Minggu, 13 Juni 2021

Bangsa yang Tak Pandai Menalar

(foto ilustrasi)
Kamis, 26 Apr 2018 | 15:55 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Muhamad Pauji

Penulis Aktivis Gerakan Membangun Nurani Bangsa

PENGERTIAN ‘nalar’ dalam kamus besar Poerwadarminta adalah akal-budi, dan pertimbangan baik dan buruk. Bangsa-bangsa maju identik dengan bangsa yang pandai menalar, dan sangat erat kaitannya dengan kemajuan bahasa-bahasa di negerinya. Untuk bangsa-bangsa yang terbelakang, kita mengenal istilah dalam peribahasa: “Sungguhpun ada bangsanya, akalnya tiada, dan nalarnya pun tiada berkembang.”

Ada beberapa bangsa yang berpotensi menjadi bangsa besar di asia karena kekuatan bahasanya, di antaranya Cina, India, dan Korea. Bahasa Mandarin dikenal sangat luas, dan telah memiliki jejak-jejak yang terus berkembang selama berabad-abad. Di samping Inggris, dulu bahasa Arab dan Belanda sangat berpengaruh dan berkembang luas menjangkau lintasan geografi bangsa-bangsa dunia.

Jarang penulis dan intelektual kita yangmenghubungkan isu bubarnya Republik Indonesia, sangat erat kaitannya dengan bahasa nasional yang sedang mengalami krisis. Jiwa kebahasaan bangsa ini sedang mengalami keterdesakan yang luar biasa. Sebagian pembesar dan politisi kita juga memberikan teladan dengan membanggakan milik orang lain, terutama dalam berbahasa Indonesia di depan publik, bertaburan dengan istilah-istilah asing, yang sebenarnya masih ada padanan katanya dalam bahasa kita. Mereka seakan tak ambil peduli dengan peran bahasa kita yang semakin terpinggirkan. Padahal kita semua tahu, kekuatan bahasa nasional, sangat identik dengan kokohnya persatuan suatu bangsa.

Kita yang menentang Zionisme harus paham betul bahwa ada rahasia tersembunyi yang membuat kokohnya persatuan orang-orang Yahudi di Israel, yakni bahasa persatuan. Padahal bahasa Ibrani yang menjadi tulang punggung kesatuan itu, sudah punah selama berabad-abad. Bahasa Ibrani hanya hidup dalam teks-teks kitab Kabalah, dan beberapa kitab masalalu yang sudah jarang dipakai sebagai bahasa dialek sehari-hari. Orang Yahudi Diaspora menggunakan bahasa masing-masing sesuai tempat domisilnya. Mereka yang tinggal di Amerika menggunakan bahasa Inggris, mereka yang tinggal di negeri-negeri Timur Tengah kebanyakan berbahasa Arab. Bahasa Ibrani semula hanya sebentuk teks suci yang hanya dipakai kalangan rabi dan pendeta saja.

Terlepas apakah Anda setuju atau tidak sama sekali mengenai berdirinya negara Israel. Tapi saya merasa berkewajiban untuk membongkar rahasia mereka, bahwa cita-cita berdirinya negara itu dimulai dari gerakan Zionisme yang berawal dengan memproklamasikan bahasa persatuan mereka, yakni bahasa Ibrani. Bahasa kuno yang sebenarnya sudah punah itu dihidupkan kembali oleh mereka, melalui gerakan penulisan sastra, termasuk karya sastra Elie Wiesel yang menceritakan kehidupan orang-orang Yahudi di kamp-kamp konsentrasi Nazi Jerman.

Di tahun 1948, tiga tahun setelah Indonesia merdeka, konstitusi negara Yahudi itu serta-merta mengumumkan ikrar yang manyatakan pentingnya bahasa sebagai perekat persatuan bangsa, sampai-sampai seluruh sendi dan organ negara diwajibkan menggunakan bahasa Ibrani sebagai bahasa nasional mereka. Kita mengenal film Schindler’s List karya Steven Spielberg, di tengah keganasan tentara-tentara Nazi Jerman, para pembesar Yahudi masih memanfaatkan bahasa Ibrani untuk berkomunikasi merekrut orang-orang berbakat di kalangan kaum Yahudi.

Baru sekitar 70 tahun setelah diikrarkan bahasa persatuan Ibrani, lebih muda dua dekade dari bahasa persatuan kita (Sumpah Pemuda 1928), saat ini bahasa Ibrani telah menjelma menjadi bahasa modern yang sangat kuat dan kokoh. Bahasa ini memiliki kapasitas yang begitu mengagumkan, sampai-sampai mampu mengungkap sisi-sisi terdalam dari psikologi dan kejiwaan manusia.

Dalam perkembangannya kemudian, setelah pemakaiannya yang massif di dunia sastra, bahasa Ibrani fasih pula untuk mengungkapkan sisi-sisi terdalam mengenai dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan. Melalui kekuatan nalar dan imajinasinya, dengan perangkat bahasa Ibrani, orang-orang Yahudi  sanggup membuat pijakan dan identitas yang dapat mempersatukan mereka, baik yang tinggal di wilayah Israel, maupun Yahudi Diaspora yang menyebar ke belahan dunia lainnya.

Lantas, apa yang diandalkan dari kebanggaan bangsa Indonesia terhadap bahasa persatuannya? Dunia pendidikan kita begitu abai terhadap kekayaan dan harta-karun yang sudah dimiliki bangsa ini sejak 1928 lalu. Negeri ini sangat memerlukan kepemimpinan yang melibatkan, serta menyadarkan segenap rakyat akan pentingnya fungsi berbahasa. Karena dengan kekuatan dan kekayaan bahasa, kita bisa menggugah seluruh masyarakat atas perlunya perubahan dalam pendidikan dan keilmuan.

Pemimpin kita harus mampu meyakinkan masyarakat, bahwa peradaban dan ilmu pengetahuan hanya mungkin berkembang dengan perangkat bahasa, di mana seluruh lapisan masyarakat harus punya kebanggaan menggunakannya. Keyakinan ini harus tumbuh dalam jiwa dan sanubari segenap masyarakat, di mana sang pemimpin harus memiliki andil paling vital untuk memberikan teladan di baris depan.

Masyarakat kita jangan sampai dijerumuskan di tengah bahasa-bahasa kerdil dan picik dalam pemakaian bahasa kekuasaan. Bahasa mereka sehari-hari harus memiliki bobot makna, hingga nalar mereka dapat hidup dan aktif. Terlebih di dunia pendidikan, bahasa yang digunakan harus bernuansa menyuburkan pernalaran.

Tidak sedikit orang-orang bijak menyatakan bahwa, bencana terburuk yang menimpa suatu bangsa, bukan lantaran adanya kritik dan saran dari sebagian masyarakat. Tapi justru karena maraknya kepatuhan buta dan keterpaksaan menjalankan perintah atasan. Kepatuhan buta dalam pendidikan yang tidak bernalar, merupakan sebuah jalan bebas hambatan menuju bencana peradaban.

Keterlibatan dan peran serta kalangan budayawan, akademisi dan jurnalis, untuk menggelorakan kasmaran berbahasa yang baik dan bernalar, perlu direncanakan secara bersama-sama. Bukankah dalam peribahasa kita mengenal, “al-Insanu hayawanun nathiq”, yang artinya bahwa manusia adalah hewan yang bernalar (berbahasa). Seperti yang diutarakan penulis novel Pikiran Orang Indonesia, “Kalau masyarakat tidak punya kemauan untuk mengeksplorasi bahasa sebagai alat untuk kekuatan bernalar, jangan-jangan martabat kemanusiaan kita tidak pernah meningkat, dan tidak lebih dari sekadar derajat hewani.”

Sejalan dengan itu, di dunia kesusastraan, perlu upaya sistematis dari para penulis dan sastrawan untuk menularkan kegairahan membaca dan menulis dengan memanfaatkan dan menggunakan bahasa Indonesia sebaik-baiknya, tanpa harus saklek dan terikat oleh pembakuan kata. Jika ini semua terwujud, ditambah peran aktif pemerintah dengan segala sarana dan prasarana yang mendukungnya, tidak menutup kemungkinan, budaya dan peradaban Banten, disusul dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan akan bertumbuh dengan pesat dan gemilang. Insya Allah. (*)

Redaktur: Arif Soleh
Bagikan:

LAINNYA

Cerpen Muhamad Pauji: Lurah Jombang Sakit Gigi
Sabtu, 05 Jun 2021 | 14:50 WIB
Cerpen Muhamad Pauji: Lurah Jombang Sakit Gigi
Cerpen Muhamad Pauji: Hadiah Lukisan
Selasa, 25 Mei 2021 | 16:30 WIB
Cerpen Muhamad Pauji: Hadiah Lukisan
Wawancara Bersama Bung Hafis
Selasa, 25 Mei 2021 | 13:26 WIB
Wawancara Bersama Bung Hafis

KOMENTAR

Bangsa yang Tak Pandai Menalar

INILAH SERANG

153 dibaca
Polres Serang Bagikan Masker ke Pengunjung Ponpes Syech Nawawi Tanara
704 dibaca
Polres Serang Amankan Belasan Preman dan Sita Uang Pungli
160 dibaca
Polres Serang Ringkus Dua Pengedar Obat Tramadol dan Hexymer

HUKUM & KRIMINAL

50 dibaca
Polda Banten Gagalkan Penyelundupan 90 Ribu Bibit Lobster
704 dibaca
Polres Serang Amankan Belasan Preman dan Sita Uang Pungli
160 dibaca
Polres Serang Ringkus Dua Pengedar Obat Tramadol dan Hexymer

POLITIK

390 dibaca
Pemkab Serang Soroti Pilkades Serentak di Dua Kecamatan
448 dibaca
Amankan Pemilihan Anggota BPD Tanara, Polres Serang Prokes Covid-19
651 dibaca
Andika Minta PPP Banten Dukung Pemprov Sejahterakan Masyarakat

PENDIDIKAN

354 dibaca
Andika: Data BPS Menunjukkan Kualitas Pendidikan Penduduk Banten Meningkat
382 dibaca
PPDB di Kabupaten Serang Dibuka 21 Juni, Ini Tahapannya
Top