Kamis, 15 April 2021

Berjumpa Sahabat Lama

[Foto Ilustrasi/Net]
Minggu, 07 Feb 2021 | 19:25 WIB - Suara Pembaca

Cerpen Supadilah Iskandar

Sulit sekali bagi saya bercerita tentang dunia industri hiburan. Di samping banyak istilah yang tidak saya pahami, juga banyak persoalan internal yang seakan hanya menjadi rahasia perusahaan. Tapi supaya Anda tidak mudah terhipnotis oleh industri yang meninabobokan itu, ingin saya ceritakan pengalaman saya pribadi, bersama teman saya yang merambah ke dunia industri hiburan, dengan bahasa sederhana sesuai kemampuan saya.

Teman saya itu bernama Mahmud Sukmara, yang kemudian berganti nama menjadi Mara Sukma. Lebih dari enam tahun kami menjalin pertemanan sejak kelas satu SMP hingga kelas tiga SMU. Kemudian, selama belasan tahun kami berpisah sejak kami menduduki bangku kuliah. Saya kuliah di kota Serang provinsi Banten, sedangkan Mara Sukma melanjutkan di kota metropolitan, Jakarta.

Dulu, semua teman di sekolah paham betul bahwa Mara Sukma lebih tampan dan ganteng ketimbang saya. Posturnya tinggi, dadanya bidang dan kulitnya putih. Kepribadiannya juga terbilang menawan, santun dan baik, tidak banyak membuat ulah seperti teman-teman lainnya.

Ia hidup dari keluarga berkecukupan. Bapaknya seorang pedagang dan pemilik toko sembako di Pasar Baru Cilegon. Sepertinya ia dibesarkan dengan kebutuhan yang selalu tercukupi, meskipun ia bukan tergolong laki-laki yang mudah menghamburkan uang. Selain itu, ia pun selalu berpenampilan menarik, dengan kegemaran mengenakan kemeja atau baju batik. Pada saat olahraga basket di sekolah, ia merasa senang dengan mengenakan kaos yang berkerah ketimbang berstelan oblong atau singlet.

Pada hari Minggu, biasanya kami pergi ke kolam renang, dan apabila saya tak punya uang untuk membeli karcis, ia tak segan-segan mentraktir, bahkan dalam hal jajanan di kantin kolam renang sekalipun.

Di musim-musim kampanye politik, biasanya ia berkecimpung menyuarakan partai atau calon presiden berhaluan liberal. Secara akademik, meskipun wawasannya biasa-biasa saja, tapi ia tergolong pelajar yang nilainya lumayan. Sewaktu SMU, kami pernah juga disatukan dalam satu grup musik. Saya memegang gitar bass, sedangkan dia sebagai drummer. Grup musik yang disukainya terbilang ngetren pada masa itu, seperti Pearl Jam, Metallica, Soundgarden hingga Guns N’Roses. Sedangkan grup band lokal yang digemarinya adalah Dewa 19, Ungu, Syeilla On 7 dan lain-lain.

Bagaimanapun, Mara Sukma adalah pelajar yang amat populer di mata gadis-gadis SMU, meskipun ia bukanlah tipe laki-laki yang mudah gonti-ganti pasangan. Dia cuma punya satu pacar, seorang gadis kelas tiga SMU, yang seringkali diajaknya nonton di salah satu bioskop Twenty One pada minggu sore. Paling tidak, itulah sekilas saya ceritakan tentang pengalaman saya dengan Mara Sukma. Pendek kata, dulu ia terbilang laki-laki serba kecukupan, tanpa kekurangan suatu apa.

Sewaktu menginjak di bangku kelas tiga SMP, kami sering mendengar musik bersama-sama. Ketika Mara mempunyai album baru, biasanya ia menyampaikannya di sekolah, lalu saya pun bertandang ke rumahnya seusai pelajaran sekolah. Begitupun kalau ia memiliki novel terbaru. Novel-novel romantis yang paling disukainya adalah karya-karya Nicholas Sparks, Jane Austen, Eric Segal hingga Charlotte Bronte dan lain-lain.

   Saya masih ingat setelah lulus SMU dan kami mengalami euphoria bersama sambil mencorat-coret baju sekolah dengan spidol, Mara meminta saya membubuhkan tandatangan di bagian punggung, lalu malam harinya mengajak saya dan pacar saya menonton bareng ke bioskop bersama dia dan pacarnya. Setelah itu, saya mendengar kabar bahwa Mara melanjutkan kuliah ke Jakarta dan pertemanan kami pun terputus sampai di situ.

Belasan tahun saya tak pernah jumpa dengannya. Meskipun samar-samar saya menerima kabar bahwa dia bekerja di salah satu stasiun televisi bersamaan dengan maraknya para pengusaha industri hiburan yang membuka siaran-siaran televisi swasta. Tapi entah dia bekerja di televisi mana, saya kurang tahu.

***

Sore itu, ketika saya menghadiri undangan untuk acara “Temu Sastrawan Nasional” di salah satu hotel bintang lima di Jakarta, saya menyempatkan diri duduk-duduk di samping kolam renang di lantai dasar hotel. Entahlah, apa yang ada di pikiran mereka dengan melibatkan saya sebagai pihak yang diundang. Padahal, saya cuma penulis amatiran biasa yang selalu mengalami kesulitan menuangkan gagasan ke dalam karya sastra. Tetapi, sebagai penghormatan kepada para sastrawan senior, lebih baik saya memutuskan untuk turut serta menghadirinya. Lagipula, acara tersebut memiliki tema unik dan menarik: Sastrawan Kita Harus Menjadi ”Manusia Selesai”.

Singkat kata, di sekitar kolam renang, sore itu, tiba-tiba muncul seorang laki-laki bertubuh kekar dan dada bidang, mengambil posisi duduk di sebelah saya. Seketika saya amati dengan ekor mata saya yang tertutup kacamata hitam. Ah, bukan salah lagi, dialah Mara Sukma! Sahabat saya yang tak pernah berjumpa selama belasan tahun.

Kelihatannya dia masih ganteng dan tampan seperti dulu. Tentu usianya sepantaran saya sekitar tigapuluh dua tahun, atau paling berselisih satu tahun. Dia menunjukkan ekspresi dan pesona yang saya sudah kenal sebelumnya. Boleh jadi di lingkungan tempatnya bekerja, pesona itu menyebar hingga tak urung para wanita meliriknya, dan ingin menjadi kekasihnya.

Saat itu juga, Mara tidak menyadari kalau saya sedang duduk-duduk santai di sampingnya. Saya agak melengos sedikit sambil membetulkan posisi kacamata hitam yang menggelayut di pipi. Seketika saya putuskan bahwa saya tak perlu menyapanya, dan dengan kacamata hitam berlensa agak lebar, saya merasa yakin kalau dia tak bakalan mengenali saya.

Tak berapa lama, muncullah sesosok wanita cantik yang siapapun tahu dialah Nikita Thalia, seorang artis ibukota terkenal yang tiba-tiba mengambil posisi duduk di samping Mara. Sesaat saya menggerutu sendirian di dalam hati:

Waduh, kenapa tadi memutuskan tidak menyapa Mara? Rupanya artis kondang itu mengenali dia, bahkan sangat membutuhkannya.  Kenapa saya pakai melengos sambil membetulkan kacamata hitam segala? Untuk apa saya bersikap tak acuh, padahal dia adalah sahabat karib saya, yang dulu mentraktir nonton, serta meminjamkan album-album musik terbaru, yang justru beberapa koleksi musiknya masih saya simpan hingga kami lepas dari pertemanan sejak lulus SMU?

Tapi kalaupun saya menyapanya kemudian berbincang-bincang dengannya, masalahnya apa yang akan kami perbincangkan? Soal spidol dan corat-coret baju seragam ketika lulus SMU? Atau tentang beberapa album musik dan novel miliknya yang belum sempat saya kembalikan sampai sekarang? Waduh, tentang apa lagi ya?

Tentu saya akan kelimpungan dan kehabisan bahan pembicaraan. Akhirnya, saya putuskan untuk membiarkan mulut terkunci sebagai alasan tak punya nyali untuk menegur apalagi mengajak ngobrol dengannya. Maka, saya biarkan tatapan mata agak melengos sedikit, sambil pura-pura membaca buku, karena saya sempat menenteng dua buah buku saat keluar kamar hotel tadi.

***

Biarpun mata tertutup kacamata hitam, tapi kuping toh bisa mendengar jelas apa-apa yang mereka bicarakan, lebih tepatnya apa-apa yang mereka pertengkarkan di sore itu.

Artis terkenal itu tiba-tiba berteriak memaki-maki Mara, “Taik kucing! Mau berbohong lagi, Kamu?”

“Taik kucing bagaimana? Saya tidak bercanda, saya serius!”

“Justru saya yang serius! Kamu sendiri yang banyak cengar-cengir!”

Dengan suara mengiba, Mara menimpali, “Kamu jangan memandang saya seperti itu! Seharusnya kamu ngerti kalau saya ini bicara apa kata atasan. Saya hanya menjalankan tugas, Nikita!”

“Atasan lagi, atasan lagi… emangnya kamu itu bukan atasan saya?”

“Bukan begitu, maksud saya, kamu harus punya cara pandang berbeda, jangan cuma menurut kemauan kamu…”

“Omong kosong! Kamu ngomong kayak begitu karena kamu ingin menghindar dari tanggung jawab, iya kan?”

Mara tidak membalas, hanya menghela napas dalam-dalam.

Tapi sebelumnya, saya ingin perjelas dulu pembicaraan mereka yang ngalor-ngidul dan panjang lebar. Barangkali memerlukan puluhan halaman jika saya tuangkan sepenuhnya dalam tulisan ini. Tapi seperti yang saya sampaikan terdahulu, saya kurang banyak menguasai seluk-beluk industri hiburan. Maka, saya persingkat saja bahwasanya – seperti yang dikatakannya – saat itu Mara Sukma sudah menjadi sutradara di salah satu siaran televisi swasta di Jakarta. Artis senior yang terkenal itu rupanya telah diputus kontrak lantaran cuitannya (di medsos) diperkarakan suatu lembaga kepemudaan kepada pihak kepolisian. Atau barangkali juga lantaran kepopulerannya yang sudah menurun.

Dari yang saya dengar, sepertinya Mara sudah menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya.

“Jadi, pada dasarnya kita tak dapat berbuat banyak tanpa adanya iklan dan sponsor… saya kira kamu ngerti deh masalah bisnis ini…”

“Alaah, bilang saja kamu memang nggak punya tanggung jawab untuk menjelaskan masalah ini…”

“Bukan begitu, Nikita… saya hanya ingin mengatakan bahwa secara pribadi saya tidak dapat berbuat banyak, ngerti kan?”

“Omong kosong!”

Obrolan itu lagi-lagi menemui jalan buntu. Artis cantik itu sepertinya ingin tahu seberapa besar usaha Mara dalam memperjuangkan hak-haknya. Di sisi lain, Mara beralasan, bahwa ia sudah berusaha keras dan telah berbuat apa yang mesti diperbuat. Tapi si artis terus mendesak agar ia menunjukkan bukti pengorbanannya.

Rupanya artis senior itu sangat mencintai Mara. Menurut dugaan saya, setelah mereka saling cekcok lalu terdiam dalam waktu yang cukup lama, persoalannya baik-baik saja dan selesai sampai di situ. Si artis bangkit membetulkan posisi duduknya, lalu katanya dengan suara mendesah, “Ya, sudahlah kalau begitu…. Coba tolong pesankan somay sama jus melon, traktir saya ya?”

“Oke, siap!”

Dan Mara pun bersejingkat dari duduknya, langsung menuju gerai makanan dan minuman.

Tak berapa lama, Mara kembali dengan satu piring somay dan dua gelas jus melon. Sambil menyuguhkan ke hadapan artis, ia pun berkata menenangkan, “Makanlah somay ini, saya sudah makan sebelum ke kolam renang tadi… tapi sudahlah, mulai saat ini, persoalan itu tak perlu …”

Belum selesai ia bicara, artis senior itu mencengkeram somay di atas piring, lalu meraupkannya ke wajah Mara. Setelah itu, ia mengguyur kepalanya dengan dua gelas jus melon, hingga percikan airnya mengenai tubuh saya.

Dengan tatapan garang, artis itu kemudian ngeloyor pergi tanpa menengok kanan-kiri lagi. Mara – dan saya di sebelahnya – hanya duduk terpana. Seisi hotel menatap kami dengan kaget dan penuh tanda-tanya.

Mara segera mengendalikan suasana, seraya meminta maaf sambil menyodorkan handuk kepada saya.

“Ah, nggak apa-apa,” balas saya, “sebentar lagi juga saya mau mandi sore…”

Dengan rasa kesal, Mara menarik kembali handuk itu dan mengeringkan dirinya sendiri.

“Maaf ya, Mas, tapi setidaknya biarlah saya akan ganti dua buku yang sedang Mas baca.”

“Nggak apa-apa.”

“Biar nanti saya belikan, buku apa itu, Mas, coba lihat!”

Dua buah buku itu adalah novel “Pikiran Orang Indonesia” karya seorang penulis asal Banten, sedangkan satunya lagi berjudul “The Notebook” karya Nicholas Sparks. Buku kedua ini adalah buku yang pernah saya pinjam belasan tahun lalu, dan pada cover depannya tertera nama asli dari Mara Sukma, yakni “Mahmud Sukmara”. ***

- Cerpenis generasi milenial, esai-esai sastra termuat di berbagai harian lokal, nasional dan media daring.

Bagikan:

LAINNYA

Cerpen Supadilah Iskandar: Hidup dalam Kesunyian
Sabtu, 10 Apr 2021 | 13:44 WIB
Cerpen Supadilah Iskandar: Hidup dalam Kesunyian
Jika Sakit, Anda Sedang Disucikan dari Dosa
Rabu, 31 Mar 2021 | 22:44 WIB
Jika Sakit, Anda Sedang Disucikan dari Dosa
Cerpen Chudori Sukra: Tewasnya Sang Teroris
Rabu, 31 Mar 2021 | 22:38 WIB
Cerpen Chudori Sukra: Tewasnya Sang Teroris

KOMENTAR

Berjumpa Sahabat Lama
pa aef

INILAH SERANG

60 dibaca
Beli Sabu Patungan, Dua Sekawan Dicokok Polres Serang
121 dibaca
Supporter Bola dan Club Motor Sepakat Jaga KondusivitasRamadhan

HUKUM & KRIMINAL

60 dibaca
Beli Sabu Patungan, Dua Sekawan Dicokok Polres Serang
119 dibaca
Lagi, Polres Serang Ringkus Penjual Obat Tramadol dan Hexymer

POLITIK

201 dibaca
Antisipasi Kerawanan Pilkades, Pemkab Serang Lakukan Pemetaan
755 dibaca
Ngopi Bareng Kapolres, Apdesi dan DPMD Bahas Pilkades Aman, Damai dan Sehat

PENDIDIKAN

420 dibaca
Mendikbud: Sekolah Diperbolehkan Belajar Tatap Muka Terbatas
549 dibaca
Pemkab Serang Akan Tingkatkan Penerima dan Insentif Guru Paud
Top