Minggu, 17 Februari 2019

Bila Istri tak Perawan Lagi Saat Dinikahi

[foto ilustrasi]
Kamis, 06 Des 2018 | 18:40 WIB - Mozaik Islami

PERSOALAN yang kian gampang ditemui dalam keseharian kita, manakala seorang istri ternyata tak lagi perawan manakala dinikahi suaminya. Apa yang harus dilakukan keduanya manakala pernikahan sudah terjadi? Haruskah si istri mengakui sebelum malam pertama?

Pertama, Islam memotivasi kepada siapapun yang pernah melakukan dosa terkait dengan hak Allah, agar merahasiakan dosa itu dan dia selesaikan antara dia dengan Allah. Dia bertobat menyesali perbuatannya, tanpa harus menceritakan dosanya kepada siapapun. Termasuk kepada manusia terdekatnya.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menasihati,

"Siapa yang tertimpa musibah maksiat dengan melakukan perbuatan semacam ini (perbuatan zina), hendaknya dia menyembunyikannya, dengan kerahasiaan yang Allah berikan." (HR. Malik dalam Al-Muwatha, 3048 dan al-Baihaqi dalam Sunan as-Sughra, 2719).

Karena yang lebih penting dalam pelanggaran ini, bagaimana dia segera bertobat dan memperbaiki diri, tanpa harus mempermalukan dirinya di hadapan orang lain. Karena ini justru menjadi masalah baru.

Imam Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya tentang suami yang menikahi gadis. Di malam pertama, ternyata suami merasa istrinya tidak perawan. Salah satu bagian penjelasan beliau,

Jika istri mengaku bahwa keperawanannya hilang bukan karena hubungan badan, maka suami tidak masalah mempertahankan istrinya. Atau karena hubungan badan, namun sang istri mengaku dia diperkosa atau dipaksa, maka suami tidak masalah mempertahankan istrinya, jika istri sudah mengalami haid sekali setelah kejadian itu sebelum dia menikah.

Atau dia mengaku telah bertobat dan menyesali perbuatannya, dan dia pernah melakukan zina ini ketika dia masih bodoh, dan sekarang sudah bertobat, tidak masalah bagi suami untuk mempertahankannya. Dan tidak selayaknya hal itu disebarluaskan, sebaliknya, selayaknya dirahasiakan. Jika suami yakin sang istri telah jujur dan dia orang baik, bisa dia pertahankan. Jika tidak, suami bisa menceraikannya dengan tetap merahasiakan apa yang dialami istrinya. Tidak membeberkannya yang itu bisa menyebabkan terjadinya fitnah dan keburukan.

Kedua, apabila sebelum menikah suami mempersyaratkan istrinya harus perawan, ternyata setelah menikah sang istri tidak perawan, maka pihak suami berhak untuk membatalkan pernikahan.

Syaikhul Islam menjelaskan,

Apabila salah satu pasangan mengajukan syarat berupa kriteria tertentu kepada calonnya, seperti suami berharta, kecantikan, atau perawan atau semacamnya, maka syarat ini sah. Dan pihak yang mengajukan syarat berhak membatalkan pernikahan ketika syarat itu tidak terpenuhi, menurut riwayat yang lebih kuat dari Imam Ahmad dan pendapat yang kuat dalam Madzhab Syafii, serta itulah yang kuat dari pendapat Imam Malik. (Majmu Fatawa, 29/175).

Bagaimana dengan Mahar?

Jika pembatalan nikah ini sebelum terjadi hubungan badan, maka mahar dikembalikan. Namun jika telah terjadi hubungan, ada rincian:

Jika yang menipu pihak wanita, dia mengaku perawan padahal tidak perawan, maka dia wajib mengembalikan maharnya.
Jika yang menipu pihak wali, atau orang lain yang menjadi perantara baginya, maka dia yang bertanggung jawab mengembalikan maharnya.

Ibnul Qoyim menjelaskan,

Jika pihak suami mengajukan syarat, harus sehat tidak cacat, atau harus cantik, tapi ternyata jelek, atau harus masih muda, tapi ternyata sudah tua keriputan, atau harus putih, tapi ternyata hitam, atau harus perawan, tapi ternyata janda, maka pihak suami berhak membatalkan pernikahan. Jika pembatalan terjadi sebelum hubungan badan, istri tidak berhak mendapat mahar. Jika setelah hubungan, istri berhak mendapat mahar. Sementara tanggungan mengembalikan mahar menjadi tanggung jawab walinya, jika dia yang menipu suami. Namun jika istri yang menipu, gugur hak mahar untuknya (Zadul Maad, 5/163).

Ketiga, apabila sebelum menikah, suami tidak mempersyaratkan istrinya harus perawan, maka dia tidak memiliki hak untuk membatalkan akad.

Ibnul Qoyim menjelaskan kapan seorang suami berhak membatalkan akad nikah, jika sebelumnya dia tidak mempersyaratkan apapun.

Satu riwayat dari Umar radhiyallahu anhu: Wanita tidak dikembalikan (ke ortunya) kecuali karena empat jenis cacat: gila, kusta, lepra, dan penyakit di kemaluan. Riwayat ini tidak saya ketahui sanadnya selain dari Ashbagh, dari Ibnu Wahb, dari Umar. aturan ini berlaku jika pihak suami tidak mengajukan syarat apapun. (Zadul Maad, 5/163).

Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan,

Yang makruf di kalangan ulama, bahwa ketika seorang lelaki menikahi wanita yang dia anggap masih gadis, sementara dia tidak mempersyaratkan harus gadis, maka pihak suami tidak memiliki hak untuk membatalkan pernikahan. Karena kegadisannya bisa saja hilang karena si wanita main-main dengan organ pribadinya, atau karena dia melompat sehingga merobek keperawanannya, atau diperkosa. Selama semua kemungkinan ini ada, pihak suami tidak berhak membatalkan pernikahan, ketika dia menjumpai istrinya tidak perawan.

Namun jika pihak suami mempersyaratkan harus perawan, kemudian ternyata istrinya tidak perawan, maka suami punya pilihan untuk melanjutkan atau membatalkan nikah.

(Liqaat Bab al-Maftuh, volume 67, no. 13).

Demikian pembahasan rincian hukumnya. Hanya saja, kami menasihatkan, agar pihak suami tetap mempertahankan istrinya dan merahasiakan apa yang dialami istrinya, jika dia sudah benar-benar bertobat dengan serius dan istiqamah menjadi wanita yang saleh.

Dan jika anda telah menerimanya, lupakan masa silamnya, dan tidak diungkit lagi, terutama ketika terjadi pertengkaran rumah tangga. Dalam hadis dinyatakan,

"Orang yang telah bertobat dari perbuatan dosa, layaknya orang yang tidak memiliki dosa." (HR. Ibnu Majah 4250, al-Baihaqi dalam al-Kubro 20561, dan dihasankan al-Albani).

Karena dia sudah bertobat dengan serius, maka dia dianggap seperti orang yang tidak pernah melakukannya.

Sekalipun suami merasa sedih atau bahkan murka, namun ingat, semuanya tidak akan disia-siakan oleh Allah. Kesabarannya atas kesedihannya atau amarahnya akan menghapuskan dosanya. Allahu alam. [lnilah]

Redaktur: Mufin
Bagikan:

LAINNYA

Azab untuk Istri yang Menolak Jimak dengan Suami
Jumat, 15 Feb 2019 | 18:15 WIB
Azab untuk Istri yang Menolak Jimak dengan Suami
11 Ancaman Penyakit Berpakaian Sangat Ketat
Kamis, 14 Feb 2019 | 12:01 WIB
11 Ancaman Penyakit Berpakaian Sangat Ketat
Doa Ampuh Orangtua untuk Anak, Buktikan!
Rabu, 13 Feb 2019 | 07:41 WIB
Doa Ampuh Orangtua untuk Anak, Buktikan!
Keadaan Seorang Hamba yang Dekat dengan Allah
Rabu, 13 Feb 2019 | 07:36 WIB
Keadaan Seorang Hamba yang Dekat dengan Allah

KOMENTAR

Bila Istri tak Perawan Lagi Saat Dinikahi

PEMERINTAHAN

514 dibaca
Ketua dan Pengurus PPDI Kecamatan Jawilan Dilantik
402 dibaca
Tahun Ini, Dana Desa Pemprov Banten Tembus Rp61,9 Miliar
301 dibaca
Dihadapan Kades se-Lebak, Andika Beberkan Prioritas Penggunaan Dana Desa

POLITIK

341 dibaca
KPU Kabupaten Serang Target Satu Relawan Demokrasi 1000 Pemilih
247 dibaca
Warga Belum Paham Berpartisipasi pada Pemilu 2019
4239 dibaca
Gubernur Banten Wahidin Halim Dilaporkan ke Bawaslu

HUKUM & KRIMINAL

105 dibaca
Buron Curanmor Pingsan Saat Persembunyiannya Digerebag
85 dibaca
Diringkus, Dua dari Enam Bandit Jalanan Ditembak
503 dibaca
BNN Gagalkan Penyelundupan Narkotika di Pelabuhan Bojonegara

PERISTIWA

297 dibaca
Jelang Pemilu, Pejabat Polres Serang Gencar Kunjungi Ponpes dan Ulama
320 dibaca
Suhendar Ditemukan Tak Bernyawa di Kamar Kontrakan

EKONOMI & BISNIS

286 dibaca
Produksi Pangan Kabupaten Serang Surplus dan Aman
278 dibaca
Pencairan Bansos, Dinsos Banten Libatkan Dua Lembaga Perbankan
Top