Senin, 08 Maret 2021

Bukan Sastra Pendendam

[Foto Ilustrasi/Net]
Jumat, 08 Jan 2021 | 22:41 WIB - Suara Pembaca

Roman berjudul “Aethiopica” karangan Heliodorus sejak zaman pra-Islam, memang sengaja ditulis untuk membuka kedok seorang Kaisar Elagabal (Antonius) yang melegitimasi kampung halamannya Emesa di Syiria, seolah layak dibanggakan dan dibesar-besarkan secara tidak proporsional.

Heliodorus menggambarkan bagaimana kampung Emesa menjadi kota besar yang menjadi pusat perhatian dunia di masa imperium Romawi. Sambil menampilkan juga Helios – dewa ciptaan keluarga besar kaisar – yang disejajarkan dengan dewa-dewa Yunani seperti Apollo, Atargatis, hingga dewa-dewi Mesir, Iran dan Ethiopia, seperti Astarte, Funisia, Anaitis dan Isis. Dengan lihai dan cerdik keluarga besar Elagabal menampilkan Helios sebagai dewa perdana dari semua para dewa. Sampai di akhir cerita, Heliodorus mengungkap fakta bahwa keluarga besar yang korup itu menciptakan kebesaran Dewa Helios, yang ternyata bermula dari kampung Emesa.

Aethiopica ditulis dalam bentuk roman sastra yang paralel dengan novel modern. Jadi, tidak seperti mitologi yang cenderung genit membangga-banggakan kampung halaman sendiri. Ketika sang penulis menyaksikan apa adanya tentang masyarakat yang “bertopeng”, maka ia akan menulis secara jujur untuk membuka segala kedok di balik topeng-topeng. Ia tidak membanggakan casing tetapi isi dan kualitasnya, yakni kualitas mesin di balik casing tersebut.

Hal ini mengingatkan kita pada novel Perasaan Orang Banten (POB) yang ditulis oleh putera kelahiran Banten sendiri, dan pernah dibedah di Rumah Dunia, Serang, atas prakarsa Gol A Gong. Secara jujur dan jenaka, kemurungan dan ketidakbahagiaan orang Banten, telah dijawab dan diurai dengan klimaks oleh novel tersebut.

Bukan berarti menertawakan nasib orang Banten, juga bukan bermaksud menghina atau mengejek kualitas manusia Banten. Tetapi lumrah saja, untuk mengajak pembaca agar sanggup berkaca diri, introspeksi, bahkan menertawakan kelakuannya yang tak wajar, berdasarkan alam bawah sadarnya sendiri.

Menurut para psikiater dan ahli jiwa, lawakan yang dituturkan dalam gaya sastra, mengandung energi yang menggerakkan saraf-saraf otak hingga mampu membuat pembacanya lebih sehat dan bahagia. Ada 15 jenis otot di wajah dan leher manusia yang serentak bergerak pada saat terjadinya tawa dan senyum. Rangsangan elektrik dari otot-otot terhadap bibir atas dengan intensitas yang berubah-ubah, menghasilkan ekspresi wajah yang dapat menentramkan dan membahagiakan kalbu bagi pembaca karya sastra.

Humor-humor yang disuguhkan dalam novel POB dapat menyibak psikologi kebantenan dan keindonesiaa dari situasi depresif menjadi tercerahkan. Rasa jengkel, marah, sombong, terhina, dapat  bermuara pada humor-humor melalui banyolan para tokoh maupun narasi-narasi total dari penulisnya. Nilai humor itu tentu berkaitan dengan seberapa luas wawasan dan pengalaman hidup pembacanya. Bila pembaca punya  pengalaman tentang substansi humor maka ia bisa tertawa, tetapi bagi mereka yang belum mempunyai pengalaman tentang substansi humor maka ia hanya terheran-heran mengapa orang-orang itu terbahak-bahak hanya karena membaca sebuah buku.

Jadi, untuk memahami humor-humor dalam sastra berkualitas dibutuhkan adanya software sastra berkualitas di dalam otak pembacanya. Ketika ada yang mengemukakan humor kemudian Anda tak nyambung, terbengong-bengong, maka Anda harus menemukan pengalaman substantif dari humor itu sendiri. Kalau tidak, bisa jadi Anda sendiri yang akan dianggap pelongo dan menjadi bahan tertawaan banyak orang.

Potensi tertawa dan melucu memang tergantung selera dan cita-rasa. Ia merupakan hal yang tersedia dalam sistem mekanisme saraf yang berfungsi adaptif, interaktif dalam menyesuaikan diri dengan keadaan. Seorang humoris mempunyai kelebihan dan keunggulan yang tak dimiliki banyak orang. Humor terjadi pada saat bertemunya ide dan gagasan dalam situasi yang bertentangan sehingga terjadi penyimpangan dari kelaziman. Humor juga terkait dengan kejutan sehingga menimbulkan emosi dan katarasis. Beberapa unsur yang semula dipandang tak berkaitan, tiba-tiba nampak berhubungan sehingga membentuk kesatuan yang terintegrasi.

Seorang penulis sastra yang humoris berada dalam suatu ikatan dengan psikologi pembacanya. Inilah salah satu keunikan yang telah ditunjukkan oleh novel POB, yang jangkauan cita-rasanya melintasi batasan-batasan suku, agama, golongan, bahkan lintas budaya dan intelektual.

Coba perhatikan. Untuk memahami karakteristik orang-orang anarkis yang banyak berurusan dengan pihak kepolisian akhir-akhir ini,  penulis POB sejak 2012 lalu sudah menampilkan secara visioner melalui figur Bang Jali yang pernah malang-melintang di dunia politik (hal. 26-27):

                Konon di masa mudanya Bang Jali cukup aktif di dunia politik, bahkan menjuluki dirinya sebagai tokoh politik pada zamannya. Dulu ia dikenal keras dan garang. Selain tokoh politik ia pun sempat dikenal sebagai tokoh mubalig (juga pada zamannya). Suatu kali ia mengklaim dirinya sebagai orang yang konsisten pada pendiriannya, lebih tepatnya, pada ambisi-ambisinya. Karena sikap itu pula ia sempat keluar-masuk bui, yang di kemudian hari ia berkesimpulan bahwa semua itu adalah pelajaran berharga bagi perjalanan hidupnya.

            Di akhir tahun 1960-an ia sempat bergabung dengan Badan Koordinasi Organisasi Islam (BKOI). Konon organisasi ini telah berhasil menghimpun ribuan anggota, hingga suatu waktu pernah menuntut pemberhentian Presiden Soekarno dari jabatannya. Kemudian organisasi itu tak terdengar lagi seakan hilang begitu saja dalam percaturan sejarah Indonesia. Pada tahun 1978 Bang Jali banting stir memimpin Gerakan Jihad Islam (GJI) yang menentang ideologi Pancasila serta mengobrak-abrik pengikut Ahmadiyah. Organisasi ini pun berakhir dengan ditangkapnya para pengurus, dan ia pun mendekam selama dua tahun di penjara Salemba. Pada tahun 1984 orang ini nekat lagi melibatakan diri dalam peristiwa berdarah di Tanjung Priok. Konon kebakaran besar yang menghanguskan Bank dan Gereja, serta merencanakan pengeboman di sekitar perpustakaan nasional, dia juga ikut terlibat sebagai salah seorang pelakunya.

            Penangkapan yang kedua kalinya dialami ketika ia berkhotbah “mengompori” masyarakat awam untuk menegakkan syariah sambil membakar bendera merah-putih di sekitar tugu monas, Jakarta. Tapi kini, seperti yang diakuinya, ia tak mau ambil pusing dengan urusan politik. Hubungannya dengan dunia politik berakhir sejak tahun 1988, kemudian putar haluan ke bidang pendidikan agama. Namun karena adanya daya tarik yang menggiurkan di bidang perdagangan, ia pun banting stir lagi untuk terjun ke dunia bisnis hingga saat ini.

Humor-humor atraktif dalam novel POB bukan semata-mata tempelan yang jatuh pada lawakan instan dan sesaat. Tapi menyangkut keseluruhan dari isi novel  modern itu sendiri. Teknik dan gaya penceritaan di dalamnya lebih menentukan efek humor daripada tema cerita itu sendiri. Kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua cerita lucu dapat dikisahkan dengan tepat sehingga dapat menimbulkan kelucuan atau humor. Teknik penceritaan yang kurang tepat, tidak akan mengenai sasaran, serta tidak mampu memancing orang tertawa, meskipun hal itu adalah cerita lucu.

Untuk menimbulkan efek humor dalam karya sastra, penulis POB pernah mengakui dalam suatu wawancara, bahwa seorang penulis cerita harus menguasai trik-trik jitu dan anatomi humor. Ia harus mampu membedakan antara parodi atau humor plesetan. Sedangkan humor substantif dalam POB mengandung logika internal yang dapat menyatukan psikologi penulis dengan khalayak pembacanya. Dalam narasi dan dialog-dialognya, POB juga mengandung doa-doa parodi yang menggugat pertanggung jawaban para politisi dan penguasa. Seperti yang diprediksi para akademisi dan budayawan, bahwa pihak penguasa senantiasa akan terjebak ke dalam bumerang jika tidak peka untuk mengamalkan apa yang menjadi pesan sentral dari sang sastrawan.

Berapa banyak sarana pendidikan dibangun oleh para penguasa, namun tak mungkin tercipta manusia-manusia unggul jika anak-anak kita tidak memperoleh pendidikan untuk membaca diri. Dan berapa banyak rumah-rumah sakit didirikan untuk kesehatan masyarakat, namun tidak ada jaminan bagi kesehatan fisiknya apabila kesehatan jiwanya tidak terobati.

Ingin saya akhiri tulisan ini, sambil mengutip petuah (asal kata ‘fatwa’) dari penulis POB seusai acara bedah bukunya di Rumah Dunia, Serang: “Tidak sedikit orang Indonesia yang mengembara dan berpetualang (travelling) ke mana-mana, tapi tak pernah terketuk hatinya untuk mengembara ke dalam diri. Kadang kita pun sibuk menilai dan membaca orang lain, tanpa ada kemauan dan kesungguhan untuk membaca dan bercermin diri. Inilah gagasan utama yang mendasari pemikiran saya memulai penulisan novel ini.” (*)

Penulis: Muakhor Zakaria

Dosen Perguruan Tinggi La Tansa Mashiro, Rangkasbitung, Lebak, Banten

Bagikan:

LAINNYA

Cerpen: Toko Cokelat di Pasar Cilegon (2)
Minggu, 07 Mar 2021 | 21:10 WIB
Cerpen: Toko Cokelat di Pasar Cilegon (2)
Borong Tanah di Daerah Baduy
Jumat, 05 Mar 2021 | 22:32 WIB
Borong Tanah di Daerah Baduy
Cerpen: Toko Cokelat di Pasar Cilegon (1)
Kamis, 04 Mar 2021 | 17:46 WIB
Cerpen: Toko Cokelat di Pasar Cilegon (1)
Ternyata ini Jumlah Istri Seorang Muslim di Surga
Minggu, 21 Feb 2021 | 17:47 WIB
Ternyata ini Jumlah Istri Seorang Muslim di Surga

KOMENTAR

Bukan Sastra Pendendam
dinsos dewan ac as Fae SF

INILAH SERANG

78 dibaca
Balap Liar di Kibin Dibubarkan Polsek Cikande
Top