Selasa, 29 September 2020

Apa yang Dicari Pendengki?

ilustrasi pendengki (foto istimewa)
Rabu, 13 Sept 2017 | 08:46 WIB - Suara Pembaca

Oleh: HABIB M.

BICARA tentang politik kebencian, mengingatkan kita pada sosok fenomenal yang dikenal luas bernama Jonru Ginting. Terlepas dari metode dan kiat-kiat yang dipraktikkannya, seorang pendengki yang menyebarluaskan aneka kebencian dapat diukur dari niat dan motivasinya dalam melakukan sesuatu. Sebagian orang menilai bahwa apa yang ingin dicapai oleh Jonru adalah target permusuhan, uang, kedudukan dan popularitas.

Dalam salah satu tulisannya, Jonru cukup idealis menyatakan dirinya tidak menghendaki uang dan popularitas, tapi yang dia cari adalah “meaning” (nilai-nilai). Saya agak terperanjat ketika dia mengutip salah satu paragraf dari karya seorang pakar manajemen (Rhenald Kasali) dalam tulisannya di medsos. Tapi, kalau yang dia cari adalah meaning, kenapa yang diamalkan dalam tulisan-tulisannya selalu saja menebar kebencian dan kedengkian kepada pemerintah yang notabene adalah pilihan mayoritas rakyat.

Kalau soal mencari nilai-nilai, saya pun menjalankannya selama beberapa tahun ini, khususnya mengguratkan karya-karya tulis (literasi) untuk proses pencerdasan dan pendewasaan rakyat Banten. Tapi jika memang yang dicari adalah sama dengan saya (meaning), mengapa pengamalannya justru bertolak-belakang dengan cara-cara yang saya amalkan. Apakah mungkin melalui meaning itu akan tercapai kesuksesan yang mulia dan berkah, jika diamalkan dengan menebar kebencian dan kedengkian (hoax)?

Menurut saya, budaya frontal yang dipraktikkan Jonru (juga dianut oleh sebagian masyarakat kita) tidak identik dengan budaya Jawa, Sunda maupun Nusantara. Tapi lebih terpengaruh oleh corak kebebasan ekspresi ala Barat atau Timur-Tengah (Arab). Oleh karena itu, jika memang benar bahwa yang diinginkannya bukan uang dan popularitas, tentu saja dia sedang mencari tujuan lainnya, yakni ideologi. Barangkali ada alasan ideologis yang membuatnya begitu getol mengkritik. Bukan mengkritik tapi justru menjelek-jelekkan orang-orang yang terpilih mendampingi Presiden Jokowi. Termasuk Jusuf Kalla, Ibu Susi Pudjiastuti, Moeldoko dan seterusnya.

Dalam hal ini, barangkali pemerintah tak perlu sibuk-sibuk memikirkan cara mengatur bagaimana sebaiknya warga menggunakan media sosial. Mereka cukup bersikap tenang dan kalem saja, tak perlu membuat reaksi berlebihan. Jika mereka berpandangan bahwa hoax dan ujaran kebencian adalah sama bahayanya dengan narkoba, maka cukup ditangani saja orang-orang yang terlibat dalam bisnis hoax dan ujaran kebencian itu secara hukum, persis seperti menangani pelaku transaksi narkoba.

Sumber Kedengkian

Ketika ujaran kebencian dan kedengkian sudah merambah ke ranah politik, maka persoalan utamanya bukan hanya kebodohan dan kedangkalan berpikir, seperti yang banyak disinyalir para penulis akhir-akhir ini. Kita mengenal siapakah wanita yang menyebarkan beberapa figur dalam mata uang baru sebagai “pahlawan kafir”, bahkan menyebarkan adanya lambang PKI dalam mata uang Rp 100 ribu. Dia seorang terpelajar, sarjana S2 di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Begitu mudah orang menjadikan diri pengedar hoax, sebab hoax dianggap lebih menarik ketimbang berita jurnalistik biasa. Namun, bila kita menelisik tokoh-tokoh dalam novel Pikiran Orang Indonesia, sesungguhnya para pembenci itu tak mengenal sejarah dan fakta yang akurat. Para pendengki itu cukup menuruti apa kata mentor (mursyid) yang memberinya arahan dan bimbingan yang dianggap suci dan kudus. Setelah itu, dia rela berkorban menjadi martir yang dapat mengantarkannya sebagai hero dan pahlawan, dengan gelar “mati syahid”. Apakah hal tersebut demi membela bangsa, negara maupun agama. Padahal, siapakah sebenarnya yang berhak menobatkan seorang hamba sebagai “syahid”?

Latar belakang yang menyebabkan delusi atau paranoia itu – menurut para psikolog – merupakan faktor utama seseorang bisa membenci secara berlebihan. Hingga dia menganggap dirinya bukan pahlawan yang banyak beramal apabila tidak berjuang memproduksi dan menyebarkan ujaran kebencian di mana-mana. Tanpa latar belakang kebencian, mereka tidak akan mampu memproduksi ujaran kebencian. Tanpa delusi dan paranoia, orang tidak akan punya hati untuk terus-menerus memproduksi berita-berita palsu yang menyuburkan pertikaian dan permusuhan, bahkan menghasut hingga menimbulkan perpecahan dan disintegrasi bangsa.

Bijak Menyikapi Hoax

Kita mengenal Jenni Haukio sebagai Ibu Negara Finlandia yang pernah bertandang ke Jakarta untuk menemui para penulis dan penggerak literasi di Indonesia. Pada suatu hari, wajahnya yang anggun itu dimanfaatkan oleh para penyebar hoax sebagai bintang iklan online yang menjual krim anti kerut dan flek pada wajah. Fotonya terpampang jelas bersama tulisan yang seakan-akan muncul dari mulutnya: "Krim ini mengembalikan kulit wajah saya ke warna alaminya hanya dalam dua minggu.”

Barangkali orang Banten punya imej bahwa Ibu Negara itu akan mencak-mencak kalang-kabut tak keruan. Barangkali orang Banten akan berpendapat, Ibu Negara itu akan marah besar, karena disebarkan sebagai bintang iklan yang tak sesuai kapasitas dan juntrungannya. Barangkali orang Banten menganggap Ibu Negara itu akan marah dan teriak-teriak menuntut keadilan lantaran diperlakukan semena-mena, serta menyuruh kepala kepolisian untuk segera menangkap pembuat iklan hidup-hidup. Boleh jadi ada yang berkomentar sok religius: “Bertobatlah, ingatlah akhirat… solatlah sebelum disolatkan…!”

Ternyata sang Ibu Negara tidak bereaksi frontal seperti itu. Mungkin pembaca ingin tahu bagaimana reaksi Jenni Haukio ketika diwawancarai kalangan wartawan? Justru beliau hanya mengangkat bahu sambil tersenyum. Semua wartawan mengerti bahwa jawaban simpel itu menunjukkan bahwa dirinya tidak ada sangkut-pautnya dengan iklan bohong itu. Dalam beberapa minggu kemudian, iklan hoax itu menguap bagaikan asap beterbangan. Tidak ada komentar dan tanggapan apapun. Bahkan pernyataan resmi dari kantor kepresidenan juga biasa-biasa saja. Hanya senyum dikulum. Dan Ibu Negara pun merasa tak perlu memberikan komentar lebih lanjut.

Mungkin sebaiknya seperti itu kiat-kiat paling jitu dalam menyikapi hoax. Sabar, tenang dan kalem saja. Jangan gampang terprovokasi dengan balas mengomentari secara berlebihan. Sebagai hoax, iklan kosemtik itu memang tidak berdampak apa-apa, sama sekali tidak membahayakan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Meskipun secara pribadi saya sepakat, apabila menghadapi para agitator dan propagandis yang merongrong kesatuan dan persatuan bangsa (seperti Jonru), sebaiknya memang ditangani secara hukum. Seperti halnya aparat negara menangani para pengedar narkoba yang cenderung mencandu dan mewabah bagi kehidupan masyarakat kita. Di sisi lain, pihak pemerintah perlu menyikapi berbagai reaksi masyarakat secara bijak dan legowo. Karena memang, tidak mudah kita mengajak masyarakat untuk serta-merta mampu mengendalikan pikiran dan mengelola perasaannya.

Menggunakan akal sehat dan mengelola emosi adalah aktivitas yang sangat sulit dan berat. Terlebih bangsa ini – seperti yang disinyalir para sastrawan muda – boleh jadi memerlukan waktu puluhan tahun lagi untuk bangkit dari puing-puing reruntuhan rezim politik militerisme yang pernah berjaya sejak tahun 1965 lalu. (*)

Penulis Guru dan pemerhati pendidikan Banten.

Redaktur: Fahdi Khalid
Bagikan:

LAINNYA

New Normal: Revolusi Gaya Hidup
Jumat, 26 Jun 2020 | 18:39 WIB
New Normal: Revolusi Gaya Hidup
Uniknya Punya Istri Orang Sunda
Sabtu, 06 Jun 2020 | 15:04 WIB
Uniknya Punya Istri Orang Sunda
Covid-19 Hingga Musim Haji..
Jumat, 29 Mei 2020 | 20:51 WIB
Covid-19 Hingga Musim Haji..
Jadilah Pribadi yang Pemaaf 
Selasa, 19 Mei 2020 | 21:11 WIB
Jadilah Pribadi yang Pemaaf 

KOMENTAR

Apa yang Dicari Pendengki?

BERITA TERKAIT

PEMERINTAHAN

68 dibaca
Rakor, Pjs Bupati Serang Fokus Penanganan Covid-19
175 dibaca
Wagub Andika Lantik Pjs Bupati Serang dan Pandeglang

POLITIK

20 dibaca
Uji Publik DPS, KPU Kabupaten Serang Pastikan DPT Bakal Bertambah
305 dibaca
Dapat Nomor Urut 1, Tatu-Pandji Siap Tuntaskan Pembangunan
201 dibaca
Terapkan Prokes Covid, KPU Tetapkan Nomor Urut Paslon Bupati dan Wabup Serang

HUKUM & KRIMINAL

170 dibaca
Polres Serang Ringkus Dua Pelaku Penggelapan Ribuan Sepatu Ekspor
88 dibaca
Dua Gadis ABG Digilir Tujuh Pemuda

PERISTIWA

277 dibaca
Curi Kotak Amal, TSP jadi Bulan-bulanan Warga
447 dibaca
Razia Prokes, Gugus Tugas Kabupaten Serang Sanksi Puluhan Pelanggar

EKONOMI & BISNIS

134 dibaca
Dukung Ketahanan Pangan, Polda Banten PT. IP Budidaya Ikan
Top