Sabtu, 25 Mei 2024

Bijak Menyikapi Perbedaan

[Foto Ilustrasi/Net]
Kamis, 24 Des 2020 | 20:51 WIB - Suara Pembaca

Oleh : Chudori Sukra

(Kolomnis Kompas, pengasuh Ponpes Riyadlul Fikar, Jawilan, Serang)

 Maraknya pemikiran saintifik di tengah pandemi Corona akhir-akhir ini, bukan berarti kita harus mendewakan saintisme. Di sisi lain, kita perlu mengagumi pesatnya perkembangan sains sebagai anugerah yang patut disyukuri. Perbedaannya dengan agama, dalam dunia sains terdapat istilah “falsifikasi” di mana para saintis berjiwa besar untuk dikritik bahkan disalahkan oleh para koleganya. Mereka tidak saling mencemooh atau mengatakan “sesat” dan “kafir” kepada pihak yang dikoreksinya. Sedangkan dalam sejarah kaum pembawa risalah (agamawan) seringkali terjadi gontok-gontokan, saling fitnah bahkan melaporkannya ke majlis inkuisisi untuk diseret ke meja hijau.

Dalam agama, perbedaan sekte, aliran dan mazhab (imam) bisa saling mengkafirkan – meskipun dalam naungan seagama. Orang lain yang berbeda paham dianggap menyimpang dari “aqidah” dan berujung pada pertikaian dan peperangan.

David Berlinski dalam bukunya, “Devil’s Delusion” mencatat sejarah pertikaian sekte dan mazhab, baik dalam Kristen maupun Islam. Di benua Eropa (abad ke-17), kita mengenal tiga puluh tahun perang berkecamuk di Jerman akibat Reformasi Protestan. Dalam sejarah Islam, kita juga mengenal konflik berdarah-darah antara Syiah dan Sunni sejak masa klasik hingga modern. Kenapa ajaran Tuhan yang dimaksudkan untuk menegakkan ketentraman dan perdamaian di muka bumi, justru menimbulkan perang yang berdarah-darah?

Pada opini di harian nasional Kompas (24 April 2018) saya sempat membedah novel Pikiran Orang Indonesia yang ditulis seorang pemuda dari Banten Utara. Di situ saya kemukakan secara implisit, baik agama maupun sains tak terlepas dari aktivitas pikiran dan mental manusia. Meskipun dasar legitimasinya berbeda antara wahyu (ayat tekstual) dan pemikiran empiris atau kauniyah (ayat kontekstual), tetapi dalam agama terdapat hal yang sangat mendalam dan emosional.

Dunia sains menyebutnya dengan istilah “the ultimate concern”, sesuatu yang mendalam memengaruhi jiwa (psyche) dan emosi karena menyangkut pertanyaan mendasar dalam kehidupan manusia. Hal inilah yang menyebabkan rawan hingga menimbulkan konflik dan permusuhan.

Di sisi lain, watak sains bersifat rasional dan terbuka, sehingga para pemuda Banten merasa kurang kerjaan ketika harus mendukung sastrawan atau sejarawan yang menemukan bukti-bukti terbaru tentang kezaliman pemerintah Orde Baru selama 32 tahun berkuasa. Dalam skala internasional, adakah sekelompok massa yang rela berjuang (berjihad) membela teori gravitasi atau mempertahankan teori persamaan Einstein (E = Mc2).

Perbedaan hipotesa atau interpretasi dalam dunia sains tidak berujung pada konflik yang saling mengkafirkan, karena tidak menyangkut "the ultimate concern" tadi. Begitupun halnya dalam dunia sastra. Meskipun tidak sedikit sastrawan Banten (dan Indonesia) yang dilabelkan sebagai sastrawan pemarah dan pendengki, namun mereka – sebagaimana para pelatih sepakbola – tidak ada yang berseteru lantaran perbedaan strategi.

Kita patut merasa bangga dengan tradisi NU dalam merumuskan sebuah fatwa agama, yang tidak pernah saling mengkafirkan antara satu dengan yang lainnya. Perbedaan dalam forum bahtsul masa'il misalnya, tak pernah menimbulkan pertikaian yang saling menyesatkan, apalagi saling gontok-gontokan.

Karena itu, perbedaan yang menimbulkan konflik dan perang sebenarnya bukanlah hanya monopoli agama. Salah satu contohnya adalah perang dingin yang melibatkan perlombaan senjata nuklir yang nyaris memusnahkan spesies manusia, berlangsung sejak dekade 50-an hingga runtuhnya Tembok Berlin pada 1991. Perang dagang antara Amerika dan Cina menyusul pendemi Corona akhir-akhir ini, bermuara pada ketegangan global yang membuat para kepala negara mewanti-wanti: “Keselematan warga adalah hukum yang tertinggi!”

Tetapi dari perspektif lain, adalah berlebihan jika segala sesuatu yang potensial menyulut konflik – seperti agama, nasionalisme hingga pilkada – perlu dihapuskan sama sekali. Begitupun dalam kehidupan berdemokrasi, di mana perbedaan sangat potensial memantik kerusuhan juga.

Konflik dan perbedaan dalam kehidupan manusia, apalagi dalam agama yang menyangkut “the ultimate concern” adalah fakta yang tak terhindarkan. Dalam dunia keilmuan kita mengenal resolusi konflik (conflict resolution), di mana dunia sains lebih vokal menyerukan resolusi dan penyelesaian, dari suatu perbedaan yang menimbulkan perseteruan dan baku hantam.

Sebagaimana warung kopi Pak Salim yang bersebelahan dengan warung kelontong Bi Siti. Meskipun keduanya menyediakan makanan rebus maupun gorengan, mereka tetap bersahabat, akur-akur saja dan tidak saling gontok-gontokan.

Yang membedakan keduanya ketimbang orang-orang yang berdemo militan sambil mengobrak-abrik taman dan pepohonan di Monas, yakni kedua orang Jombang itu tidak angkuh dan pongah. Mereka merasa tak ada kerjaan untuk saling mengkafirkan antara satu dengan yang lainnya. Meskipun berbeda dalam cara memasaknya, juga berbeda dalam soal selera bagi para pelanggannya. ***

Bagikan:

KOMENTAR

Bijak Menyikapi Perbedaan

INILAH SERANG

2213 dibaca
Jelang Idhul Adha, Pedagang Kambing Kurban Menjamur
895 dibaca
Mantap, Tatu-Pandji Siap Naikan Insentif RT/RW hingga Honorer

HUKUM & KRIMINAL

1907 dibaca
Selundupkan Sabu, Pengunjung Rutan Tangerang Ditangkap
197 dibaca
Usai Sebar Sabu, Seorang Pengedar Ditangkap

POLITIK

2271 dibaca
SBY Ajak Kader Besarkan dan Kibarkan Panji Demokrat di Banten
2235 dibaca
PKS Lebak Jatuhkan Pilihan ke Iti-Ade

PENDIDIKAN

2621 dibaca
WH: Kita Akan Bebaskan Biaya Pendidikan di Banten
1217 dibaca
PGRI Anggap Belajar Tatap Muka Belum Saatnya Dilakukan
Top