Kamis, 21 Januari 2021

Akal Sehat dan Kekuatan Sastra

[foto ilustrasi]
Selasa, 11 Des 2018 | 16:57 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Habib M

Penulis Guru dan Pemerhati Pendidikan Banten

Rendahnya kualitas budaya suatu daerah, akan membuat bahasa masyarakat cenderung sarkastis. Sementara bangsa-bangsa yang memahami seluk-beluk bahasa sastra, dengan pendekatan etika dan humanisme, seakan berhak bagi mereka untuk maju dan memiliki peradaban tinggi. Bukankah indikator bangsa yang besar identik dengan tingginya kualitas kebudayaan di negeri tersebut?

Dalam filsafat idealisme Hegel, tiga unsur pokok pemikiran manusia mesti dipegang-teguh, yakni kualitas kebenaran (logika), nilai-nilai kebaikan (etika), dan keindahan (estetika). Generasi melek sastra yang mencerminkan kualitas budaya bangsa, seakan dilumpuhkan di sepanjang rezim militerisme Orde Baru. Sehingga anak-anak muda zaman now seakan merasa haus dari pola pikir sastrawi. Karena itu, kita bisa memahami ketika seorang psikolog dan pakar linguistik, Thomas Lickona (1992) menegaskan bahwa indikator kerusakan budaya bangsa adalah penggunaan kata-kata yang buruk (bad language).

Saat ini, banyak akademisi dan budayawan merasa cemas karena rendahnya kualitas pendidikan sastra di tingkat rumah-tangga, pelajar, hingga ke tingkat kampus perguruan tinggi. Budaya mendongeng, membaca, menulis, dan mendiskusikan karya sastra harus dihidupkan dalam ruang-ruang kelas maupun keluarga. Semakin bagus keluarga dalam berucap dan berkomunikasi, semakin terampil anak-anak bangsa memanfaatkan kata-kata dalam berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Sebaliknya, jika sehari-hari orang tua memberikan teladan dalam berbahasa buruk, kasar, dan kotor, para anak-didik akan mudah mengadopsi pola berbahasa yang dipakai oleh orang tuanya.

Karena itu, keluarga-keluarga Banten harus menjamin gizi sastra bagi perkembangan otak dan pikiran anak-anak didik, dari hal-hal yang sederhana, kemudian terus meningkat pada nilai dan kualitas sastra yang bertaraf tinggi. Orangtua bisa mempraktikkannya dengan membiasakan membaca dan menulis karya sastra. Anak-anak harus dikenalkan ilmu sastra, karya sastra, bahasa sastra, sastrawan nasional dan daerahnya, kritik dan apresiasi sastra, sampai pada tingkat metafora.

Masyarakat melek sastra

Beberapa waktu lalu, setelah peluncuran novel Pikiran Orang Indonesia (POI) di pesantren Al-Bayan, Banten, saya sempat menghadiri langsung gerakan inisiatif yang mendorong peran sekolah dan pesantren, untuk meningkatkan minat baca di tengah masyarakat. Saat itu, Greg Moriarty selaku duta besar Australia sempat berkunjung di pesantren Al-Bayan. Ia memberikan sambutan langsung di hadapan para santri Al-Bayan, akademisi dan intelektual Banten, serta menegaskan pentingnya para pelajar Indonesia memahami kualitas sastra dengan baik.

Di kalangan santri dan pelajar, beserta para orang tua mereka, Moriarty menegaskan bahwa dunia sastra akan membuka wawasan mereka, hingga mampu membumikan keluarga sastra sebagai roh dalam mendidik anak melek sastra dan berbahasa santun. Tidak ada tempat yang paling layak menentukan bahasa yang arif bagi anak-didik selain keluarga di rumah. Apa saja sistem komunikasi dan gaya bahasa dalam keluarga sangat menentukan bahasa, budaya, dan karakter mereka. Apalagi, bahasa sastra memiliki kekuatan magis yang bisa menyugesti memori anak-didik.

Di sisi lain, bacaan sastra berkualitas, menjadikan anak-anak Indonesia terdorong mengembangkan karakter dan kualitas kecerdasannya, mengasah nalar dan akal sehatnya. Dengan kemampuan imajinasinya, anak-anak Banten akan melejit melampaui zamannya, jika dibiasakan membaca buku berkualitas, kemudian mampu mengarang, mengilustrasikan, serta mengelaborasi hasil bacaannya.

Selain itu, fungsi sastra tak lepas dari pola untuk penguatan pengalaman batin bagi anak dan keluarga Banten. Saya pribadi sebagai warga Banten, termasuk para penulis dan intelektual pada umumnya, kurang menguasai sejauhmana pemimpin seperti Wahidin dan Hazrumy punya kesanggupan untuk mengendus masalah yang amat urgen dan krusial ini. Menelusuri pengalaman sejarah dunia dari zaman ke zaman, terbukti tetap valid hingga hari ini, bahwa sastra akan sanggup menguatkan peran keluarga untuk membentengi generasi muda dari bahaya laten di era milenial ini. Mulai ancaman laten hate speech (ujaran kebencian), cyberbullying (perundungan siber), dan bad language (bahasa kotor). Mempelajari sastra sangat mendukung akselerasi intelektualitas, imajinasi, karakter, kearifan dan kesantunan anak dalam berperilaku, bersikap, dan dengan sendirinya, berakhlaqul karimah.

Pencapaian pendidikan sastra

Wujud dari pendidikan sastra harus berorientasi pada produk karya sastra. Selain anak-didik untuk memahami karya-karya besar dunia, mereka juga perlu diajak mengarsipkan karya sastranya dalam bentuk kliping dan buku. Jika sejak kecil mereka sudah rajin menulis karya sastra, mampu memilih karya sastra yang baik, maka generasi berbudaya, beradab, santun, dan berkarakter, tidak hanya dalam impian belaka.

Bagaimanapun, dunia sastra – tak terkecuali di Banten – adalah roh keindahan dan kesantunan bagi anak-didik. Ia memang bukan segalanya, tetapi segalanya bisa berawal dari sastra. Sedikit mengulas novel POI yang semakin hangat menjadi perbincangan publik di harian nasional Kompas,  khususnya mengenai unsur intrinsik dan ekstrinsik dari penulisnya (Hafis Azhari) yang memiliki latar belakang pendidikan filsafat di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Pewartaan novel POI tak lepas dari kehidupan kaum jurnalis. Tarik-menarik kekuatan kubu yang saling berseberangan di pentas politik modern, telah ditampilkan secara bijak dan transparan, hingga membuat pembaca tidak kehilangan bagian-bagian penting yang merupakan substansi dari ilmu sastra dan politik itu sendiri. Orang-orang gagal di dunia politik tidak dikemas sebagai figur yang “sakit hati”, tetapi merupakan bagian dari psikologi manusia Indonesia yang terus berproses untuk menemukan kedewasaan dan jati dirinya.

Dalam perspektif lain, novel tersebut mengajak semua pihak agar berhati-hati menjalani dunia politik di negeri ini, apalagi bagi mereka yang tega mempraktikkan politik kotor terhadap kaum jurnalis dan wartawan. Munculnya para intelektual dan budayawan muda di era milenial ini, merupakan mata rantai tak terpisahkan dari realitas kebesaran pujangga kita di masalalu. Sebagaimana ungkapan-ungkapan filosofis dalam novel POI, yang mengungkap kehidupan para politisi yang polos dan lugu, yang – apabila tidak diberi peringatan oleh rambu-rambu moral dan religiositas – mereka akan kebablasan terjun dalam kancah lembah hitam yang membuat politisi itu bisa terjerat ke dalam jaring-jaring ciptaannya sendiri.

Novel POI mampu menunjukkan keunikannya dalam tren sastra modern Indonesia, serta berusaha mencari solusi terbaik dari suatu kejatuhan agar terus bermetamorfosa mencari sintesis hingga mencerahkan peradaban baru Indonesia. Oleh karena itu, kita sebagai warga Banten, tidak cukup dengan tersenyum menyaksikan puing-puing reruntuhan budaya dan peradaban yang sedang berjalan, tetapi selaiknya bertanya dan menggugat diri sendiri: jadi, kita mau berkembang seperti apa, lalu menuju kemajuan ke arah mana?

Novel POI mencoba menarik benang-benang merah untuk menjaga nilai-nilai religiusitas dengan baik. Tampilnya tokoh “Mang Udin” dan “Kakek Pramudya” adalah simbol dari sang mursyid atau pembimbing ke arah kebenaran dari lika-liku perjalanan hidup manusia yang kadang tersesat, salah, maupun keliru. Tidak lupa pula, tokoh rohaniwan dan ulama Abdurrahman Wahid dan Y.B. Mangunwijaya yang membela perjuangan jurnalis dan wartawan, semakin memperkaya khazanah keilmuwan dan kekayaan religiusitas dalam kehidupan berbangsa kita.

Kita pun mengenal ucapan orang-orang bijak, bahwa karya sastra yang ditulis berdasarkan hati nurani, akan mudah dinikmati para pembaca yang menggunakan akal sehat, dan hati nuraninya dengan baik. *

Bagikan:

LAINNYA

Salah Kita Sendiri
Selasa, 19 Jan 2021 | 09:39 WIB
Salah Kita Sendiri
Lagi-lagi Soal Kiamat
Selasa, 12 Jan 2021 | 17:09 WIB
Lagi-lagi Soal Kiamat
Bukan Sastra Pendendam
Jumat, 08 Jan 2021 | 22:41 WIB
Bukan Sastra Pendendam
Cerpen Supadilah Iskandar: Kang Kandar
Senin, 04 Jan 2021 | 15:25 WIB
Cerpen Supadilah Iskandar: Kang Kandar

KOMENTAR

Akal Sehat dan Kekuatan Sastra

INILAH BANTEN

63 dibaca
Brimob Polda Banten, Siap Antisipasi Penanggulangan Bencana
100 dibaca
HPN 2021 SMSI Sumbang Jalan dan Sarana Sanitasi

INILAH SERANG

29 dibaca
HPN 2021, SMSI Tuntaskan Bangun Jalan dan Sanitasi untuk Masyarakat
66 dibaca
11 Kali Beraksi, 5 Pelaku Spesialis Bobol Minimarket Diringkus

HUKUM & KRIMINAL

66 dibaca
11 Kali Beraksi, 5 Pelaku Spesialis Bobol Minimarket Diringkus
309 dibaca
Sedang Tidur, Pengedar Sabu Ditangkap Dirumahnya

POLITIK

97 dibaca
KPU Pandeglang Siapkan Materi Gugatan di MK
115 dibaca
Sekda: Pelantikan Bupati-Wakil Bupati Serang Diharap 17 Februari

PENDIDIKAN

151 dibaca
Nadiem Makarim Bicara Korban Sriwijaya Air
280 dibaca
Tenaga Pengajar Berstatus ASN di Pandeglang Masih Minim
Top