Minggu, 17 Desember 2017

Negeri Miskin Apresiasi

(foto ilustrasi/net)
Minggu, 08 Okt 2017 | 17:17 WIB - Suara Pembaca

Oleh : Indah Noviariesta

Kita pernah diperkenalkan dengan sebuah film berjudul “The Intern” yang membahas tentang lika-liku generasi millennials. Dalam film tersebut digambarkan bahwa generasi orang tua berusia 70 tahun (dibintangi Robert De Niro) tergolong sebagai generasi pendatang baru. Dalam dunia pendidikan, mereka yang tergolong generasi pendatang di era revolusi digital ini justru adalah para guru dan dosen, ketimbang para pelajar dan mahasiswa yang lebih dulu melek teknologi.

Namun, orang tua bijak yang menghargai pesatnya teknologi informasi akan tetap memanfaatkan pengalaman hidupnya sebagai “guru” yang sangat berharga. Mereka paham bahwa segala aplikasi dan paparan teknologi digital membuat struktur otak anak-anak kian berubah. Informasi mengalir dari mana-mana dan melimpah ruah. Tapi di sisi lain, ada etika dan nilai-nilai yang mesti dijaga dan dihargai, misalnya penghormatan kepada yang lebih tua dan sepuh. Penggambaran film “The Intern” menyibak adanya dekadensi pada generasi millennials, tentang kekeringan dan kegersangan sipiritual, hingga ucapan “terimakasih” pun dapat dilupakan oleh mereka yang terlampau sibuk oleh hiruk-pikuh bisnis dan perdagangan.

Dampak lainnya dari pesatnya revolusi digital ini, seperti yang diutarakan psikolog dan ahli saraf otak manusia, Garry Small (University of California), “Anak-anak yang otaknya banyak menerima input dari teknologi digital ini secara kognitif bisa menjadi superior. Mereka bisa lebih cepat menyerap informasi dan cepat pula mengambil keputusan. Struktur otak mereka berubah menjadi multitasking.” Namun di sisi lain, bila tidak didukung oleh pendamping yang mampu bekerja dengan keikhlasan dan loyalitas tinggi, mereka dapat tergelincir hingga kebablasan dalam upaya mengklasifikasi derasnya informasi yang diserap otak mereka.

Karena itu, patut diapresiasi gerakan di beberapa pesantren dan lembaga pendidikan yang menggunakan sistem pendampingan bagi para pelajar dan santri, agar mereka dapat mencari sumber-sumber informasi mengenai keislaman dan filsafat, baik dari Alquran, hadis Nabi maupun kitab-kitab salafi. Kondisi semacam inilah yang kurang dipahami sebagian pendidik dan pengajar di Banten ini, seolah-olah yang namanya “belajar” itu harus serba serius, fokus, dan seringkali suasananya justru menegangkan dan menakutkan.

Padahal pola berpikir dan berbahasa dari generasi millennials itu sudah jauh berbeda dengan generasi orang tua. Hingga sulit bagi mereka untuk bersikukuh menerapkan sistem pengajaran dengan pola lama. Dalam film “The Intern” digambarkan adanya timbal-balik dan keseimbangan, bahwa selayaknya orang tua harus bijak menyikapi perkembangan zaman yang bergerak supercepat ini. Tapi juga sebaliknya, generasi muda sepantasnya menghargai adanya nilai-nilai kehidupan bahwa bagimanapun, “pengalaman hidup adalah guru yang paling berharga”.

Namun yang seringkali terjadi di sekitaran kita, para guru dan dosen justru sibuk mengajari anak-anak didik dengan pola monolog yang satu arah. Sistem berkhotbah macam itu, seringkali juga dihadapi anak di kehidupan rumah-tangga, ketika menerima instruksi dari orang tua yang terkesan sangat menggurui. Kadang-kadang mereka rewel menyangkut soal rapot atau nilai ujian. Kadang juga sibuk mengomentari prestasi anak dalam soal ranking di kelasnya. Sikap orang tua yang berlebihan itu membuat mental anak-anak menjadi lemah, lantaran budaya pengajaran yang cenderung menghukum dan menghakimi. Tidak jarang mereka sewot dan membodoh-bodohi bila menyangkut hal yang tidak disetujui.

Dalam film “The Intern” kita bisa melihat bagaimana tingginya apresiasi orang tua berusia 70 tahun, terhadap perkembangan teknologi digital yang mesti disyukuri. Secara eksplisit film tersebut bicara tentang nilai solidaritas dan kesetiakawanan sosial yang harus dipertahankan, untuk menjembatani dua generasi yang tumbuh dalam perbedaan kurun dan zaman. Beda dengan orang tua yang merasa pikirannya sudah final, sibuk menghakimi nilai dan prestasi anak-anaknya di sekolah. Ketika nilainya bagus, justru hanya berkomentar, “Ok lumayan, lain kali ditingkatkan lagi.”

Di lingkungan sekolah kerapkali anak-anak yang nilainya bagus justru dikucilkan dan didiskreditkan oleh teman-temannya. Juga kurang adanya apresiasi dan dukungan moril dari para guru. Kita bisa saksikan di layar kaca, berapa banyak anak-anak berprestasi yang justru diledek dan dibully sebagai anak kutu buku dan kurang gaul. Hal inilah yang membuat para orang tua harus pintar mendampingi dan mengapresiasi hasil perjuangan anak-anak mereka.

Jangan sampai mereka tumbuh dan dibesarkan dengan miskin apresiasi, lantaran kebanyakan orang tua memang mudah untuk mengkritik dan menghakimi, tapi sangat pelit untuk menyanjung dan memuji. Seringkali orang tua senang mencari-cari kekurangan tetapi sulit sekali untuk melihat sisi kelebihan mereka. Padahal setiap orang tua tidak ada yang menginginkan anak mereka kelak menjadi tukang ribut dan tengkar, selalu ingin menang sendiri, gemar sikut kiri sikut kanan dan seterusnya.

Kita tidak menghendaki anak-anak tumbuh dan besar secara fisik, namun mentalitasnya seperti anak-anak yang kekurangan gizi dalam hal pengalaman hidup. Kita menghendaki anak-anak didik kita tumbuh dewasa secara kepribadian, karenanya layak diberikan apresiasi bagi segala hal yang menjadi kelebihan dan potensi yang mereka miliki saat ini. (*)

*Penulis adalah alumni Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten

Redaktur: Arif Soleh
Bagikan:

LAINNYA

Aplikasi “Smart City” Lebak
Jumat, 15 Des 2017 | 07:07 WIB
Aplikasi “Smart City” Lebak
Menyoroti Jokowi dan Jurnalis
Senin, 11 Des 2017 | 19:46 WIB
Menyoroti Jokowi dan Jurnalis
Komentar yang Berkualitas
Senin, 11 Des 2017 | 19:27 WIB
Komentar yang Berkualitas
Menjiwai Makna Pesta Demokrasi
Minggu, 10 Des 2017 | 13:00 WIB
Menjiwai Makna Pesta Demokrasi

KOMENTAR

Negeri Miskin Apresiasi

BERITA TERKAIT

POLITIK

241 dibaca
Panwas Lebak Minta KPU Lakukan Penghitungan Ulang
213 dibaca
Pilkada Kota Serang 2018, KPU Minta Ulama Berperan Aktif
260 dibaca
Kader Hanura Tangerang : Kami yang Mundur, atau Supajri yang Diberhentikan

HUKUM & KRIMINAL

134 dibaca
Polres Lebak Amankan Ratusan Botol Miras dan Dua Pasangan Non Muhrim
169 dibaca
Kejari Usut Dugaan Pungli Prona, Irna : Pelaku Harus Dipecat
375 dibaca
Cinta Ditolak, Warga Desa Sukamenak Tega Bunuh Gadis Idamannya

PENDIDIKAN

195 dibaca
Bentuk Karakter, Ratusan Siswa SMKN 2 Rangkasbitung Ikuti Jambore
177 dibaca
Sempat Tertunda, Pelajar NU Tuding Pelaksanan UAS SD Berbau KKN
238 dibaca
Tahun 2018 SMA/SMK Gratis, Pemprov Alokasikan Dana Rp400 M
Top