Selasa, 29 September 2020

Atasi Kelangkaan LPG Melon, Pertamina Gerak Cepat

Rabu, 05 Agt 2020 | 22:12 WIB - Ekonomi & Bisnis

lBC, Jakarta - Elpiji 3 kilogram (subsidi) yang diperuntukan kelompok miskin, hingga hari ini masih banyak digunakan kelompok masyarakat mampu.

Akibatnya, kuota LPG 3 kg sering habis di tengah jalan. Sehingga menyebabkan kelangkaan di sejumlah daerah. Dalam hal ini, kelompok yang berhak dirugikan.

Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan, menilai, kelangkaan gas elpiji ukuran 3 kg merupakan permasalahan klasik yang selalu muncul setiap tahun.

Hal ini terjadi karena gas melon, sebutan untuk elpiji bersubsidi, yang notabene menjadi hak masyarakat miskin, justru dinikmati masyarakat mampu. Seharusnya, masyarakat mampu tidak mengambil apa yang menjadi hak masyarakat miskin.

"Biasanya, kelangkaan akibat tidak adanya pembatasan distribusi. Masyarakat mampu masih banyak kedapatan mengunakan elpiji ukuran 3 kilogram. Ini juga terjadi karena disparitas harga dengan elpiji nonsubsidi yang masih besar. Apalagi di saat banyak kegiatan di rumah seperti saat ini, kebutuhan penggunaan LPG mengalami peningkatan," ujar Mamit kepada media, Rabu 5 Agustus 2020.

Mamit berharap, kelompok masyarakat mampu tidak menggunakan gas elpiji 3 kilogram, karena merugikan kelompok masyarakat lain dan juga para pedagang kecil yang memang lebih berhak mendapatkan gas elpiji 3 kilogram.

Jika kelompok masyarakat mampu masih bandel menggunakan gas elpiji 3 kilogram, bisa dipastikan kuota yang ditetapkan oleh BPH Migas akan jebol dan ujung-ujungnya justru memberatkan Pertamina dan keuangan negara.

"Setiap kali over, maka ini menjadi tanggungan Pertamina. Sementara ketika kuota jebol dan terpaksa ditambah oleh Pertamina, belum tentu juga diganti pemerintah karena masih perlu dihitung selisihnya dan tergantung audit BPK," jelas Mamit.

Yang pasti, Mamit berharap, masyarakat tidak perlu panik karena Pertamina selalu bergerak cepat jika terjadi kelangkaan. Meski begitu, ia mendorong masyarakat beralih ke produk-produk gas lain milik Pertamina terutama nonsubsidi.

"Pertamina saya kira pasti sigap dengan menambah pasokan dan melakukan operasi pasar untuk daerah yang terjadi kelangkaan sampai kondisi normal kembali. Pertamina juga akan terus memastikan ketersediaan produk di agen dan pangkalan LPG, sebagai penyalur resmi Pertamina," jelas Mamit.

Mamit juga menyampaikan agar Pertamina bisa memanfaatkan agen sebagai penyalur resmi saat mengadakan operasi pasar."Agen ini pasti mempunyai gudang, jadi operasi pasar yang dilakukan oleh Pertamina dilakukan di gudang-gudang milik agen. Batasi 1 orang hanya berhak dengan 1 tabung LPG 3 kilogram, bahkan jika bisa mereka menunjukan KTP agar tidak dobel-dobel dalam 1 kepala keluarga,"jelas Mamit.

Mamit memperkirakan, jika beban subsidi naik terus, akan menyebabkan beban kekuangan negara bisa terganggu. Apalagi, ditambah saat ini 70% elpiji masih impor.

Jika subsidi terus, defisit transaksi berjalan akan makin tinggi. "Perlu adanya kebijakan dalam mengendalikan elpiji 3 kg yang salah satunya adalah distribusi tertutup. Ini lebih jelas asalkan datanya benar sehingga tepat sasaran dan jangan sampai ada kesalahan data. Salah satu kelemahan kita adalah akurasi data," pungkas Mamit. [lnilahcom]

Redaktur: Arif Soleh
Bagikan:

KOMENTAR

Atasi Kelangkaan LPG Melon, Pertamina Gerak Cepat

PEMERINTAHAN

73 dibaca
Rakor, Pjs Bupati Serang Fokus Penanganan Covid-19
176 dibaca
Wagub Andika Lantik Pjs Bupati Serang dan Pandeglang

POLITIK

24 dibaca
Uji Publik DPS, KPU Kabupaten Serang Pastikan DPT Bakal Bertambah
305 dibaca
Dapat Nomor Urut 1, Tatu-Pandji Siap Tuntaskan Pembangunan
201 dibaca
Terapkan Prokes Covid, KPU Tetapkan Nomor Urut Paslon Bupati dan Wabup Serang

HUKUM & KRIMINAL

177 dibaca
Polres Serang Ringkus Dua Pelaku Penggelapan Ribuan Sepatu Ekspor
91 dibaca
Dua Gadis ABG Digilir Tujuh Pemuda

PERISTIWA

277 dibaca
Curi Kotak Amal, TSP jadi Bulan-bulanan Warga
448 dibaca
Razia Prokes, Gugus Tugas Kabupaten Serang Sanksi Puluhan Pelanggar

EKONOMI & BISNIS

136 dibaca
Dukung Ketahanan Pangan, Polda Banten PT. IP Budidaya Ikan
Top