Minggu, 17 Februari 2019

Agama dan Kemajuan Peradaban

[foto ilustrasi/net]
Selasa, 29 Jan 2019 | 17:38 WIB - Suara Pembaca

Oleh:Enzen Okta Rifa’i

Penulis Alumni Ponpes Al-Bayan, studi S1 di International University of Africa, Republik Sudan

“Beragama tanpa akal, dari zaman ke zaman, tak pernah punya kontribusi yang berarti bagi kemajuan peradaban bangsa.”

Selama beberapa tahun terakhir ini, tingkat kompetensi dan kecerdasan manusia Indonesia ternyata masih di peringkat ke-121 (dari 185 negara). Ketidakberdayaan Indonesia di tingkat internasional sebagian ditentukan oleh kapasitas sumber daya manusia yang sangat rendah. Dalam kondisi seperti itu, masih saja ada calon penguasa yang berambisi menunggangi kaum konservatif yang cenderung ortodoks dalam wawasan beragama.

Padahal, kunci kemajuan Uni Emirat Arab dan Qatar justru pada kualitas SDM-nya, serta keseriusan mereka untuk memberantas korupsi secara internal. Sama halnya dengan kebesaran Cina yang berhasil memajukan tingkat perekonomiannya. Mereka terampil melakukan investasi besar-besaran di dunia pendidikan, hingga kemajuan itu kemudian merambah pada teknologi ruang angkasa, olahraga, hingga kelautan.

Lalu, bagaimana andil agama dalam proses perkembangan dan kemajuan suatu bangsa? Saya kira, agama yang masih terpaku pada ortodoksi yang konservatif sama sekali tidak punya peran yang berarti bagi kemajuan peradaban bangsa, malah hanya akan menjadi penghalang yang merecoki jalannya pintu kemajuan. Ekonomi dan politik di era post-modern ini bagaikan dua sisi dari satu mata uang yang sama. Sampai detik ini, Indonesia masih saja terperangkap dalam kelompok negara berpendapatan menengah ke bawah, dan sulit mengangkat dirinya menjadi bangsa yang berpendapatan menengah ke atas.

Di Banten saja, lebih dari 4.000 pesantren terdaftar di kementerian agama, tetapi ketika yang diajarkan kepada anak-didik hanya sebatas kitab-kitab klasik (kitab kuning) dengan pola penyampaian monolog antara guru dan murid, rasanya sulit memunculkan generasi muda yang sanggup melaju dalam kancah persaingan global. Pemahaman agama yang ortodoks, seakan hanya berfungsi sebagai tambal sulam yang membius penganutnya agar terhibur pada jaminan surga di akhirat kelak.  

Di sisi lain, menjelang perhelatan akbar pemilu pada April mendatang, kita melihat banyak politisi-politisi yang sibuk bermain akrobat untuk memenangkan hati rakyat dan merebut kekuasaan. Motivasi dasarnya seakan hanya untuk memenangkan kepentingan pribadi dan kelompok, bukan memperjuangkan kepentingan rakyat. Pesona citra menjadi lebih dominan ketimbang kemampuan dan integritas pribadi. Tidak ada pertarungan ideologis, melainkan hanya sibuk pada urusan logistik, penampilan, dan persaingan menebar kabar burung (hoaks). Padahal, rakyat sudah semakin cerdas untuk memilih pemimpin yang walaupun tidak sesuci para nabi, tetapi paling tidak, lebih mendekati kebenaran akan harapan rakyat banyak.

Yang menjadi persoalan perihal kas negara yang semakin terkuras oleh politik transaksional. Banyak motivasi dari calon anggota legislatif hanya demi kepentingan ekonomi dan kekuasaan, tetapi minim kompetensi dan integritas. Penempatan pejabat tinggi pada posisi strategis juga menjadi taruhan yang sangat berat apabila minim kompetensi dan integritas. Sementara, demokrasi kita baru sebatas menghasilkan pemimpin yang siap maju, tetapi belum siap mundur. Ada kepala daerah yang tertangkap KPK karena kasus suap dan korupsi, tetapi bersikukuh merasa tak bersalah, merasa suci dan bersih dari segala noda dan dosa. Padahal, yang namanya manusia itu justru tak luput dari salah dan dosa.

Ada pejabat tinggi – karena kasus korupsi – ngotot menjabat dari dalam penjara, bahkan merasa sok pahlawan perlu dilantik di dalam tahanan. Ia mengabaikan perasaan rakyat yang butuh pemimpin benar dan bersih. Tangis air matanya hanya perlu menangisi diri sendiri, tetapi tak mampu menangisi penderitaan rakyat. Kualitas politisi semacam itu, tidak akan mampu mengumpulkan kekuatan moril sebagai badan legislatif untuk menjadi penyambung lidah rakyat. Tidak menutup kemungkinan, masih banyak terjadi kejahatan birokrasi yang sengaja membuat celah untuk praktik-praktik politik yang culas dan kotor, tanpa efisiensi dan akuntabilitas yang memadai.

Pejabat-pejabat tinggi yang korup juga tidak segan berlindung di balik peran tokoh-tokoh agama, agar selamat dari jeratan hukum. Bukan untuk mengakui kesalahannya, lalu bertobat dengan tobat yang sebenar-benarnya (taubat an-nashuha). Persoalan korupsi ini seakan tidak ada matinya, malah turun ke para ahli warisnya yang berlomba tampil sebagai politisi-politisi muda. Dengan demikian muncullah istilah “dinasti para koruptor”, sampai-sampai bapak moyangnya tertangkap, kemudian turun ke anaknya tertangkap juga dalam kasus yang sama.

Selain menjadi politisi, banyak anak-anak muda yang merambah mencari peruntungan karir di dunia tabligh dan dakwah. Puluhan siaran televisi lokal dan nasional menampilkan acara-acara tabligh dari pagi hingga siang hari. Tak ada masalah dengan semuanya itu, baik-baik saja, meskipun banyak di antara mubalig itu yang tak tahu menahu bahwa dirinya telah dibiayai oleh iklan-iklan perdagangan dari produk Cina dan Korea, yakni negeri-negeri yang mereka dakwahkan sebagai non-muslim yang ”kafir”.

Ironis sekali, selama beberapa dasawarsa bangsa kita benar-benar keok dan kalah berdagang di pelataran negeri sendiri. Tekanan defisit neraca perdagangan, membuat rupiah terus melemah dari waktu ke waktu. Impor lebih besar daripada ekspor, belanja negara lebih besar ketimbang pendapatannya. Saat ini, banyak koruptor yang tertangkap KPK dengan barang bukti mata uang asing. Itu artinya, para koruptor kita dibiarkan berlenggang kangkung melakukan transaksi dengan mata uang asing.

Sebelum dijajah oleh Belanda, selama hampir 200 tahun, Indonesia sebenarnya dikuasai oleh VOC, sebuah kongsi dagang Hindia Timur. Setelah merdeka, pertumbuhan tinggi ekonomi Indonesia yang dibangga-banggakan lebih ditopang konsumsi domestik dan ekspor bahan mentah. Dalam kerangka perdagangan bebas, eksploitasi sumber daya alam terlampau liberal di era reformasi. Sampai-sampai dengan Singapura saja, negeri tanpa sumber daya alam, hubungan dagang kita defisit anjlok. Bahkan, urutan Indonesia sebagai negara eksportir jauh di bawah negeri kecil yang jadi mitra kental kapitalis Barat. Kepentingan ekonomi Indonesia dan kekuatan rupiah ditentukan dari salah satu pusat keuangan dunia itu.

Sekali lagi, penting untuk ditegaskan bahwa, ketidakberdayaan Indonesia di tingkat internasional sebagian besar ditentukan oleh kapasitas manusianya. Sumber daya manusia kita perlu ditingkatkan. Jangan sampai Banten, yang notabene provinsi seribu wali ini – yang pesantrennya ribuan ini – hanya bergantung pada negeri-negeri non-muslim yang kualitas SDM-nya bagus, dan tingkat kompetensi rakyatnya cemerlang.

Di sisi lain, kualitas dakwah dan tabligh harus ditingkatkan dalam kerangka mencerdaskan dan mendewasakan rakyat Banten. Bukan malah menjadi bumerang yang menghambat perkembangan dan kemajuan peradaban kita. Jika demikian halnya, fungsi agama tidak membawa maslahat untuk berperan sebagai akal yang kian mempermudah urusan kehidupan bermasyarakat. Padahal, Rasul menegaskan bahwa agama adalah akal. Bukan seorang agamis yang baik, kalau kerjaannya cuma taklid dan meniru belaka, tanpa mengoptimalkan fungsi akal yang dianugerahkan Allah dengan sebaik-baiknya. ***

Bagikan:

LAINNYA

Ruang Publik dan Kampanye Politik
Selasa, 22 Jan 2019 | 15:12 WIB
Ruang Publik dan Kampanye Politik
Umroh Santri Al-Bayan
Senin, 21 Jan 2019 | 13:11 WIB
Umroh Santri Al-Bayan
Kisah Kematian Sang Koruptor
Jumat, 18 Jan 2019 | 22:30 WIB
Kisah Kematian Sang Koruptor
Perihal Caleg Karbitan
Rabu, 16 Jan 2019 | 17:33 WIB
Perihal Caleg Karbitan

KOMENTAR

Agama dan Kemajuan Peradaban

PEMERINTAHAN

512 dibaca
Ketua dan Pengurus PPDI Kecamatan Jawilan Dilantik
401 dibaca
Tahun Ini, Dana Desa Pemprov Banten Tembus Rp61,9 Miliar
301 dibaca
Dihadapan Kades se-Lebak, Andika Beberkan Prioritas Penggunaan Dana Desa

POLITIK

341 dibaca
KPU Kabupaten Serang Target Satu Relawan Demokrasi 1000 Pemilih
246 dibaca
Warga Belum Paham Berpartisipasi pada Pemilu 2019
4239 dibaca
Gubernur Banten Wahidin Halim Dilaporkan ke Bawaslu

HUKUM & KRIMINAL

104 dibaca
Buron Curanmor Pingsan Saat Persembunyiannya Digerebag
84 dibaca
Diringkus, Dua dari Enam Bandit Jalanan Ditembak
502 dibaca
BNN Gagalkan Penyelundupan Narkotika di Pelabuhan Bojonegara

PERISTIWA

297 dibaca
Jelang Pemilu, Pejabat Polres Serang Gencar Kunjungi Ponpes dan Ulama
319 dibaca
Suhendar Ditemukan Tak Bernyawa di Kamar Kontrakan

EKONOMI & BISNIS

285 dibaca
Produksi Pangan Kabupaten Serang Surplus dan Aman
277 dibaca
Pencairan Bansos, Dinsos Banten Libatkan Dua Lembaga Perbankan
Top