Selasa, 23 Juli 2019

Bagaimana Jika Dimusuhi dan Disakiti?

[foto ilustrasi]
Rabu, 10 Apr 2019 | 23:47 WIB - Mozaik Islami

Oleh: KH Ahmad Imam Mawardi

SIAPA yang tak sedih jika dimusuhi dan tak sakit jika disakiti? Setiap orang berkehendak memiliki banyak sahabat dan saudara yang baik, namun faktanya adalah bahwa tak semuanya berniat dan berperilaku baik.

Sejarah mencatatkan kisah permusuhan antarsahabat dan keluarga sehingga ada sebutan musuh dalam selimut. Tidak semua yang kita kenal baik-baik dan menampakkan tampilan baik itu adalah betul-betul baik, sehingga muncul istilah musang berbulu domba. Bagaimanakah sikap kita jika kita adalah korban?

Mungkin ada banyak kemungkinan pilihan sikap. Yang paling lazim adalah sikap menangis dalam diam. Banyak orang yang mempersepsi sikap seperti ini sebagai sikap lemah. Sikap lainnya adalah melawan dan membalas sikap musuh dan perilaku menyakitkan dari lawan. Banyak orang mempersepsi sikap ini sebagai sikap jantan. Benarkah? Kata para guru, tak semua diam itu lemah, kadang diam itu adalah perlawanan terkuat yang memiliki daya dahyat di luar duga.

Namun adakah sikap yang lebih baik, lebih bermanfaat dan lebih Islami dibandingkan dua pilihan tersebut di atas? Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya, Bada'i' al-Fawa'id juz 2 halaman 232 berkata: Saat seorang hamba diserang, disakiti atau ditindas musuh-musuhnya, tak ada sikap yang lebih bermanfaat dalam menghadapinya dibandingkan dengan TAUBAT NASUHA.

Bertaubat adalah langkah terbaik. Apa maknanya? Ada banyak makna di balik nasehat ini. Di antaranya adalah bahwa bisa jadi perlakuan tak nyaman dari orang lain kepada kita adalah buah dari dosa dan kesalahan yang kita lakukan sebelumnya. Allah menegur kita dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan mengirimkan surat teguran melalui orang yang memusuhi kita. Bisa pula bermakna bahwa taubat merupakan langkah bagus untuk mengundang cinta dan kasih sayang Allah. Bisa juga bermakna bahwa orang yang bersih dari dosa akan selalu diselamatkan oleh Allah dari berbagai ketaknyamanan.

Mulai saat ini, mari kita belajar untuk melawan perilaku tak nyaman dari orang lain kepada kita dengan bertaubat, bukan dengan berteriak dan menuding-nuding, apalagi mengeluarkan jurus kelahi yang dibungkus dengan nafsu amarah. Salam AIM. [lnilah] 

Bagikan:

LAINNYA

Waspadalah! Tercabutnya Nikmat Akibat Maksiat
Minggu, 21 Jul 2019 | 21:05 WIB
Waspadalah! Tercabutnya Nikmat Akibat Maksiat
MendekatI Zina, Curhat dengan Suami Orang
Minggu, 21 Jul 2019 | 20:46 WIB
MendekatI Zina, Curhat dengan Suami Orang
Anda Boleh Berbuat Dosa Asal Ada Lima Syarat Ini
Minggu, 21 Jul 2019 | 13:29 WIB
Anda Boleh Berbuat Dosa Asal Ada Lima Syarat Ini

KOMENTAR

Bagaimana Jika Dimusuhi dan Disakiti?

PEMERINTAHAN

634 dibaca
Silpa APBD Kabupaten Serang TA 2018 Capai Rp403 Miliar
1849 dibaca
Dinilai Sukses, Bupati Minsel Belajar Kelola BUMD ke Bupati Serang
1710 dibaca
Pemkab Serang Terapkan Sistem Berbasis Elektronik

POLITIK

830 dibaca
Tak Penuhi Kuorum, Paripurna DPRD Kabupaten Serang Batal Digelar
1879 dibaca
Pilkada Serentak 2020, Golkar Banten Prioritaskan Usung Kader
1778 dibaca
Eks Relawan Sebut Kepemimpinan WH–Andika Bergaya Otoriter

HUKUM & KRIMINAL

2350 dibaca
Orang Tua Kades di Kecamatan Ciruas Dibacok
1405 dibaca
Tiga Pelaku Curas Biasa Aksi di Wilayah KP3B Diringkus
1451 dibaca
Miliki Catatan Kriminalitas, Dua Perampok Asal Malaysia Tak Bisa Dibawa ke Indonesia

PERISTIWA

1823 dibaca
Bupati Serang: TMMD Bangkitkan Budaya Gotong Royong di Masyarakat 
1959 dibaca
Diduga Terlibat Jual Aset Negara, Kejari Didesak Usut Walikota Serang
1734 dibaca
Peringati HANI 2019, Bupati Serang Canangkan Program Bersih dan Aman

EKONOMI & BISNIS

378 dibaca
Soal Pasir Laut, Bupati Tatu Minta Kajian Tim Ahli Dipublikasikan
543 dibaca
Inilah Gadis di Balik Uang Digital Facebook
Top