungan para wartawan perihal kejadian yang tak masuk akal itu, keesokannya muncul artikel-artikel terbaru: “Ratusan Monyet Solear Lenyap Seketika”.

Tetapi, tentu saja pihak aparat yang berwenang tak ada yang mengakui, paling tidak secara terbuka dan terang-terangan bahwa ratusan monyet itu lenyap seketika. Polisi terus saja melakukan penyelidikan. Juru bicara mereka menyatakan adanya beberapa kemungkinan para monyet itu lolos, diambil atau melarikan diri dengan langkah-langkah yang telah diperhitungkan. Tetapi (tetapi lagi nih), karena menyembunyikan ratusan monyet adalah pekerjaan yang sulit, tunggu saja, “Kami akan melakukan langkah-langkah yang taktis dan strategis untuk segera menyelesaikan kasus ini secepat mungkin.” Pernyataan penuh optimistis ini dibarengi dengan rencana pencarian di area hutan Soler dengan bantuan klub pemburu binatang dan Buser (Buru Sergap), sambil mengerahkan para penembak jitu, yang dulu pernah menangkap seekor komodo di wilayah itu.

Seperti yang terjadi waktu itu, dan lagi-lagi, anggota partai oposisi kembali menyatakan tuduhan, “Kami ingin melihat tanggung jawab politik dari Pemkab, karena mereka telah melakukan kolusi bersama perusahaan swasta dengan cara menjual warga Banten sebagai solusi dari masalah monyet-monyet ini.”

Seorang ibu jamaah pengajian yang tampak khawatir dan ketakutan (yang ingin disebutkan namanya: Hj. Juminten), diwawancarai media daring dan luring, dan dijawab dengan rada genit: “Sekarang saya takut membiarkan anak-anak saya yang cantik-cantik itu keluar rumah, apalagi ketika waktu maghrib.”

***

Saya menonton televisi sekitar Pk. 17.30 sore, dan hampir semua siaran menyiarkan soal hilangnya ratusan monyet di hutan Solear, Banten. Kecuali satu-dua siaran yang menampilkan kekalahan tim sepakbola Indonesia dalam ajang piala Asia, dan itu kurang menarik bagi saya, dan mungkin juga bagi Anda semua.

Nampak ada tim pemburu membawa senapan besar yang diisi dengan panah-panah bius. Para tentara dan Damkar menyisiri tiap inci hutan dan bukit di area sekitar, sementara helikopter berputar-putar di atas mereka. Saya membayangkan menteri sosial RI sedang geleng-geleng kepala menyaksikan perburuan besar-besaran yang menghamburkan dana miliaran itu. Dengan banyaknya pihak yang terlibat, seharusnya kurang dari satu hari sudah cukup untuk melakukan pekerjaan itu. Dan lagi, mereka bukannya mencari seorang buron atau residivis yang kabur dari penjara, melainkan ratusan binatang yang tak ada urusannya dengan siasat maupun strategi militer yang taktis dan politis. Mungkin saja mereka bersembunyi di beberapa tempat tertentu. Tetapi, tetap saja mereka gagal menemukannya.

Pencarian berlangsung selama beberapa hari, tetapi pihak berwenang tidak menemukan satupun petunjuk mengenai keberadaan para monyet. Saya mempelajari laporan-laporan koran lokal dan nasional, menggunting dan mengklipingnya. Buku kliping saya sudah penuh dalam beberapa hari saja, kemudian saya membelinya lagi, dan lagi. Seberapa mahal pun biaya untuk menghimpun semua data dan laporan tentang monyet, selalu saja ada jalan rizki untuk mendapatkannya. Tuhan Maha Pemurah dan Maha Pemberi rizki. Tetapi di sisi lain, di mana keterlibatan Tuhan dalam proses pencarian monyet-monyet yang hilang itu? Bagaimana pula dengan doa-doa para kiai dan ulama, yang khusus dihadirkan Wakil Presiden untuk turut-serta mendoakan ketentraman dan kedamaian hati masyarakat, serta agar ditemukannya ratusan monyet-monyet?

Kini, sudah banyak kliping yang saya kumpulkan, namun tak ada satu pun memuat fakta akurat perihal keberadaan para monyet. Laporan-laporan koran yang makin absurd semakin merajalela. Kalau dibaca dengan seksama, dikhawatirkan akan menggoncangkan keimanan dan ketakwaan masyarakat, khususnya warga Banten. Koran-koran baru menampilkan judul yang lebih bombastis: “Mendung Tebal di Langit Banten”, “Warga Banten Makin Resah dan Gelisah”, “Dajjal Menyantap Ratusan Monyet”, “Kiamat Sudah di Ambang Pintu”.

Tetapi, beberapa minggu kemudian, artikel-artikel semacam itu jarang dimuat. Seakan tidak menarik lagi dan menghilang begitu saja dari peredaran, alias lenyap. Beberapa tabloid mingguan memuat cerita sensasional. Bahkan ada satu majalah yang menyewa dukun dan orang pintar, tetapi tidak satu pun artikel yang benar-benar berbobot. Kecuali hanya judul-judul yang dibuat bombastis, supaya menarik perhatian publik. Tampaknya orang-orang mulai menggolongkan kasus hilangnya para monyet sebagai “misteri yang tak terpecahkan.”

Lenyapnya ratusan monyet dan seorang juru kunci yang sudah tua, seakan tidak berdampak apa-apa pada kehidupan masyarakat. Bumi akan terus berputar pada porosnya. Para politisi akan terus mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang tak bisa dipertanggungjawabkan. APBN akan terus dihamburkan untuk memborong dan pamer persenjataan tentara, meskipun mereka tak punya musuh. Para PNS akan terus mengantuk dalam perjalanan menuju kantor. Pegawai kantor pencatatan sipil tetap saja lamban melayani umat. Mahasiswa akan terus merem-melek di bangku kuliah. Para pelajar juga akan terus berjuang menuntut ilmu untuk meraih nilai bagus setelah ujian, dan seterusnya dan sebagainya.

Sering saya menyempatkan waktu luang di hari Minggu, berhenti sebentar di depan pintu gerbang kandang monyet, tetapi yang nampak hanya rantai tebal mengikat jeruji besi pagar untuk mencegah orang-orang yang datang memasuki kandang. Mengintip ke bagian dalam, suasana sunyi dan lengang. Sebuah pintu besar lagi dibangun, seakan pihak kepolisian tengah menebus kesalahan mereka dengan cara meningkatkan keamanan hingga berlapis-lapis atas kandang monyet yang kosong melompong tersebut.

Area itu kini sudah dilupakan. Kerumunan monyet berganti dengan kawanan burung-burung yang beterbangan di atas pepohonan. Tidak ada yang merawat tanah di sekitar kandang, dan rumput musim hujan tumbuh dengan lebatnya. Beberapa bulan tanpa kehadiran para monyet, tempat itu seakan digelayuti mendung kesedihan yang tebal.

***

Ketika saya duduk-duduk ngobrol bersama para seniman dan wartawan di lembaga kebudayaan Rumah Dunia di Serang, Banten, saya berusaha untuk menghindari topik permasalahan ini. Saya mencoba meniadakan isu tentang hilangnya para monyet di kebun Solear tersebut. Bagi saya, topik itu terlalu kompleks, misterius, tentu tak masuk akal dibicarakan bersama para intelektual Indonesia. Saya mencoba berbohong dan mengubah arah pembicaraan pada soal lain.

Tetapi, nasib berkata lain. Mereka justru lebih tertarik pada soal hilangnya ratusan monyet di Solear itu. Dan ketika seorang seniman menyatakan bahwa dirinya pernah melihat seekor monyet di atas pohon jambu di serambi rumahnya, kontan ia diserbu oleh beragam pertanyaan sana-sini, perihal apa jenisnya? Bagaimana dia bisa ada di atas pohon jambu? Dari mana dia datang? Apa yang dia makan? Apakah monyet itu membahayakan masyarakat sekitar?

Padahal, apa yang saya ceritakan pada kaum muda intelektual itu, hanya soal pengulangan berita koran yang pernah ditulis wartawan, tetapi mereka terlihat antusias, barangkali karena gaya bahasa saya berbeda? Atau pemakaian frase dan diksi yang cenderung mereka sukai? Atau barangkali, pola dan sistem penggunaan bahasa Indonesia yang merakyat sebagaimana novel Perasaan Orang Banten itu?

“Tidak ada yang mustahil dalam hidup ini,” kata seniman Capcay Saifudin yang dulu dilibatkan pada acara peresmian kandang raksasa, dan kini telah mengetuai Kelompok Seniman Religius (KSR) di daerah Banten Selatan.

“Apa pun yang terjadi, kita serahkan pada Yang di Atas,” ujar Gula Gung, sang ketua yayasan lembaga kebudayaan, yang pernah mendirikan Seniman Teguh Muslim Jalanan (STMJ). Organisasi seniman itu pernah didukung gubernur lama Hj. Ratu Tutut Chosimah, yang kemudian diperkarakan KPK karena kasus suap dan korupsi. Dan setelah dinyatakan bersalah oleh pengadilan, organisasi STMJ itu ikut hilang dari peredaran., juga lenyap dalam percaturan sejarah.

Saya mengambil risol dan menyocolnya pada sambal kacang di atas mangkuk. Istri pemimpin yayasan mengganti asbak kami dengan asbak kosong. Saya mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Sebenarnya, saya sudah berhenti merokok selama beberapa tahun, tetapi kemudian menjadi perokok lagi gara-gara kasus ratusan monyet yang lenyap. Saya mengaduk kopi dengan sendok stainless, dan saya suka sekali mendengar sendok beradu dengan gelas, sambil mengeluarkan bunyi mendenting, ting, ting….

Obrolan kemudian saya belokkan ke soal lain. Dan saya merasa lega ketika seorang wartawan bicara perihal seekor kucing. Tetapi, apa yang dikatakannya kemudian, “Jadi, kucing yang hilang sewaktu saya masih SD, itu hanya seekor saja, tentu beda dengan binatang dalam jumlah ratusan seperti itu.”

Wartawan itu menelusuri bibir gelas dengan ujung jarinya, dan tetap duduk dengan tatapan berkaca-kaca. Dari nada bicaranya seakan ada sinyal kuat bahwa ia akan memasuki topik monyet lagi. Maka, lebih baik saya sudahi saja perbincangan itu. Kami saling berpamitan di luar gedung lembaga kebudayaan Banten.

Ketika merenungkan kejadian itu sambil rebahan di sofa ruang depan, kadang saya merasa benda-benda di sekeliling saya telah kehilangan keseimbangan. Seakan ia telah mengubah cara pandang saya selama ini. Perasaan kehilangan keseimbangan itu barangkali bisa dibenarkan, terlebih ketika istri seorang seniman, Capcay Saifudin, yang tiba-tiba menelepon saya dengan suara terengah-engah.

“Kenapa, Bu? Ada masalah apa?” tanya saya.

“Sejak pulang dari lembaga kebudayaan, dan ngobrol dengan Bapak, tiba-tiba suami saya sering mengigau saat tidur sambil memanggil-manggil, nyet… monyet… monyet…, lalu malam Jumat kemarin dia membakar semua puisi dan novel yang pernah dia tulis…”

“Emang kenapa?”

“Saya sendiri nggak tau? Dia cuma bilang, itu semua hanya karya-karya sampah… dan dia akan menulis ulang karya-karyanya yang terbaru….”

“Kalau begitu, Ibu doakan saja mudah-mudahan suami Ibu sukses dan berhasil,” kata saya menutup pembicaraan.

***

Bagikan:

LAINNYA

Kucing Itu Menyatukan Kembali 
Rabu, 24 Nov 2021 | 11:35 WIB
Kucing Itu Menyatukan Kembali 
Budaya Literasi dalam Islam
Senin, 22 Nov 2021 | 14:14 WIB
Budaya Literasi dalam Islam
Cerpen Habib Maksudi: Ketinggalan Dompet
Senin, 01 Nov 2021 | 08:57 WIB
Cerpen Habib Maksudi: Ketinggalan Dompet
Cerpen Supadilah Iskandar: Bakti Sosial
Minggu, 24 Okt 2021 | 16:57 WIB
Cerpen Supadilah Iskandar: Bakti Sosial

KOMENTAR

Cerpen Chudori Sukra: Penyerbuan di Kebun Solear

INILAH SERANG

87 dibaca
Kerjasama Produsen Sepatu, Bupati Serang Gelorakan ‘UMKM Bisa’
102 dibaca
Hari Korpri ke-50 Tahun, Sekda Kabupaten Serang Ingatkan ASN Tiga Hal
198 dibaca
Resmob Polres Serang Ringkus Pentolan Perampas Motor

HUKUM & KRIMINAL

198 dibaca
Resmob Polres Serang Ringkus Pentolan Perampas Motor
232 dibaca
Lanjutkan Pembongkaran THM, Pemkab Serang Terjunkan 500 Personil Satpol PP
271 dibaca
Duh, Gadis ABG Disetubuhi Orangtua Angkatnya hingga Melahirkan

POLITIK

421 dibaca
Target Golkar di 2024, Andika Tugaskan AMPI Banten Rangkul Milenial
679 dibaca
144 Kades Dilantik, Sekda Entus: Berhentikan Perangkat Desa Kades Bakal Disanksi
613 dibaca
144 Kades Terpilih Dilantik, Bupati Serang Larang Kades Ganti Perangkat Desa

PENDIDIKAN

148 dibaca
Pemkab Ajak Paguyuban Anak Serang Gencar Lakukan Literasi Digital
229 dibaca
Hari Guru Nasional ke-76 Tahun, Wabup Serang harap Kuantiti dan Kualitas Ditingkatkan
Top